
Tanpa mereka sadari Roby yang lewat di belakang mereka sedikit mengintip layar ponsel Arief seketika terkejut mendapati foto-foto Divya yang mengenakan pakaian renang super seksi.
“ lagi lihat apa kalian? “ pertanyaan Roby yang tiba-tiba membuat Arief segera mematikan ponselnya.
“ duduk sini “ Rio menarik kursi untuk Roby duduk.
“ berdiri saja.... kalian mau tanya apa? “ tolak Roby dengan halus.
Arief kembali menunjukkan foto-foto tadi pada Roby.
“ apakah ini calon tunangannya Fajrin? “ tanya Rio ingin tahu.
Roby diam sesaat dan terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“ bukan.... hanya mirip saja “ jawab Roby singkat dan berlalu pergi meninggalkan 4 pria yang masih penasaran dengan sosok Divya.
Ke empat pria tadi bukannya kecewa tapi justru semakin ingin tahu sosok Divya, mereka terus saja mengamati Divya dan membandingkan dengan foto di ponsel Arief. Sebenarnya tidak hanya mereka berempat yang mengamati sosok dan membandingkan sosok Divya dengan foto-foto yang mereka dapat di internet, karena jelas-jelas Fajrin menyebut nama lengkah calon tunangannya. Mereka yang merasa pernah melihat Divya semakin ingin mencari tahu foto-foto sosok Divya di internet, Viana yang menatap Fajrin sedari tadi terlihat jengkel juga kecewa. Viana sengaja datang ke acara reuni ini karena mendapat kabar bahwa Fajrin sudah menjadi manager dengan 3 tim design, Viana sangat berharap bahwa Fajrin masih memiliki rasa padanya.
Pelan-pelan Viana mendekati tempat duduk Fajrin yang sibuk berbicara dan bercanda dengan yang lain.
“ hai.... boleh aku ikut bergabung dengan kalian? “ tanya Viana pada Fajrin juga yang lainnya.
“ duduk sini Vi... “ ucap teguh sambil menarik sebuah kursi untuk Viana duduk.
“ kamu sekarang semakin cantik.... “ puji Fatuh sambil menyodorkan makanan kecil.
Viana tersenyum bangga mendengar pujian itu dan membuatnya semakin percaya diri bahwa dia bisa membuat Fajrin melihatnya.
“ Fajrin..... bagaimana kabarmu.... aku dengar dari Roby.... sekarang kamu menjadi manager 3 tim design.... “ ucap Viana mencoba membuka pembicaraan dengan Fajrin.
Fajrin tersenyum menanggapi ucapan Viana.
“ Alhamdulillah mereka mempercayakan posisi itu padaku..... “ ucap Fajrin seperlunya.
Divya melihat kedua mata Viana yang terkesan tidak suka dengan keberadaannya, pelan-pelan memberanikan diri mencubit pinggang Fajrin.
“ aduh.... “ ucap Fajrin sambil melihat Divya.
Dengan isyarat mata Divya mencoba meminta penjelasan Fajrin kenapa Viana menatapnya seperti itu.
“ oooo.... Divya.... kenalkan ini Viana..... Vi..... kenalkan ini Divya calon tunanganku “ ucapan jujur Fajrin membuat Viana tersenyum sinis menatap Divya.
Bukan Fajrin tidak paham tatapan Viana pada Divya, tapi Fajrin lebih memilih mengabaikannya dan mengangkat tangan kanan Divya ke atas meja dengan sengaja. Tangan yang selalu Fajrin genggam dan tentunya tangan Fajrin masih terutup rapat oleh sarung tangan, Fajrin hanya melepaskan genggaman itu saat Divya makan.
“ sebegitu posesifnya.... sampai tidak mau melepas tangan Divya sedetikpun “ ucap Syafril sambil menepuk bahu Fajrin.
“ sayang kalau di lepas.... buat bisa sedekat ini saja susahnya minta ampun..... bagaimana mau lepas “ ucapan Roby yang tiba-tiba membuat Fajrin juga Divya tersipu malu.
Roby tiba-tiba membisikkan sesuatu di teling kanan Fajrin, seketika Fajrin tertunduk dan memijat pelipis kanannya.
“ Bro, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.... “ Fajrin menganggukan kepala membalas ucapan Roby.
“ sebentar aku tinggal kesana dulu... “ ucap Fajrin yang sudah berdiri dari kursi dan mengajak Divya untuk menjauh dari kursi yang mereka duduki.
Fajrin mengajak Divya berdiri di sudut ruangan, Viana dan teman-teman Fajrin yang masih ingin tahu lebih tentang sosok Divya memperhatikan kedekatan Fajrin dengan Divya. Para teman-teman Fajrin yang ingin tahu tentang sosok Divya satu persatu mendekati Syafril juga Roby, mereka mencoba menggali informasi tentang Divya.
“ Divya..... apa kamu belum meminta tolong Jason menghapus semua foto dan video kamu di internet? “ Divya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Fajrin.
Fajrin menarik nafas panjang dan mengeluarkan ponselnya menekan nomor ponsel Telenor milik Nara.
“ ayang...... minta tolong Nara ya... “ ucap Divya sambil menggerak-gerakkan kelopak matanya dengan genit.
“ hmmmmm...... “ jawab Fajrin singkat.
Jari jemari Fajrin mengetik sesuatu untuk mengirim pesan pada Nara karena saat ini di Norwegia masih pukul 6 pagi dan matahari belum terbit.
“ ayang semua ya.... di hapus..... bisa tidak Nara menghapus juga di ponsel atau laptop yang menyimpan foto juga video Divya “ pinta Divya dengan suara manja dan menggerak-gerakan kelopak matanya.
Fajrin melihat sesaat dan kembali menarik nafas panjang.
“ jangan pernah melakukan itu lagi di hadapan siapa pun. “ ucap Fajrin sambil kembali mengetik sesuatu.
“ iya..... Divya hanya melakukan di depan ayang sama papi... “ ucap Divya dengan suara manja.
“ sudah terkirim.... “ ucap Fajrin sambil meraih tangan Divya mengajaknya kembali ke tempat duduk.
Baru beberapa langkah ponsel Fajrin bergetar membuat Fajrin menghentikan langkahnya dan mengeluarkan ponsel. Melihat siapa yang mengirim pesan.
“ done (sudah)....? “ ucap Fajrin heran membaca isi pesan dari Nara.
“ cepat sekali..... apa foto dan video di ponsel dan laptop orang-orang juga sudah di hapus? Ayang tanyakan itu “ rengek Divya membuat Fajrin semakin heran.
“ tumben balasnya hanya 1 kata..... biasanya baik kakakku yang baik hati dan tidak sombong.... “ gumam Fajrin dalam hati.
Fajrin kembali memasukkan ponselnya dan melangkah kembali ke tempat duduk mereka, semua teman-temannya melihat kedatangan Fajrin dan Divya dengan tatapan penuh tanya.
“ Roby cerita apa saja sama kalian? “ tanya Fajrin sambil menarik kursi untuk Divya duduk.
“ tidak..... tidak banyak “ jawab beberapa teman Fajrin hampir bersamaan.
“ kita mau mendengar sendiri dari mulut kamu “ ucap Arief dengan mengedipkan kelopak mata sebelah kiri.
Membuat Divya beringsut di balik lengan kiri Fajrin yang sudah berada di atas meja tepat di depan Divya.
“ apa yang ingin kalian tahu? “ tanya Fajrin tegas.
“ rief.... tunjukkan sama Fajrin apa yang tadi kamu tunjukkan pada kita “ ucap Andre penuh semangat.
“ iya rief..... ayo tunjukkan..... selagi Fajrin mau menjawab pertanyaan kita “ ucap Rio dengan semangat.
“ iya.... sebentar aku tunjukkan..... “ ucap Arief sambil mengeluarkan kembali ponsel dari dalam saku celananya.
Tampak Arief mengeser-geser dan menekan layar ponselnya mencari-cari foto-foto juga video tentang model yang menurutnya wajahnya sama seperti Divya, sementara Viana semakin menatap Divya dengan rasa tidak suka. Selagi menunggu Arief menunjukkan foto juga Video yang Rio dan Andre maksud, Roby berbisik pada Fajrin.
“ sudah “ jawab Fajrin singkat membuat Roby melihatnya dengan tatapan mata tidak percaya.
“ lo..... kok..... tidak ada.... kemana semua foto juga video itu..... tadi aku simpan disini..... disini juga disini..... kenapa sekarang tidak ada “ ucap Arief keheranan.
“ apa yang tidak ada? “ tanya Rio santai.
“ foto dan video model yang tadi aku tunjukkan pada kalian “ ucap Arief yang tangannya masih menggeser-geser layar ponselnya.
“ sebentar aku tunjukkan di ponselku saja “ ucap Danang yang berdiri di belakang Arief.
Ibu jari Danang menggeser-geser layar ponsel seperti yang Arief lakukan, dan terlihat kulit di antara kedua alisnya berkerut.
“ di ponselku juga tidak ada.... kenapa bisa begini ya.... “ ucap Danang heran.
“ coba kalian cari lagi di internet.... kalian pasti lupa menyimpannya “ ucap Rio santai.
Akhirnya semua teman Fajrin termasuk Syafril juga Roby mencari foto juga video Divya di internet tapi semua mendapatkan hasil yang sama, tidak ada satu pun foto mau pun video Divya sebelum berhijab. Roby menepuk bahu Fajrin dan tersenyum tipis.