My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 97 FAJRIN KEMBALI



Sejak pengakuan Davis hari itu Divya dan Bu Ina tinggal di rumah lama bersama Davis sedangkan rumah yang Divya tempati sebelum ke India di pakai keluarga kecil Dipta dan itu berarti Ditya harus tinggal bersama Divya, Bu Ina dan Davis. Setiap pagi selepas Shubuh Divya selalu meminta Davis menceritakan semua tentang Lydia, Divya tidak pernah bosan mendengar cerita itu tapi tidak dengan Ditya. Ditya bosan setiap hari mendengar cerita yang sama, dan memilih bersenang-senang dengan rekan-rekannya.


“ Divya dari mana kamu bisa selancar ini mengaji? “ tanya Davis yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.


Divya terkejut dan segera mematikan ponselnya.


“ papi...... sejak kapan papi berdiri disini? “ tanya Divya balik.


Antara rasa kuatir dan sedikit rasa takut bila Davis akan melarangnya berhubungan dengan Fajrin. Divya tidak bisa menjawab pertanyaan Davis dan hanya menundukkan kepala dan meremas ponselnya.


“ apa pria itu yang mengajari kamu? “ pertanyaan Davis membuat Divya melihat wajah Davis penuh harap dan penuh pertanyaan.


“ papi..... jangan larang Divya berhubungan dengannya..... Divya mohon..... Divya menyukainya “ ucap Divya dengan penuh harap.


Davis tidak bisa berkata-kata melihat mata Divya yang memohon, karena Davis seperti melihat mata Lydia yang memohon padanya. Davis memeluk dan membelai lembut punggung Divya.


“ bawa pria itu kemari, papi ingin mengenalnya “ bisik Davis bukan membuat Divya senang tapi seketika tubuhnya menjadi kaku.


“ papi..... “ ucap Divya memandang punggung Davis yang sudah berada di pintu.


Ada rasa antara senang juga kuatir bila, Divya tidak mampu memperkirakan kemungkinan yang akan terjadi bila mengajak Fajrin bertemu dengan Davis juga keluarganya. Divya mengirim pesan suara pada Fajrin dan tak menunggu lama Divya mendapat pesan singkat dari Fajrin.


“ pulang hari ini? “ ucap Divya terkejut membaca pesan dari Fajrin.


Divya segera menghubungi Dipta.


“..... “ Divya lega karena sekali dering langsung tersambung.


“ Wa'alaikumsalam.... bang Dipta kemana? “ tanya Divya tidak sabar.


“ ..... “ Divya semakin tidak sabar ingin berbicara dengan Dipta.


“ bisakah aku berbicara dengan abang? “ tanya Divya tidak sabar.


“..... “ Divya menggigit bibir bawahnya karena tidak sabar.


“..... “


“ ....... “ Divya cemberut mendengar respon Dipta yang sedikit terganggu.


“ bang..... tahu nomor penerbangan kak Fajrin tidak? “ tanya Divya semakin tidak sabar.


“...... “ ucapan Dipta membuat Divya menepuk dahinya pelan


“ ..... “


“..... “ ucapan suami istri itu terdengar jelas di telinga Divya.


“...... “ Divya menganggukan kepala dan sadar kalau Ningsih tidak bisa melihat anggukan kepalanya.


“ iya..... tadi aku mengirim pesan suara pada kak Fajrin dan dapat balasan kalau sedang bersiap-siap kembali ke Jakarta “ ucap Divya dengan suara mulai tenang.


“ ..... “


Divya berjalan kesana-kemari tidak sabar menunggu informasi nomor penerbangan Fajrin. Setelah menunggu beberapa detik.


“ ..... “ Divya mencatat nomor penerbangan Fajrin di sebuah kertas kecil dan dia tempel di sembarang tempat.


“ terima kasih kakak ipar yang baik..... Assalamu'allaikum “ salam Divya membuat Ningsih tersenyum kecil.


“ ........“


Divya mematikan ponselnya dan mencoba mengirim pesan kembali tapi hanya mendapat notifikasi pesan terkirim, berkali-kali Divya mengirim pesan dan berkali-kali pula Divya hanya mendapatkan notifikasi pesan terkirim.


“ kenapa tidak di baca pesanku..... harusnya jam segini masih di ruang tunggu “ gumam Divya bingung.


KEDIAMAN DIPTA


“ Assalamu'allaikum Divya “ salam Ningsih yang menerima panggilan telepon Dipta.


“ ..... “ Ningsih tersenyum mendengar nada suara Divya yang tidak sabar.


“ ada di luar sedang berbicara sama Ditya.... ada sesuatu kah? “ tanya Ningsih sambil berjalan mendekati Dipta yang sedang berbicara serius dengan Ditya.


“ ...... “ sekali lagi Ningsih tersenyum mendengar nada suara Divya


“ sebentar ya “ Ningsih masih berjalan mendekati Dipta.


“ mas.... ada telepon dari Divya “ ucap Ningsih sambil menyodorkan ponsel ke depan Dipta.


“ ada apa? Aku sedang berbicara dengan Ditya “ ucap Dipta yang sudah menempelkan telingannya di ponsel yang Ningsih pegang karena kedua tangannya sedang menggendong anaknya yang masih bayi.


“ ..... “ Dipta jengah dengan pertanyaan Divya karena yang tahu hal ini adalah Ningsih.


“ hanya tanya seperti itu saja..... kenapa tidak tanya istri abang? “ ucap Dipta yang sudah menjauhkan telinganya dari ponsel yang Ningsih pegang.


“ Divya tanya apa? “ tanya Ningsih heran.


“ Divya tanya nomor penerbangan bos kamu sayang “ ucapan Dipta terdengar jelas di telinga Divya.


“ ooooo, Divya kamu benar ingin tahu nomor penerbangan pak Fajrin? “ tanya Ningsih untuk meyakinkan diri sendiri.


“ ...... “ Ningsih menggelengkan kepala heran mendengar suara Divya yang tidak sabar.


“ sebentar ya.... aku lihat dulu di catatanku.... seharusnya dua hari lalu sudah kembali ke Jakarta, karena jadwal serah terima gedung di percepat atas permintaan Bu Sonia. Tapi tiba-tiba di undur dengan alasan yang kurang aku tahu “ jelas Ningsih yang sudah masuk ke ruang kerja Dipta dan mencari buku catatannya.


“ MDT609 berangkat dari Indira Gandhi pukul sepuluh waktu setempat “ ucap Ningsih membuat Divya tersenyum lebar penuh kebahagiaan.


“ ..... “


“ Wa'alaikumsalam.... kalau mau bertemu pak Fajrin.... besok pagi saja..... biasanya setelah perjalanan panjang beliau langsung pulang kerumah dan tidak mau di ganggu. “ ucapan Ningsih dan mematikan ponsel Dipta.


INDIRA GANDHI INTERNATIONAL AIRPORT


Fajrin dan yang lain sudah berada di terminal keberangkatan, tim India melepas kepergian mereka dengan hangat termasuk Krishna pimpinan cabang Surendra India.


Fajrin dan timnya mulai mengikuti langkah kaki seorang petugas bandara untuk private jet Sundth Air, karena sudah mendapatkan alokasi waktu penerbangan maka Fajrin dan timnya segera masuk ke pesawat. Penerbangan Sundth Air lebih cepat tiga puluh menit dari informasi Ningsih.


Fajrin mematikan ponselnya tanpa melihat pesan dari Divya, Fajrin dan yang lainnya sudah tidak sabar menghirup udara kota Jakarta. Setelah menempuh penerbangan delapan jam tiga puluh menit tanpa transit, tepat pukul delapan malam waktu jakarta private jet Sundth Air terparkir di hanggar dengan sempurna. Muslim dan Ryan langsung menyalakan ponselnya.


“ kalian ini..... sudah berapa kali naik pesawat “ tegur Fajrin.


Mereka berdua meringis mendengar pertanyaan Fajrin dan mematikan kembali ponselnya.


“ belum juga keluar dari pesawat sudah menyalakan ponsel.... bagaimana kalau tiba-tiba saat ponsel kalian sedang mencari sinyal terus frekuensinya mengganggu frekuensi sistem navigasi pesawat.... terus ada pesawat yang mau mendarat.... kasihan pilotnya tidak bisa komunikasi sama petugas bandara “ ucap Gultom membuat Muslim dan Ryan tertunduk malu.


Tiga buah mobil perusahaan sudah menunggu mereka tidak jauh dari hanggar private jet Sundth Air. Roby sendiri yang menjemput Fajrin.


“ welcome home my friend “ ucap Roby sambil merentangkan kedua tangannya.


Fajrin memeluk Roby sesaat dan berjalan beriringan menuju mobil yang akan mengantarnya pulang.


“ besok kamu harus cerita semua.... kalau tidak mau aku kunci kamu di ruanganku. “ ancam Roby membuat Fajrin tertawa.


Fajrin paham betul maksud Roby.


“ aku sudah rindu sama adik.... antar aku pulang “ ucap Fajrin yang sudah menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


“ rindu adik apa rindu Divya? “ goda Roby dan sukses membuat Fajrin tersenyum.


“ rindu adik..... “ ucap Fajrin sambil tersenyum.


“ aku percaya.... kamu sangat rindu adik.... tapi kata adik ini sedikit ambigu di telingaku “ goda Roby sekali lagi dan membuat mereka berdua tertawa terbahak-bahak.