My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 149 FOTO DAN VIDEO



Sejak kejadian hari itu, Davis sibuk menjelaskan kronologi bagaimana akun perbankan mereka bisa di blokir dan juga bagaimana harga saham mereka bisa turun secara perlahan-lahan hingga 10% di bawah harga normal. Juga solusi apa yang Davis lakukan, tentu saja semua kronologi yang Davis jelaskan hanya kebohongan karena tidak mungkin Davis mengatakan yang sebenarnya bahwa ada peretas yang sudah memblokir akun perbankan dan mempermainkan harga saham mereka. Bisa-bisa Davis tidak memilki muka di hadapan para pemegang saham juga para komisaris, Davis juga tidak mengatakan bahwa sumber dari semua masalah ini adalah kedua anaknya Ditya dan Divya. Davis tidak mau nama besar keluarga Lohia menjadi malu dengan perbuatan Ditya, Davis saat ini hanya ingin bagaimana membuat Divya selalu tersenyum dan menjauh dari dunia model.


Divya yang kembali mengunjungi Fajrin di kantor membuat para staff Surendra yang setiap kali bertemu Divya di lobi atau pun lift selalu menatapnya heran dan saling berbisik. Seperti hari ini, hari ke 4 Divya mengujungi Fajrin.


“ sepertinya aku pernah melihat wanita ini.... tapi dimana ya “


“ iya.... aku juga.... tapi di mana ya “


Bisik 2 orang staff Surendra saat keluar dari lift dan berpapasan dengan Divya yang hendak masuk ke lift.


Di dalam lift pun, sosok Divya menjadi bahan ghibah para staff Surendra. Sampai di lantai ruang kerja Fajrin, Divya segera keluar lift sambil merapikan hijab juga pakaian atasan yang dia pakai saat ini.


Para staff yang masih setia bekerja sama dengan Fajrin sudah hapal betul siapa yang mengunjungi Fajrin, begitu juga dengan Yuni admin di bagian Fajrin.


“ hilang sudah kesempatanku untuk mendapatkan pak Fajrin “ gumam Yuni tertunduk saat melihat Divya yang berjalan dengan anggun di depan mejanya.


Gultom yang melihat kegalauan Yuni, pelan-pelan mendekatinya.


“ kamu bukan tipenya pak Fajrin, meski pun kamu tidak pakai hijab.... tetap saja kamu bukan tipenya pak Fajrin. “ ucapan Gultom membuat Yuni melihatnya dengan cemberut.


“ Memangnya pak Gultom tahu siapa wanita tadi? kemarin-kemarin yang kesini wanita seksi dengan pakaian seksi.... tapi sudah 4 hari ini wanita berpakaian tertutup yang mengunjungi pak Fajrin.... “ gerutu Yuni membuat Gultom menahan tawanya.


“ mereka orang yang sama.... hanya penampilannya yang berubah menjadi lebih baik.... dari pada kamu menyesali diri tidak mendapatkan kesempatan mendekati pak Fajrin..... alangkah baiknya kamu membalas rasa pria yang duduk menatapmu dari tadi “ ucap Gultom sambil menunjuk muslim yang melamun menatap Yuni.


Yuni mengikuti arah yang Gultok tunjuk dan sempat membuat muslim salah tingkah.


Sementara di dalam ruangan, Fajrin mencoba menghibur Divya yang terkadang terlihat kesal.


“ ada apa? Kenapa kesal begitu? “ tany Fajrin sambil memeriksa hasil design tim 2.


“ Divya sudah pakai pakaian tertutup.... tapi masih ada saja yang memakai foto Divya untuk iklan editorial. “ gerutu Divya membuat Fajrin tersenyum.


“ para fotografer juga kameraman yang selama ini mengambil gambarmu, tentu saja mereka masih menyimpan rapi file-file gambarmu..... apa sudah mencoba membicarakan hal ini pada Elena? “ ucap Fajrin sambil menggulung kertas kalkir milik tim 2.


“ ayang.... bisa tidak Nara membantu menghapus semua file-file Divya seperti yang Nara lakukan pada bang Ditya? “ tanya Divya yang sudah berdiri di depan Fajrin sambil mengedipkan kedua kelopak matanya untuk merayu Fajrin.


Fajrin berusaha mengindari tatapan mata Divya membuat Fajrin harus bergerak kesana kemari agar tidak menatap wajah Divya, tapi tetap saja Divya mengikutinya dan berusaha menatap wajah Fajrin.


“ bagaimana kalau minta tolong Jason saja.... bukankah dia juga bisa melakukan penelusuran pada server yang Nara pakai? “ saran Fajrin membuat Divya cemberut.


Meski pun Divya sudah hijrah menggunakan hijab seperti yang Fitri ajarkan tapi semua foto-foto juga rekaman video saat Divya masih mengenakan pakaian minim dan terbuka masih bertebaran di media cetak mau pun media elektronik, bahkan meski pun Divya sudah menghapus semua foto dan videonya di halaman sosial media miliknya tetap saja masih banyak orang yang mencari dan menemukan foto-foto dan video lama Divya sebelum hijrah. Sampai menjelang pulang kerja Divya masih saja merayu Fajrin agar meminta tolong Nara untuk membantunya menghapus semua foto dan video dirinya.


Bukan Fajrin tidak mau, tapi Fajrin tidak bisa bila harus meminta Nara untuk melakukan peretasan di berbagai server sekali lagi hanya untuk menutup aib Divya. Selain itu juga untuk memberi efek jera juga pada Divya, bahwa apa yang dulu sudah dia lakukan sebelum hijrah akan tetap bisa di lihat bahkan di simpan oleh orang lain meski pun Divya sudah menghapus foto dan video dirinya di semua halaman sosial medianya.


“ ayang.... jahat.... ayang tidak sayang Divya.... ayang ternyata suka kalau aurat Divya di lihat orang lain “ gerutu Divya yang berjalan di belakang Fajrin sambil berpegang pada ujung jaket Fajrin.


“ bukan ayang tidak sayang Divya.... tapi ayang ingin Divya bisa belajar dari pengalaman bahwa apa pun yang sudah Divya perlihatkan di sosial media atau pun di media cetak meski pun Divya sudah menghapus semua foto dan video itu.... tetap akan ada orang yang berusaha mencari dan mendapatkanya. Mereka akan menyimpan foto dan video itu bisa jadi mereka akan melakukan sedikit halusinasi pada foto atau video itu.... “ jelas Fajrin panjang lebar membuat Divya bingung.


“ bisa jadi orang-orang itu dengan melihat foto atau video itu.... membuat mereka berhalusinasi bisa memeluk mencium membelai bahkan bisa jadi lebih dari itu.... “ Divya bergidik ngeri mendengar detail penjelasan Fajrin.


“ hiiii..... Divya jadi ngeri membayang mereka berhalusinasi tentang Divya. “ ucap Divya sambil beralih berdiri di depan Fajrin yang membukakan pintu mobilnya.


“ makanya.... mulai sekarang jangan lagi memperlihatkan foto atau video diri di media sosial atau apalah.... simpan semua itu untuk diri Divya sendiri.... tak perlu memperlihatkan apa yang sudah Divya lakukan atau apa pun kegiatanmu. “ jelas Fajrin sambil mendorong pelan tubuh Divya agar masuk ke mobil.


“ ayang tidak ke rumah? Ayang mau langsung pulang? Bagaimana kalau makan malam dulu di rumah? “ pinta Divya sambil mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil.


“ malam ini..... ayang akan menginap di restauran Syafril..... karena besok ada acara reuni teman-teman sekelas ayang di restaurannya..... jadi ayang akan pulang sebentar ganti baju bawa pakaian ganti terus ke tempat Syafril.... Divya mau ikut tidur di tempat Syafril? “ pertanyaan Fajrin membuat Divya cemberut.


“ ayang tidak mengajak Divya ke reuni ayang? Ayang malu mengajak Divya..... atau jangan-jangan ayang tidak mengajak Divya karena ingin bertemu mantan ayang.... “ ucap Divya cemberut dan menutup jendela mobil.


Fajrin menarik nafas panjang, tapi saat hendak mengatakan sesuatu tiba-tiba Divya sudah melajukan mobilnya meninggalkan Fajrin yang sedikit kesal karena Divya membuat kesimpulan sendiri.


“ ya sudah.... kirim pesan singkat saja.... besok setelah selesai semua.... aku jemput saja “ ucap Fajrin sambil mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mengirim pesan singkat pada Divya.