My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 94 PILIHAN (1)



“ ayo turun..... kita bicara santai di belakang.... sambil menunggu makan pagi siap “ ajak Helen sambil menggendong bayi mereka yang sedang menyusu.


Divya berdiri mengikuti langkah kaki Helen, sementara Azkar masuk ke ruang kerjanya. Helen mengajak Divya berjalan mengelilingi taman belakang kediaman Azkar dengan menggendong bayi.


“ kalau kamu capek.... bilang ya..... kita bisa duduk di sana “ ucap Helen sambil menunjuk beberapa kursi taman yang tidak jauh dari sebuah kolam.


“ ustadzah sudah lama mengenal kak Fajrin? “ pertanyaan Divya yang tiba-tiba membuat Helen menghentikan langkahnya.


“ kalau di bilang lama.... masih lama Roby..... tapi kalau di tanya seberapa banyak saya tahu tentang Fajrin.... mungkin saya lebih banyak tahu tentang Fajrin dari pada Roby. “ ucapan Helen tentu saja membuat Divya semakin bingung.


Divya yang bingung dengan ucapan Helen menatap Helen dalam-dalam mencoba menerka maksud Helen.


“ apa ustadzah dulu pernah suka sama kak Fajrin? “ tanya Divya dengan ragu.


Helen tertawa ringan mendengar pertanyaan polos Divya, membuat Divya semakin heran dan bingung.


“ kalau suka dalam artian seorang wanita mencintai seorang pria rasanya kurang tepat.... tapi kalau suka dalam artian seorang adik menyayangi seorang kakak..... mungkin itu lebih tepat “ ucap Helen sambil melangkahkan kakinya kembali.


Divya tersenyum senang mendengar penjelasan Helen.


KEDIAMAN DAVIS


Sementara di kediaman Davis, pelayan yang biasa keluar masuk kamar Divya masih tidak menyadari bahwa Divya sudah melarikan diri dan pelayan itu tetap melakukan pekerjaannya seperti biasa.


“ apa dia sudah bangun? “ tanya Jason pada pelayan itu.


“ belum tuan..... permisi “ jawab pelayan itu singkat.


Jason berpikir untuk masuk ke dalam kamar Divya tapi dia sedikit ragu. Jason menempelkan daun telinganya ke daun pintu kamar Divya mencoba mendengar suara Divya, tapi Jason sama sekali tidak mendengar suara apa pun.


“ mungkin dia benar-benar masih tidur “ gumam Jason dan melangkah menjauh dari pintu kamar Divya.


Seorang pengawal menyerahkan sebuah amplop pada Jason, Jason membaca sesaat isi amplop tersebut dan segera melangkah ke ruang kerja Davis. Jason mengetuk pintu ruang kerja Davis dan sesaat kemudian masuk.


“ tuan ini ada sedikit informasi tentang Fajrin “ ucap Jason sambil meletakkan amplop di meja kerja Davis.


“ terakhir kali kalian hanya mendapatkan sedikit informasi tentang keluarga dan pendidikannya. Sekarang apa isi amplop ini? “ pertanyaan Davis


membuat Jason mengambil kembali amplop yang dia letakkan di depan Davis.


Jason membuka amplop itu dan membacanya beberapa saat.


“ tuan.... ini “ ucap Jason sambil menyerahkan sebuah foto yang berhasil di ambil oleh seorang penyelidik kepercayaannya.


Davis melihat foto yang Jason letakkan di meja.


“ siapa ini? “ tanya Davis heran.


KEDIAMAN AZKAR


“ pelan-pelan makannya... “ ucap Helen yang melihat Divya sangat lahap menghabiskan menu makan pagi yang di sajikan pelayan Azkar.


“ kamu seperti tidak makan beberapa hari “ ejek Azkar dan berhasil mendapat cubitan di paha kirinya.


“ aduuh..... sakit sayang “ teriak Azkar karena mendapatkan cubitan di paha dari Helen.


Helen mengedipkan kedua kelopak matanya merespon ucapan Askar.


“ Divya heran.... bagaimana bisa bang Azkar yang dulu Divya kenal sangat dingin, cuek dan.... sombong..... tapi sekarang semua itu hilang tidak ada bekasnya sama sekali.... “ ucap Divya sambil meletakkan sendok dan garpu di pinggir piring kosongnya.


“ apa yang mau di sombongkan..... uang banyak.... harta banyak.... perusahaan besar..... ketampanan.... apa lagi? “ Divya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Helen.


Helen tersenyum melihat jawaban Divya tapi tidak bagi Azkar karena semua itu mengingatkan akan sikapnya di masa lalu sebelum mengenal sosok Fajrin juga Helen.


“ uang, harta, perusahaan dalam hitungan detik bisa hilang bila kita tidak amanah dan ketampanan semakin memudar bila usia kita bertambah dan waktu kita disini semakin berkurang. “ Divya semakin sulit mencerna ucapan Helen.


“ sayang.... kamu terlalu tinggi penjelasan kamu.... Divya tidak akan paham hal itu..... beda kalau kamu sedang berbicara sama Fajrin dan adiknya “ ucapan pelan Azkar membuat Divya melihatnya heran.


Helen menatap wajah Azkar dengan gemas dan menangkup kedua pipi Azkar dengan kedua tangannya.


“ bukan saya yang membuat pria ini berubah tapi itu semua pilihannya. “ ucap Helen dan membuat Azkar meringis karena mengingat masa lalu saat berusaha mendapatkan hati Helen.


“ kalian sama saja.... “ ucap Divya dan beranjak pergi ke ruang tengah.


Helen dan Azkar melihat Divya yang beranjak meninggalkan meja makan dengan cemberut. Azkar berjalan mendekati dan duduk tepat di depan Divya sementara Helen membersihkan piring sisa makanan Divya.


“ dulu aku memang dingin, cuek, sombong dengan apa yang sudah aku miliki dan apa yang sudah aku capai..... tapi itu semua tidak ada artinya di hadapan Fajrin juga istriku. Dan saat aku mengenal mereka, semua yang aku miliki saat ini tidak sebanding dengan apa yang sudah Fajrin dan istriku lakukan saat itu. “ jelas Azkar sambil menunjukkan sebuah album foto kenangan masa KKN Helen juga Fajrin.


Divya meraih album tersebut dan melihat satu persatu foto Fajrin juga Helen bersama dengan rekan-rekan kampusnya.


“ hidup itu pilihan..... kamu ingin menjadi orang yang baik di mata orang yang melihatmu atau kamu menjadi orang yang baik di hadapan ALLAH... “ ucapan Helen seketika membuat Divya menatap Helen dengan heran.


“ maksud ustadzah? “ tanya Divya bingung.


“ apa yang kamu dapat saat ini.... saya yakin tidak lepas dari doa dan campur tangan orang tua kamu.... mungkin saat ini kamu merasa apa yang sudah kamu capai saat ini adalah hasil kerja kerasmu, tapi itu semua tidak akan bisa kamu dapatkan tanpa kehendak ALLAH “ sekali lagi ucapan Helen membuat Divya mengingat semua kerja kerasnya hingga menjadi seperti sekarang.


“ saya tidak akan menceritakan tentang sahabat saya Fajrin, kalau kamu belum yakin dengan pilihan yang kamu buat sendiri “ ucapan Helen membuat Divya menatapanya dengan heran.


“ sekarang aku tanya..... apa kamu yakin menyukai mencintai Fajrin? Apa kamu bersedia melakukan apa pun untuk mendapatkan hatinya? “ pertanyaan Azkar membuat kepala Divya mulai emosi.


“ kenapa kalian semua meragukan perasaan Divya pada kak Fajrin? “ ucap Divya dengan nada tinggi tidak terima dengan keraguan Azkar.


“ aku hanya meyakinkan diriku saja.... bahwa wanita di hadapan kami ini benar-benar menyukai mencintai orang yang kami sayangi.... itu saja. Kalau kamu tidak yakin dengan rasa kamu sendiri untuk apa kami menceritakan semua tentang Fajrin? “ ucapan tegas Azkar membuat Divya merinding serasa pertama kali melihat Azkar.