
Maya datang dengan berlinang air mata sedangkan Rendra yang masih mengenakan jas putih dengan stetoskop menggantung di lehernya berusah mencari tahu keadaan Delilah. Maya memandang Fajrin dengan tatapan tidak suka, Roby memeluk tubuh Maya dengan erat menenangkan hati seorang ibu yang terluka mendapatkan berita anak gadisnya mengalami kecelakaan tunggal.
“bro...... aku balik kantor dulu... Assalamualaikum” ucap Fajrin berpamitan pada Roby sambil memberi isyarat tangan unuk menghubunginya bila perlu bantuan.
“terima kasih..... Wa'alaikumsalam” balas Roby yang masih memeluk mamanya.
Rendra keluar dari IGD mendekati istri dan anaknya.
“kemana Fajrin?” tanya Rendra sambil mencari-cari sosok Fajrin.
“balik ke kantor pa" jawab Roby singkat.
“papa kenapa mencari pria miskin itu...... bagaimana dengan putri kita? Bagaimana keadaannya?” ucap Maya dengan histeris.
“ma...... kalau tidak ada Fajrin.... putri kita tidak akan tertolong..... ada pendarahan di kepala dan sekarang putri kita masih menjalani MRI" Ucap Rendra sedikit kesal.
Setelah menunggu kurang lebih satu jam, dua orang perawat membawa tubuh Delilah yang masih belum sadar memindahkannya di ruang ICU, seorang dokter spesialis syaraf dan seorang dokter spesialis penyakit dalam mendekati Rendra untuk menjelaskan hasil pemeriksaan yang mereka lakukan. Seketika wajah Rendra menjadi pucat membuat Maya bingung melihatnya, begitu juga dengan Roby.
SURENDRA BUILDING
Fajrin terduduk di kursi memandang kertas kalkir kosong, pikirannya tidak dapat bekerja sama dengan tangannya yang sudah gatal ingin menggambar sesuatu.
“pak Fajrin..... permisi ada telepon dari pak Dipta" ucapan Ningsih membuyarkan lamunannya.
“dari siapa?” tanya Fajrin singkat.
“dari pak Dipta, pak" jawab Ningsih malu-malu.
“ya sudah terima saja.... dia calon suami kamu" jawab Fajrin sambil memainkan sebuah pensil gambar.
“tapi ini soal pekerjaan pak..... ningsih tidak paham" ucap Ningsih yang masih mengulurkan tangan kanannya memegang sebuah pesawat telepon wireless pada Fajrin.
Fajrin menerima telepon dari Dipta dan berjalan mendekati jendela kaca memandang langit Jakarta yang berawan.
“Assalamualaikum”salam Fajrin.
“......”
“iya benar.... kenapa?” tanya Fajrin.
“......”
“bang Azkar sepertinya juga sudah tahu” ucap Fajrin tertunduk.
“......”
“tidak perlu...... biarkan saja..... pasti apa yang mereka lakukan sekarang akan ada balasannya.” Ucap Fajrin sambil melihat ningsih yang terlihat jelas sedang memainkan sebuah cincin di jarinya.
“......”
“begitukah? Jadi kapan halalnya?”tanya Fajrin yang ikut senang mendengar kabar bahagia dari Dipta.
“.......”
“Insya ALLAH..... apa papi kamu tahu hal ini?” tanya Fajrin.
“......”
“terserahlah...... yang penting jangan sekali-kali membuat adminku menangis di meja kerja.” Canda Fajrin.
“......”
“terima kasih tawarannya..... kalau aku sudah tidak bisa mengatasi masalah ini.... aku akan menghubungi suami adminku" canda Fajrin sekali lagi membuat Dipta yang di ujung sambungan telepon tertawa bahagia.
“.......”
Fajrin berjalan ke meja Ningsih yang masih memainkan sebuah cincin di jari manisnya.
“Alhamdulillah sebentar lagi halal....” goda Fajrin membuat ningsih terkejut segera berdiri dengan menunduk.
“maaf pak" ucap Ningsih gugup.
“tidak apa-apa..... oya.... apa administrasi Ryan dan yang lainnya sudah selesai?” tanya Fajrin singkat.
“sudah pak.... besok mereka berempat kembali ke kantor ini dan tadi pak muslim sudah menghubungi saya untuk meja gambarnya minta yang dulu" ucap Ningsih sambil menyerahkan beberapa berkas kepindahan empat orang tim Phu Quoc dari kantor cabang ke bagian Fajrin.
Setelah istirahat siang hingga Adzan Azhar Fajrin menghabiskan waktu di taman gedung yang berada tepat dia sebelah ruang rapat para direksi. Mencoba mencari ide baru untuk world hotel dan resort Jaipur, sesekali terlihat jelas Fajrin memijat tengkuknya yang terasa pegal dan penat. Fajrin berjalan dengan kaki telanjang diatas batu-batu pasir yang berada di taman gedung, sesekali menundukkan kepalanya mengamati batu-batu itu dan memungutnya satu untuk sekedar dia mainkan. Apa yang dilakukan Fajrin saat ini sangat menarik perhatian Henri.
“terlihat terpukul sekali kamu..... berat pasti tapi kamu harus bangkit dan menemukan ide yang lebih baik dan memiliki nilai jual lebih tinggi dari yang sebelumnya..... aku yakin kamu pasti bisa..... sifatnya sama seperti woro.... tidak gampang menyerah dan optimis" gumam Henri yang sedang rapat dengan para direksi membahasa masalah desain Fajrin yang sudah di pakai oleh perusahaan lain.
Fajrin mencari-cari informasi tentang suasana Jaipur dan keadaan tanah yang menjadi lokasi pembangunan world hotel dan resort, saat wajahnya terlihat sangat serius hingga terlihat jelas kulit dahi dan kulit di antara kedua alisnya berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu. Tiba-tiba ponselnya berbunyi membuat dia hampir menjatuhkan ponselnya.
“Assalamualaikum” salam Fajrin
“......”
“Ada apa dik?” tanya Fajrin
“......” terlihat jelas wajah Fajrin yang heran dan bingung mendengar cerita Nara.
“dapat dari mana?” tanya Fajrin heran.
“......”
“ooooo...... Alhamdulillah..... kapan sampai?” tanya Fajrin lagi.
“......”
“kenapa?”
“......”
“bisa..... nanti kakak akan titip pesan ke resepsionis kalau ada paket atas nama adik langsung bawa ke ruangan kakak" ucap Fajrin gembira karena satu lagi beban pikirannya terselesaikan.
“.....”
“Wa'alaikumsalam” balas Fajrin sambil memutus sambungan telepon.
Fajrin tersenyum kecil mendapatkan kabar dari adiknya bahwa dia sudah mendapatkan hadiah laptop dari perusahaan teknologi terbesar di Amrik karena melaporkan penemuan celah di sebuah produk yang baru saja mereka luncurkan.
“baru juga semester satu sudah berani mencari-cari celah produk terbaru.... perusahan besar pula" gumam Fajrin sambil tersenyum tipis tersirat jelas rasa bangga.
“kalau sebuah produk yang sudah jadi saja ada celahnya pastilah produk yang belum jadi dan baru berupa desain ada celahnya juga.” Gumam Fajrin dalam hati.
Seketika kedua matanya berbinar-binar karena otaknya menemukan sebuah ide untuk project Jaipur, Fajrin segera melangkah cepat kembali ke ruangannya dan mulai sibuk dengan kertas dan pensil gambar. Ningsih, Irvan dan Cahyo melihat Fajrin dengan heran karena belum pernah mereka melihat orang yang dalam satu hari bisa melawan kekecewaannya dan menemukan ide dalam waktu kurang dari dua belas jam. Fajrin terlihat sangat sibuk menulis menggambar di beberapa kertas dan menempelkannya di sebuah papan kaca, Irvan dan gultom membaca beberapa kertas yang Fajrin tempel di papa kaca seketika mereka saling memandang seperti mencoba menjawab pertanyaan yang muncul di otak mereka.
“pak..... dapat ide ini dari mana?” tanya Irvan dengan heran.
Tanpa menjawab pertanyaan Irvan dengan kata-kata dan melempar sebuah batu yang dia ambil dari taman gedung ke arah Irvan.
“batu??” tanya Gultom heran.
“kalian siap untuk lembur dalam satu minggu ini?” pertanyaan Fajrin mendapat anggukan kepala dari Irvan dan Gultom.
Fajrin dengan bantuan Irvan dan Gultom mulai sibuk dengan kertas kalkir berukuran A1 dan pensil gambar, ada kalanya mereka tertawa karena mendengar cerita Fajrin yang menurutnya akan sangat menarik bila di tuangkan dalam sebuah desain hotel dan resort kali ini. Ningsih sibuk dengan merapikan gulungan kertas kalkir yang sudah di tandai Fajrin untuk di bakar.