
Jadwal penerbangan Divya kembali ke Jakarta sudah ditentukan bahkan tiket penerbangan sudah ada di tangan Elena. Divya memasukkan semua pakaiannya ke sebuah koper besar dan hanya menyisahkan pakaian yang akan dia dia pakai nanti malam untuk kembali ke Jakarta bersama Liam, sementara Elena dan yang lainnya kembali ke Kualalumpur mereka berpisah Bandara Changi Singapore.
Karena mereka mengambil penerbangan malam, saat ini mereka sedang berada di ruang tunggu menunggu waktu masuk pesawat. Divya masih saja sibuk dengan ponselnya mengirim dan membalas pesan, terkadang senyum manis terulas di bibir Divya. Sudah hal biasa bagi Elena dan yang lainnya bila melihat Divya tersenyum saat mengetik sesuatu di ponselnya. Elena sedikit melirik layar ponsel Divya.
“ Divya..... when your contract is over are you still going to chase Mr. Fajrin (Divya..... bila kontrak kalian selesai apa kamu masih akan mengejar pak Fajrin)? “ pertanyaan Elena membuat Divya menatap elena dengan heran.
“ I will try to make him falling in love only to me.... I love him very much.... even if my dad forbids us.... I won't care about that (aku akan berusaha membuat kak Fajrin mencintaiku.... aku sangat mencintainya.... meski pun nanti papi melarang kami.... aku tidak akan peduli) “ ucapan Divya yang terdengar getir membuat Elena senang juga sedih.
Meski pun Elena senang dan mendukung keputusan Divya untuk mempertahan hubungan ini meski pun kontrak berakhir karena pada akhirnya Divya mau mencintai seseorang, tapi hal ini juga membuat Elena sedih bagaimana dengan perasaan Arbab yang juga mencintai Divya dalam diam.
Elena menarik nafas panjang dan berdiri.
“ let's go home (ayo kita pulang ke rumah) “ ucap Elena yang sudah menenteng tas selempangnya.
Divya dengan cepat mengetik sesuatu dan mengirimkan pesan itu pada Fajrin setelah mendapat notifikasi terkirim, Divya mematikan sinyal data merubahnya menjadi mode terbang. Karena para penumpang tujuan Singapore harus segera masuk ke pesawat.
Penerbangan kali ini yang melakukan pemesanan tiket adalah staff the plug media Kualalumpur. Jadi sebelum mereka terbang menuju bandar udara Changi yang akan menjadi tempat perpisahan mereka, mereka akan transit selama satu jam di bandar udara internasional Bengaluru sehingga total penerbangan dari New Delhi ke Singapore kurang lebih delapan jam lima puluh lima menit.
Divya mengingat pesan Fajrin bahwa meski pun di dalam pesawat tetap harus menjalankan sholat, Divya mengingat-ingat gerakan tayammum yang pernah Fajrin ajarkan. Elena memperhatikan Divya dengan mata tidak percaya karena baru kali ini melihat Divya sholat di dalam pesawat biasanya begitu pesawat take off, Divya akan langsung tertidur hingga pesawat mendarat.
Liam yang duduk sebaris dengan Derek menatap Divya tidak percaya bahwa pengaruh Fajrin begitu besar pada Divya.
“ Mr. Davis will never believe what I'm seeing right now (tuan Davis tidak akan pernah percaya dengan apa yang aku lihat saat ini) “ gumam Liam dalam hati.
Saat mereka transit di bandar udara Bengaluru, Divya menyempatkan mengirim pesan pada Fajrin meski pun Divya tahu bahwa saat ini kemungkinan besar Fajrin masih tidur terlelap.
Tepat pukul empat pagi waktu Singapore mereka mendarat di bandar udara Changi, Liam dan para lelaki mengambil semua koper mereka.
“ fight until you give up.... when you already given up come to Arbab (berjuanglah sampai kamu menyerah.... bila kamu sudah menyerah datanglah pada Arbab) “ ucap Elena sebelum melangkah menjauh dari Divya.
Sedangkan Divya dengan pengawalan Liam kembali ke Jakarta menggunakan pesawat, mereka menunggu jadwal penerbangan yang masih tiga jam lagi. Divya mengajak Liam untuk makan pagi di sebuah restauran di dalam bandara.
“ Liam, are you not going to confess your love to Elena (Liam, apa kamu tidak akan menyatakan cinta pada Elena)? “ Liam tersedak minuman hangat membuat Divya tersenyum tipis.
Liam diam sejenak dan menarik nafas panjang.
“ our distance is very far.... she is the granddaughter of a businessman while I work alone as your bodyguard.... what can I be proud of in front of Ms. Elena's family (jarak kami sangat jauh.... dia cucu seorang pengusaha sedangkan saya hanya seorang diri bekerja sebagai pengawal nona.... apa yang bisa saya banggakan di hadapan keluarga nona Elena). “ ucap Liam menerawang jauh kedepan.
“ no yet declared a love but already give up.... can't you see what I did to brother Fajrin (belum juga menyatakan cinta tapi sudah menyerah.... apa kamu tidak bisa melihat apa yang aku lakukan pada kak Fajrin)? “ ucap Divya yang ikut menerawang jauh ke depan.
“ if you compare me with you, of course it's very hugh different. Even if your daddy doesn't approve of your relationship with Mr. Fajrin, you will still maintain it because Mr. Fajrin has so many advantages that Mr. Fajrin and Ms. can be proud of. But I don't have them wherever I am, I'm just a bodyguard in their eyes. (kalau nona membandingkan saya dengan nona, tentu sangat berbeda jauh. Kalau pun seandainya papi nona tidak menyetujui hubungan nona dengan tuan Fajrin, nona masih tetap akan mempertahankannya karena tuan Fajrin memiliki banyak kelebihan yang bisa tuan Fajrin dan nona banggakan. Tapi saya tidak memiliki itu semua dimana pun saya berada, saya hanya seorang pengawal di mata mereka.) “ ucap Fajrin yang kali ini menundukkan kepalanya.
Divya mencoba menguatkan Liam dan saat hendak menepuk punggung tangan kiri Liam.
“ Miss, don't do that, remember what was Mr. Fajrin's advice (nona jangan lakukan itu, ingat apa nasehat tuan Fajrin) “ ucap Liam saat melihat tangan kanan Divya yang sudah dekat dengan tangan kirinya.
Divya meringis mendengar ucapan Liam.
Makan pagi mereka datang, mereka makan tanpa ada pembicaraan apa pun. Setiap kali Divya hendak berbicara dengan isyarat tangan Liam mengingatkan Divya seperti yang di lakukan Fajrin bila melihat Divya akan berbicara dengan Fajrin.
Tanpa Divya sadari sebenarnya Liam dapat mengingat dengan detail apa saja nasehat Fajrin untuk Divya. Dan Liam sudah berjanji di dalam hati bahwa akan menjaga Divya selama Fajrin masih di India.
Selesai makan pagi mereka menuju ruang tunggu untuk keberangkatan pesawat menuju bandara udara Soekarno Hatta Cengkareng. Tepat pukul delapan lebih lima menit mereka masuk ke pesawat, penerbangan ke Jakarta mereka tempuh dalam waktu satu jam lima puluh menit.
Divya tidak memberitahu kedua abangnya Dipta mau pun Ditya bahwa hari ini dia akan sampai di Jakarta, tapi entah mengapa saat Divya melangkahkan kakinya keluar dari pintu kedatangan internasional. Empat orang pengawal berpakaian serba hitam menunduk saat melihat dirinya keluar dari pintu kedatangan, dan seorang pengawal mengambil alih koper yang Divya tarik.