
Jamuan makan malam adalah hal yang baru bagi Fajrin dan tim Jakarta, mereka bekerja keras di siang hari untuk menyelesaikan project tepat pada waktunya dan malam hari selepas makan malam mereka akan membuat miniatur project yang mereka kerjakan. Mereka bergantian membuat miniatur tersebut, terkadang mengharuskan Fajrin atau yang lain harus begadang untuk menyelesaikan bagian-bagian dari miniatur tersebut. Bila malam hari mereka begadang menyelesaikan sebuah bagian dari miniatur tersebut maka bisa di pastikan besok pagi mereka akan lanjut tidur setelah sholat Shubuh dan akan berangkat ke lokasi project saat menjelang istirahat siang.
Seperti hari ini, karena semalam Fajrin begadang menyelesaikan beberapa bagian miniatur hingga menjelang Shubuh. Membuat kedua mata Fajrin terasa berat, sehingga Fajrin memutuskan untuk pergi ke lokasi project menjelang istirahat siang. Sementara di lokasi project para tim India dan Jakarta bekerja seperti biasa mengawasi para pekerja supaya tidak terjadi kesalahan sekecil apa pun karena bila terjadi kesalahan atau pun kecelakaan kerja maka bisa di pastikan pekerjaan akan berhenti total untuk beberapa hari dan itu berarti kemungkinan besar target lima belas bulan tidak akan terpenuhi.
Menjelang siang Fajrin terbangun karena ada notifikasi beberapa pesan singkat yang masuk, dengan mata masih terpejam menggunakan tangan kanannya mencari ponselnya yang dia letakkan di nakas dekat ranjang. Kedua mata Fajrin membuka sedikit untuk melihat siapa yang mengirim pesan, tapi karena nomor pengirim pesan tidak tersimpan dalam daftar kontaknya maka Fajrin segera mematikan ponselnya dan kembali melanjutkan tidurnya.
Para tim jakarta mau pun India tidak ada yang berani menghubungi Fajrin mengingat selepas Shubuh Fajrin baru tidur, jadi mereka sengaja membiarkan Fajrin beristirahat di apartemen. Menjelang magrib Fajrin terbangun dan merasakan penat di sekujur tubuhnya, Fajrin melangkah masuk ke kamar mandi untuk berendam dan membersihkan diri. Dengan berendam Fajrin berharap rasa penatnya akan hilang, setelah berendam selama kurang lebih setengah jam Fajrin keluar kamar mandi dan terlihat lebih segar.
Fajrin melihat ponselnya yang berkedip-kedip seperti ada notifikasi pesan masuk, Fajrin meraih ponselnya dan segera membuka notifikasi tersebut. Seketika kedua matanya membulat karena setelah seharian memejamkan matanya, banyak sekali pesan dan panggilan masuk. Fajrin melihat satu per satu panggilan masuk dan ternyata ada dua puluh panggilan tak terjawab dari Roby, sepuluh panggilan tak terjawab dari Syafril dan tiga puluh panggilan dari nomor yang tidak dia kenal dan semua adalah nomor seluler jakarta.
Fajrin membuka satu per satu pesan masuk dan semua adalah pesan dari nomor yang tidak dia kenal, saat hendak menghapus semua pesan dari nomor yang tidak dia kenal tiba-tiba kedua matanya membulat tidak percaya dengan apa yang dia baca di pesan itu. Sebuah pesan dengan kode negara plus sembilan satu, membuat Fajrin berpikir sejenak.
"apakah ini nomor dari sekretaris pak Krishna atau rekan New Delhi? tapi kenapa pesannya menggunakan bahasa Indonesia dan bukan bahasa Inggris?” gumam Fajrin bingung karena tidak mengenal nomor siapa itu.
itu terjadi hanya dalam hitungan beberapa detik karena selanjutnya dia menghapus semua pesan dari nomor tidak dia kenal. Saat hendak menghapus sebuah pesan suara karena Fajrin yakin itu pesan suara Sofia, tiba-tiba Fajrin ingin tahu bagaimana perkembangan Sofia.
“Assalamualaikum kak, maaf Sofi mengganggu kakak.... maaf Sofi tidak bisa membimbing mas Yudha, maafkan orang tua Sofi yang sudah membuat keributan di kantor kakak, maafkan Sofi bila selama ini Sofi hanya menjadi beban kakak. Doakan Sofi kuat menjalani semua ini. “ Fajrin segera mematikan pesan suara itu dan mengirimkannya pada Syafril.
Fajrin sudah berjanji pada Nara bahwa dia tidak akan ikut campur dalam urusan rumah tangga Sofia dan Yudha tapi Fajrin tidak berjanji untuk mencari pengganti Sofia. Saat ini hingga Nara lulus Fajrin berjanji pada dirinya sendiri untuk fokus pada pekerjaannya pada Nara yang akan lebih banyak membutuhkan biaya untuk kelangsungan kuliahnya.
Fajrin sudah bersantai di balkon apartement sambil memandang langit senja kota Jaipur, dengan memejamkan mata Fajrin mencoba menikmati angin sore kota Jaipur. Tiba-tiba pintu unitnya terbuka, Irvan dan Gultom masuk dengan bercanda membuat Fajrin melihat ke arah mereka.
“Assalamualaikum” salam Fajrin membuat mereka berdua terkejut.
“hehehehe..... wa'alaikumsalam pak" balas Irvan malu.
“bagaimana keadaan di lokasi project?” pertanyaan Fajrin membuat bulu kudu Irvan dan Gultom merinding.
“apa kalian menyembunyikan sesuatu? Apa ada masalah di lokasi?” tanya Fajrin yang sudah berdiri dari tempatnya duduk.
“kontruksi aman terkendali pak" jawab Irvan di iringin anggukan kepala oleh Gultom.
“apa ada yang lucu di lokasi sampai kalian tertawa begitu?” pertanyaan Fajrin membuat Irvan semangat untuk bercerita.
“tadi tidak jauh dari lokasi project ada model yang sedang melakukan pengambilan gambar.... dan moment-nya pas kami sedang istirahat siang.... bisa bapak bayangkan wajah Muslim dan Ryan? Mereka hampir tidak berkedip sama sekali" cerita Irvan membuat Fajrin menggelengkan kepala heran mendengar tingkah mereka berdua yang tidak berubah.
“memangnya mereka mengenal siapa model itu sampai melihat tanpa berkedip?” tanya Fajrin sambil menyelesaikan bagian dari miniatur yang mereka buat.
“muslim bilang.... kalau itu model yang sama waktu dia lihat di Phu Quoc" jawab Gultom yang sudah membantu Fajrin menyelesaikan miniatur.
“oooo.... memang dia masih mengingat wajah model itu? Saya saja sudah lupa.” Ucap Fajrin sambil mengarahkan Gultom.
“entahlah pak..... dia bilang seperti itu.... ya kami percaya saja.... kami juga sudah lupa wajah model yang di Phu Quoc seperti apa" ucap Irvan sambil melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
“pak..... kalau nanti kita ke New Delhi dan menginap semalam disana dan hotelnya ada kolam renang..... bisa tidak kita berlibur satu hari saja dan kembali ke Jaipur selepas Ashar.” Pinta Gultom sambil menyerahkan potongan styrofoam ke Fajrin.
“kamu bisa berenang?” tanya Fajrin singkat sambil menempelkan potongan tersebut.
“bisa pak.... boleh ya pak?” pinta Gultom sekali lagi dan mendapatkan anggukan kepala dari Fajrin.
Gultom senang karena bisa berlibur meskipun hanya satu hari saja, mengingat lokasi project ini yang jauh dari area hiburan juga restauran membuat para tim jakarta sedikit bosan dan membutuhkan penyegaran meskipun hanya satu hari saja. Gultom segera mengirim pesan broadcast ke rekan-rekannya bahwa mereka mendapatkan libur satu hari sebelum kembali ke Jaipur. Malam ini Fajrin tidak begadang menyelesaikan miniatur karena malam ini giliran Gultom yang menyelesaikan, Fajrin duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya. Pikirannya terasa kosong dan seperti ada sesuatu yang tidak beres di Jakarta tapi Fajrin tidak tahu apa yang tidak beres di Jakarta, Fajrin mencoba mengirim pesan pada Roby juga satya tapi hanya mendapat notifikasi bahwa pesan sudah masuk dan belum di baca oleh nomor tujuan.
Pikirannya semakin terasa kosong dan membuatnya menjadi tidak sabar menanti pagi supaya dia bisa kembali bekerja di project.