
“ tapi Divya tidak mau sampai rambut kita memutih baru memiliki seorang anak.... “ ucap Divya cemberut sambil menyusupkan wajahnya di ceruk leher Fajrin.
“ kita bersama-sama ikhtiar dunia akhirat.... sayang jangan terlalu capek..... obat dari dokter di minum sampai habis.... dan mulai malam ini kita rutinkan sholat Tahajjud “ ucap Fajrin sambil mencium puncak kepala Divya.
“ kalau pun sampai bertahun-tahun kita belum di percaya ALLAH untuk memiliki amanah.... jangan sekali-kali sayang meminta ayang menikah lagi..... ayang takut tidak bisa berlaku adil dunia akhirat..... kita hidup berdua saja hingga takdir memisahkan.... dan semoga ALLAH mempertemukan kita di Surga sebagai suami istri “ ucap Fajrin sambil membelai punggung Divya.
Divya menatap lekat-lekat wajah Fajrin, otaknya sibuk dengan apa yang Fajrin ucapkan tadi.
“ bagaimana ayang bisa berpikir sejauh itu..... “ gumam Divya dalam hati.
“ ayo... tidur...... nanti malam kita sholat tahajjud “ ucap Fajrin sambil mengeratkan pelukkannya.
Mulai malam ini Fajrin bertekad akan melakukan sholat tahajjud berjamah dengan Divya. Di awal awal membangunkan Divya untuk sholat Tahajjud sangatlah berat apa lagi bila sebelumnya mereka susah melakukan program pelebaran dinding rahim, Divya akan semakin sulit untuk di bangunkan yang berarti Divya harus mandi wajib sebelum melaksanakan sholat tahajjud. Karena kegigihan Fajrin yang selalu membangunkan Divya bahkan pernah satu malam Fajrin harus mengangkat Divya masuk ke dalam kamar mandi untuk melaksanakan mandi wajib.
Divya juga mulai mengurangi beberapa kesibukkannya seperti memasang manik-manik atau pun membuat pola, Divya menambah beberapa orang untuk memasang asesoris dari pakaian yang dia rancang juga orang yang membuat pola. Divya lebih fokus membuat rancangan pakaian hingga detail dan menyerahkan pada Elena hingga rancangan tersebut sudah menjadi sebuah pakaian, dan Divya menyerahkan pada Liam melakukan pengecekan kualitas.
Hari berganti hari minggu berganti minggu hingga bulan berganti bulan bahkan di bulan keenam mereka mereka berangkat kembali ke Singapore, berkonsultasi kembali dengan dokter yang sama di rumah sakit mount Elizabeth dan dokter juga mengganti obat clomiphene dan letrozole yang Divya minum. Hari ini tepat sembilan bulan sudah Divya meminum obat untuk memicu ovulasi tapi tetap belum ada tanda-tanda kehamilan pada diri Divya hingga Divya merasa meminum obat tidak ada gunanya.
“ ayang..... bosan minum obat terus “ gerutu Divya membuat Fajrin gemas.
“ ya sudah.... kalau bosan jangan di minum obatnya..... “ ucap Fajrin santai.
Divya semakin cemberut mendengar ucapan Fajrin, Fajrin meletakkan berkas dan pena yang berada di tangannya.
“ kalau tidak minum..... kapan bisa hamil “ Divya mulai cemberut.
Fajrin mendekati Divya yang sudah merebahkan tubuhnya di sofa dengan kaki yang masih menempel di lantai, Fajrin berlutut membelai rambut Divya.
“ sayang.... tidak boleh bilang begitu...... bukan obat yang akan membuat sayang hamil tapi ALLAH..... dokter atau pun obat hanya perantara..... kalau pun tidak minum obat itu dari dulu..... kita berserah diri merayu ALLAH dengan ihklas..... In Shaa ALLAH sayang akan hamil....... jangan menyerah dulu ya..... belum juga satu tahun sayang minum obat dan pernikahan kita belum melewati tahun kedua..... masih banyak hal yang belum kita lakukan berdua..... “ ucap Fajrin menasehati Divya agar tidak menyerah begitu saja.
Divya memandang kedua mata Fajrin, mata yang selalu optimis akan segala hal.
“ mulai hari ini dan seterusnya.... kalau sayang bosan minum obat.... obatnya jangan di minum..... pola makan sayang bisa di rubah..... sayang harus lebih banyak makan sayur, buah buahan, umbi umbian.... dan satu lagi berhenti makan makanan laut mentah..... “ nasehat Fajrin sambil menciun kening Divya.
Divya terdiam sesaat seperti mengoreksi diri tentang apa yang Fajrin ucapkan.
“ jadi tidak boleh makan sushi..... serius tidak boleh..... ? “ wajah merajuk Divya mulai membuat Fajrin tidak tega.
Fajrin paham saat ini suasana hati Divya sedang tidak bagus dan Fajrin berusaha merubah suasana hati Divya dengan sesekali memberikan ciuman di pipi atau pun di dahi.
“ ayang geli...... “ protes Divya tapi Fajrin tidak memperdulikannya dan justru semakin agresif.
Malam semakin larut dan Fajrin semakin agresif, berkali-kali Fajrin membuat Divya mencapai puncak dan berkali-kali pula Fajrin membuat Divya teriak tertahan memanggilnya dengan sebutan ayang. Dan setiap kali melihat kulit wajah Divya yang bersemu merah saat mencapai puncak, Fajrin tersenyum puas. Malam yang melelahkan bagi Divya tapi tidak bagi Fajrin.
Selesai menunaikan kewajiban sebagai umat muslim, Divya yang masih terlihat lelah membuat Fajrin merasa kasihan dan meminta Divya untuk tidur kembali. Fajrin turun ke bawah dan menyiapkan beberapa menu untuk makan pagi mereka. Saat Fajrin sibuk memasak tiba-tiba ponselnya berdering, tapi Fajrin tidak segera mengambil ponselnya karena hanya nada dering pesan singkat.
Empat puluh lima menit sudah Fajrin berkutat di dapur dan menu makan pagi yang dia siapkan selesai, Fajrin mulai menata menu makan pagi di beberapa mangkok ukuran sedang juga piring berukuran sedang. Fajrin ingin memberi kejutan pada Divya, Fajrin membawa nampan yang berisi makan pagi untuk Divya ke kamar.
Mendorong pelan pintu kamar dengan menggunakan kaki kanan melihat Divya yang masih pulas tertidur membuat Fajrin tersenyum simpul.
“ sepertinya tadi malam aku terlalu bersemangat..... “ gumam Fajrin dalam hati dengan senyum tipis.
Fajrin meletakkan nampan yang dia bawa di sebuah meja yang tak jauh dari ranjang mereka dan duduk di tepi ranjang. Memandangi wajah cantik Divya membuat Fajrin kembali tersenyum tipis, lima menit sudah Fajrin duduk diam memandang wajah Divya hingga Divya perlahan-lahan mulai menggeliat dan membuka kedua matanya.
“ pagi cantik “ rayu Fajrin membuat Divya tersenyum bahagia.
“ wangi sekali..... ayang buat apa? “ ucap Divya sambil melihat nampan yang Fajrin letakkan di meja kecil.
“ sayang lihat saja sendiri..... “ ucap Fajrin sambil meraih nampan makanan dan memperlihatkan pada Divya.
Divya merubah posisi tidurnya dan bersandar di sandaran ranjang, senyum lebar dan bahagia Divya terpancar saat melihat 3 buah mangkuk yang penuh dengan 3 macam sup dan 2 piring kecil yang Fajrin gunakan untuk tempat kentang tumbuk juga umbi tumbuk.
“ apa mulai hari ini..... menu makanan Divya seperti ini? “ goda Divya membuat Fajrin segera menangkup kedua pipi Divya
“ mulai hari tidak ada lagi obat obatan kimia...... mulai hari ini menu makan sayang harus ada umbi umbian....... kita coba ihktiar dengan apa yang sudah ALLAH berikan di sekitar kita..... “ ucapan Fajrin sedikit membuat Divya bingung.
“ sekitar kita......? apa umbi umbian ini ayang ambil dari raised bed..... ? “ tanya Divya heran.
Fajrin menganggukan kepala menjawab pertanyaan Divya yang terlihat jelas belum percaya dengan jawaban Fajrin.
“ serius.... ini ayang ambil dari raised bed di belakang..... “ ucap Fajrin sambil menyuapkan sesendok kentang tumbuk.