
Hari yang di nanti-nanti Fajrin dan timnya pun tiba, keenam timnya memeriksa satu persatu gulungan kertas kalkir sekali lagi untuk memastikan tidak ada satu hal pun yang terlewatkan oleh mereka. Fajrin memeriksa komputernya sesuai arahan Nara, seketika terulas senyum tipis membuatnya semakin semangat dan percaya diri untuk melakukan presentasi di hadapan para petinggi Rosewood Group. Meskipun mereka sudah mempercayakan desain World hotel and Resort Jaipur pada Fajrin mereka tetap meminta Fajrin untuk mempresentasikannya secara langsung, entah para petinggi Rosewood Group tahu atau tidak akan adanya kebocoran informasi desain Fajrin.
Irvan dan Gultom membawa tabung kertas kalkir sesuai arahan Fajrin sedangkan tim teknik Sipil membawa tabung kertas kalkir mereka masing-masing, saat mereka sedang sibuk tiba-tiba seseorang mengejutkan mereka.
“kalian sudah siap?” suara Azkar hampir saja membuat Ningsih yang merapikan file sesuai instruksi Fajrin terjatuh dari tangga.
“Astagfirullah..... big bos..... “ ucap Ningsih pelan sambil mengelus dada.
“sudah bang....... bisakah abang Azkar membawa ini?” tanya Fajrin sambil menyerahkan tabung yang berisi gulungan kertas kalkir.
“kamu mau aku jadi umpan?”tanya Azkar dengan sedikit bercanda.
“tidak bang..... ini hanya berisi kertas desain mentah..... yang asli aku bawa" ucap Fajrin sambil memberi isyarat mata.
“oke..... aku bawa ini.... mobil kalian sudah siap di lobi..... kita ketemuan di ballroom.”ucap Azkar sambil menggelengkan kepala heran mencerna isyarat mata Fajrin.
Azkar meluncur ke hotel Ritz-Carlton dengan Roby sebagai pemegang kendali mobil dan satu buah mobil pengawal. Fajrin satu mobil dengan Gultom Andra dan Muslim, sedangkan Irvan Ryan dan Cahyo satu mobil mereka meluncur ke Hotel Ritz-Carlton dengan rute yang berbeda dengan pengawalan satu mobil pengawal. Tepat di perempatan traffic light kedua, dua buah mobil menghadang mobil yang Fajrin tumpangi.
“siapa mereka? Mau apa mereka?” ucap Andra heran.
“tunggu apa mungkin mereka menghadang kita ada kaitannya dengan presentasi yang akan kita lakukan?” ucapan Muslim membuat Gultom tersenyum memandang Fajrin yang terlihat tenang.
Empat orang berpakaian preman mendekati mobil dan membuka paksa pintu mobil, membuat Muslim dan Andra sedikit takut. Gultom keluar mobil di ikuti Muslim juga Andra dan Fajrin keluar paling akhir sementara supir mobil sudah mereka tahan kedua tangannya dengan sebuah borgol di kemudi.
“serahkan gambar kalian" ucap salah seorang dari para penghadang.
“kalian sudah dewasa kenapa merebut gambar kami..... apa kalian anak kecil yang tidak bisa menggambar?” ucapan Fajrin menyinggung para penghadang.
Tanpa banyak kata delapan orang berpakaian preman menyerang Fajrin, Gulton, Andra dan Muslim, mereka ada yang membawa tongkat pemukul, pisau lipat, dan rantai. Karena Muslim dan Andra yang tidak memiliki ilmu bela diri hanya bisa berusaha menghindar setiap kali para penghadang menyerang mereka, sedangkan Gultom yang memiliki ilmu bela diri masih bisa melawan mereka dengan tangan kosong.
“kamu pasti yang bernama Fajrin" ucap salah seorang penghadang sambil memainkan seutas rantai.
“benar.... ada masalah?” tanya Fajrin santai.
Tanpa menunggu aba-aba empat orang segera menyerang Fajrin, mereka menyerang Fajrin dari berbagai sisi beruntung Fajrin menguasai satu ilmu bela diri karate. Saat seorang penghadang mengayunkan seutas rantai tepat melilit bahu kanannya, seorang penghadang dengan memegang pisau lipat mencoba untuk menyerang tapi Fajrin menahan pisau itu dengan tangan kosong hingga mengakibatkan telapak tangan kirinya berdarah. Dengan sekuat tenaga Fajrin menahan pisau di telapak tangan kirinya dan menarik rantai yang melilit lengannya hingga kedua wajah penghadang saling bertabrakan. Gultom melihat darah ingin sekali membantu Fajrin tapi dia sendiri terlihat kesulitan menghadapi dua orang penghadang seperti halnya muslim dan Andra mereka berdua menghindar kesana kemari.
Memang suasana jalanan kota jakarta ramai tapi karena para preman itu menyerang dengan senjata pada akhirnya mereka harus melawan sendiri tidak ada orang yang berani membantu mereka. Fajrin masih melawan dua penghadang yang membawa dua tongkat pemukul menyerang Fajrin bersamaan mereka menyerang dari depan dan belakang, setiap kali mereka menyerang Fajrin mencoba menghindar karena telapak tangannya sangat nyeri dan lengan kanannya masih terasa sakit oleh bekas lilitan rantai. Hingga batas akhir kemampuan Fajrin untuk menghindar hampir habis tiga buah mobil datang dua belas belas orang berpakaian serba hitam membantu Fajrin dan yang lain. Mereka menghabisi para penghadang dengan sebuah besi panjang.
“tangan kamu terluka" ucap Dipta menenangkan Fajrin yang masih mengatur nafas.
“tahan mereka jangan biarkan lolos dan jangan sampai mereka mati" teriakan Dipta membuat para pengawalnya segera meringkus para penghadang.
“kalian tidak apa-apa?” tanya Fajrin pada Muslim dan Andra yang sudah berlari mendekatinya dengan nafas memburu.
“aman pak, untung ada pot bunga itu jadi ada penghalang.” Ucap Muslim tersengal-sengal mengatur nafas.
Darah di telapak tangan kiri Fajrin masih belum berhenti hingga membuat tangan kanannya harus menyobek kain di lengan kirinya untuk membalut telapak tangannya. Mereka berempat terkejut Fajrin menyobek lengan kemejanya.
“bantu aku.... ikat ini" Dipta segera meraih sobekan kain dan mengikatkan di telapak tangan kiri Fajrin.
“kalian masih kuat pergi?” tanya Dipta sambil membuat simpul tepat di telapak tangan kiri Fajrin.
“harus kuat....bang Azkar sudah sampai.... “ ucap Fajrin menguatkan diri.
Seorang pengawal Dipta menyerahkan sebuah kunci yang telah dia ambil dari salah satu penghadang, Andra segera membuka borgol tangan supir mereka.
“kalian pergilah....biar kami yang mengurus mereka... akan aku bawa pemimpin mereka ke ruang rapat kalian" ucap Dipta yang sudah membantu Fajrin masuk ke dalam mobil.
Sementara Dipta dan para pengawalnya melumpuhkan para penghadang, Fajrin dan timnya kembali berkendara ke hotel lokasi rapat. Tepat pukul sebelas lebih empat puluhan lima menit mereka sampai di lobi, para tamu hotel melihat mereka yang terlihat jelas sangat berantakan terutama Fajrin. Gultom membawa tas punggung Fajrin dan dua buah tabung kertas kalkir, mereka langsung menuju ruang mutiara Ballroom. Tepat di depan pintu ballroom Andra menghentikan langkah mereka.
“pak.... bapak tidak bisa presentasi dengan pakaian seperti ini" ucap Andra sambil mengeluarkan sebuah jas dari tas punggungnya.
“bapak pakai ini minimal untuk menutupi lengan kiri bapak" ucap Andra sambil menyerahkan sebuah jas Almamater yang kebetulan sama dengan jas Almamater Fajrin.
Fajrin tersenyum melihat jas itu dan Andra membantu memakaikan jas Almamater tersebut.
“slim buka pintunya" perintah Fajrin dengan tegas.
Muslim membuka pintu ballroom seketika membuat seiring ballroom melihat mereka, Azkar dan Roby sangat terkejut mendapati penampilan mereka berempat yang terlihat sangat berantakan.
“apa mereka berhasil lolos?” gumam Azkar penuh tanya.
Sonia Arora, Radha Cheng, Timothy Chang dan Alex Lenders melihat mereka berempat dengan wajah sangat terkejut terutama Radha dan Sonia seorang CEO wanita, Sonia menghentikan presentasi Iwan untuk beberapa saat dan meminta seorang asistennya untuk membantu mereka berempat. Terlihat jelas wajah Iwan sangat kesal karena ulah Fajrin dan kawan-kawannya mengganggu presentasinya. Fajrin berjalan untuk duduk di kursi yang tepat berada di samping kanan Azkar sementara Gultom, Muslim dan Andra duduk dengan rekan-rekannya.
Seorang asisten Sonia mendekati dan melihat telapak tangan kiri Fajrin, dengan memberi isyarat tangan seorang pengawal Sonia membawakan sebuah tas yang berisi perlengkapan pertolongan pertama.