
Sejak mengajari Divya bagaimana mandi wajib yang sesuai sunnah, Fajrin benar-benar melakukan puasa Nabi Daud. Menurut Fajrin hanya cara inilah yang ampuh menekan rasa itu, Fajrin tidak ingin ***** setan mengendalikan akal sehatnya. Azkar yang tidak bisa memaksa Fajrin untuk menghadiri rapat apa pun bila jadwal rapat itu bertepatan dengan jadwal puasa Nabi Daud Fajrin, dengan terpaksa menyuruh tim lain untuk menghadiri rapat itu yang pada akhirnya project itu tidak berada di bawah tanggung jawab tim Fajrin.
Tak terasa dua hari lagi Divya akan kembali ke Jakarta, Davis sudah sejak pagi tadi sampai di Bangkok dan menginap di tempat yang sama dengan Divya. Hanya Liam yang tahu keberadaan Davis di Bangkok, Divya tidak tahu sama sekali.
“ ayang..... Divya kangen “ suara merajuk Divya membuat Fajrin susah untuk fokus pada gambar desainnya.
“...... sabar..... 2 hari lagi sudah kembali ke Jakarta.” Ucap Fajrin yang sudah melangkah sedikit menjauh dari meja gambar.
“ tapi Divya kangen ayang sekarang “ ucap Divya yang semakin merajuk dan cemberut.
“ ...... iya..... ayang tahu.... tapi ayang bisa apa..... ayang kesana juga tidak mungkin. “ ucap Fajrin mencoba meredakan Divya yang merajuk.
“ ayang kangen Divya tidak? “ tanya Divya ingin tahu.
Fajrin menarik nafas panjang mendengar pertanyaan Divya.
“.... kalau iya.... kenapa? Divya mau kembali ke Jakarta sekarang? “ tanya Fajrin kembali.
Divya melompat-lompat kegirangan mendengar jawaban Fajrin.
“ ayang...... sudah dulu ya.... ada Elena..... Assalamualaikum “ salam Divya.
“..... Wa'alaikumsalam “ balas Fajrin.
Divya mematikan ponselnya dan mendekati Elena yang sudah siap dengan jadwalnya hari ini.
“ today is the last day of this brand photo shoot (hari ini hari terakhir pemotretan brand ini) “ ucap Elena sambil menunjukkan nama brand pakaian yang akan Divya pakai untuk pemotretan hari ini.
“ let's finish as soon as possible.... so that I can quickly return to Jakarta (ayo kita selesaikan secepatnya.... biar aku bisa cepat kembali ke Jakarta) “ ucap Divya sambil meraih tas selempangnya di sofa.
Divya dan Elena berjalan menuju mobil yang akan membawanya ke lokasi pemotretan, sepanjang perjalanan Divya memikirkan akan membeli apa untuk Fajrin.
“ kalau oleh-oleh pakaian branded.... pasti nanti ayang bilang terlalu berlebihan..... kalau makanan kecil.... mana aku tahu halal atau tidak. “ gumam Divya dalam hati.
“ what are you think (apa yang kamu pikirkan)? “ tanya Elena yang melihat Divya dengan curiga.
Divya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Elena.
“ earlier.... when I walked to your villa..... I saw Liam talking to someone and Liam looked down.... do Liam's parents live in Bangkok (tadi.... sewaktu aku berjalan ke villa kamu..... aku melihat Liam berbicara dengan seseorang dan Liam terlihat menunduk.... apa orang tua Liam tinggal di Bangkok)? “ tanya Elena sambil mengingat sosok yang berbicara dengan Liam.
“ what do you mean by changing foster parents (apa maksud kamu dengan berganti-ganti orang tua asuh)? “ tanya Elena heran.
Divya segera sadar dan menutup mulutnya rapat-rapat juga menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Elena.
“ are you hiding something from me about Liam (apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku tentang Liam)? “ tanya Elena sedikit mengintimidasi.
Karena Divya bukan orang yang pandai menyimpan rahasia dari orang-orang terdekatnya, akhirnya Divya menceritakan siapa Liam sebenernya. Hal ini tentu membuat Elena terkejut juga tidak percaya, sedangkan orang yang di bicarakan duduk di kursi depan hanya bisa menarik nafas panjang mendengar nonanya bercerita tentang dirinya pada wanita pujaan hatinya.
Sampai di lokasi pemotretan seperti biasa Divya langung bersiap dengan pakaian yang harus dia kenakan selama pemotretan, Elena bila ada kesempatan mencoba mencuri pandang pada Liam dan bila Liam mengetahui atau pandangan mereka bertabrakan maka Liam akan langsung menunduk. Tapi tidak dengan Elena, dia akan semakin memandang Liam hingga seseorang mengalihkan perhatiannya.
Sebenarnya Divya merasa berat dengan pemotretan hari ini karena pakaian yang dia kenakan hari ini meski pun terlihat kasual dan tertutup tapi ada bagian-bagian tertentu yang terbuka. Seperti pakaian yang dia kenakan saat ini meski pun dia memakai celana dan jaket berbahan jeans tapi di dalam jaket jeans hanya berupa kain yang menutupi area yang menonjol saja seperti kain kemben jawa, mengekspose perut bagian atas dan dada bagian atas. Beberapa kali pengarah gaya meminta Divya untuk memperlihatkan salah satu bahunya atau kedua bahunya dengan menurunkan jaket jeans hingga lengan bagian atas.
Pemotretan selesai tepat saat matahari berada di ufuk barat, Divya segera masuk ke mobil yang akan mengantarnya kembali ke tempat dia menginap. Sampai di depan pintu villa tempatnya menginap, Divya merasakan suatu bau yang tidak asing di hidungnya. pelan-pelan Divya membuka pintu itu dan seketika kedua matanya membulat sempurna.
“ papi..... “ suara keterkejutan Divya membuat Davis meletakkan beberapa lembar foto di meja dekat sofa.
“ bagaimana papi tahu Divya ada disini?...... ooo pasti dari Liam “ pertanyaan yang Divya jawab sendiri sambil melangkah mendekati Davis.
Divya melihat lembaran-lembaran foto yang berserakan di meja dan mengambil beberapa lembar.
“ kenapa kamu menerima pekerjaan ini? “ suara Davis yang tegas membuat Divya heran.
“ karena Divya model jadi Divya menerima pekerjaan ini “ ucap Divya santai.
“ apa kamu sudah bertanya pada pria yang selalu datang ke rumah kita? “ pertanyaan Davis tidak membuat Divya terkejut atau pun heran.
Divya sudah berpikir pasti para pengawalnya yang memberi tahu kedatangan Fajrin setiap malam pada Davis.
“ kenapa diam? “ tanya Davis yang mulai menahan emosi.
Dengan menyisir kasar rambutnya, Divya menceritakan apa yang sudah dia katakan pada Fajrin terkait pekerjaan ini sesekali Davis terlihat mengerutkan kulit di antara kedua alisnya hingga kedua alisnya hampir bertemu.
“ Divya.... apa kamu masih belum mengerti kenapa Fajrin berkata demikian? “ suara pelan Davis membuat Divya heran.
Divya menggelengkan kepalanya menatap wajah Davis denagn penuh tanya.
“ sampai kapan kamu akan seperti ini tidak peka dengan apa yang Fajrin harapkan? Apa kamu memahami apa yang sudah Fajrin ajarkan padamu? Apa kamu akan tetap seperti ini sampai mendapatkan kontrak Victoria's secret? Kalau seandainya kamu mendapatkan kontrak itu.... apa kamu masih yakin bahwa Fajrin masih mau datang ke rumah dan tidak meninggalkan kamu lagi sampai menghubungi Dipta? “ pertanyaan panjang Davis membuat Divya terdiam tak mampu menjawab setiap pertanyaan Davis.