My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 131 NASEHAT SAHABAT (1)



Divya tidak dapat memejamkan matanya memikirkan setiap kalimat yang dia baca dari buku Neneknya, baru setelah sholat Shubuh berjamaah dengan Neneknya. Divya dapat memejamkan matanya.


Pukul 10:15 menit Divya terbangun karena suara gaduh di luar, Divya segera bangkit dan melangkah keluar dari kamar Neneknya. Divya melihat Davis sedang berusaha menenangkan seorang bayi yang berada di dalam dekapannya. Divya melangkah mendekati Davis dan mencubit pipi gembul bayi itu, dan bayi itu semakin keras menangis.


“ mana bang Dipta sama istrinya? “ tanya Divya sambil memainkan ujung rambutnya membantu Davis menenangkan Najendra.


Davis menunjuk keberadaan Dipta dan Ningsih dengan dagunya.


“ ooo “ ucap Divya singkat dan kembali menggoda Najendra.


Divya dan Davis seharian ini membantu menjaga Najendran karena Ningsih sejak pagi muntah-muntah hingga dehidrasi dan mengharuskan Ningsih beristirahat total dengan tangan kiri terpasang jarum infus. Kondisi Ningsih yang drop memaksa keluarga kecil Dipta mengungsi ke kediaman Davis untuk beberapa hari kedepan atau mungkin selama kondisi Ningsih pulih. Keberadaan Najendra sedikit banyak mengalihkan pikiran Divya yang masih gamang menentukan pilihan, memikirkan kelebihan dan kekurangan dari dua pilihan yang saling bertolak belakang antara karir atau cinta. Tapi ada kalanya di saat-saat tertentu Divya merasa ingin sekali berjalan di atas catwalk Victoria's Secret tapi setelah membayangkan pakaian seperti apa yang akan dia pakai, kembali otaknya memikirkan sosok Fajrin. Begitu seterusnya hingga membuatnya beberapa kali lupa jadwal sholat dan membuat Nenek Ina harus mengingatkannya.


Sejak perdebatan Ditya dan Dipta terjadi, Divya merasa malu merasa bersalah pada Fajrin atas perbuatan Ditya dan juga karena Divya ingin merenungi nasehat Davis untuk memantapkan pilihannya. Ditya yang sudah berada di Montreal pun masih melakukan intervensi pada Fajrin, Ditya mengirim pesan pada Fajrin menggunakan nomor yang berbeda-beda setiap hari dengan nada ancaman juga menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk mengawasinya.


Meski pun begitu Divya dan Fajrin masih saling mengirim pesan singkat. Terkadang mereka saling menelpon satu sama lain bercerita banyak hal, sampai pada dimana Divya mengatakan ingin sekali menjadi salah satu model Victoria's Secret.


“ ternyata itu ambisinya.... “ gumam Fajrin saat selesai menelpon Divya.


Fajrin yang tidak paham apa itu Victoria's Secret, segera mencari tahu di ponselnya.


“ Astagfirullah..... “ ucap Fajrin terkejut yang hampir saja melempar ponselnya karena menampilkan gambar beberapa model wanita mengenakan pakaian two piece yang hanya menutupi area sensitif mereka.


Fajrin mengusap kasar wajahnya dan menengadahkan kepala menatap langit-langit ruang kerjanya, sepanjang sore otaknya tidak bisa fokus pada pekerjaan memikirkan ambisi Divya membayangkan bila Divya benar-benar mendapatkan kontrak itu. Selepas Sholat Ashar, Fajrin tidak langsung kembali ke ruang kerjanya tapi memilih menenangkan diri di taman gedung yang terletak di lantai 2. Berkali-kali Fajrin menarik nafas berusaha melepaskan apa yang sekarang menjadi beban pikirannya, tapi semua sia-sia. Karena otaknya yang terlalu cerdas tidak dapat menemukan jalan tengah antara hati dan idealisme, Fajrin memutuskan untuk merubah nada dering kontak Divya menjadi diam. Sepulang kerja Fajrin memutuskan untuk singgah di restoran milik Syafril.


Memilih duduk di sudut restoran dan hanya memesan segelas teh hangat.


“ Assalamu'allaikum, tumben pulang kerja kesini “ salam Syafril.


“ Wa'alaikumsalam, lagi ingin saja “ jawab Fajrin asal.


Syafril tidak percaya begitu saja dengan ucapan Fajrin.


“ ada masalah apa? Cerita ke aku.... “ ucap Syafril sambil memanggil seorang pelayan mendekat.


Fajrin menghembuskan nafas panjang dan menatap Syafril dalam-dalam seperti berpikir dari mana akan mulai bercerita, Syafril bingung dengan tatapan Fajrin. Tapi pada akhirnya Fajrin menceritakan apa yang menjadi beban pikirannya, Syafril terkejut mendengar cerita Fajrin.


“ apa yang harus aku lakukan? Aku sudah terlanjur mencintainya? Tapi aku juga tidak mungkin mengabaikan apa yang sudah aku yakini selama ini..... aku pikir dengan kami dekat kembali pelan-pelan dia akan berubah menjadi lebih menjaga diri, tapi ternyata aku salah. “ ucap Fajrin sedih.


“ bro..... dia masih proses menunggu kontrak belum mendapatkan kontrak, bisa jadi dia tidak akan mendapatkan kontrak itu sama sekali. Kalau ternyata dia mendapatkan kontrak itu, baru kamu putuskan mau lanjut atau selesai “ nasehat Syafril membuat Fajrin kembali berpikir keras.


Karena saran dan nasehat Syafril bukan solusi terbaik menurut Fajrin, akhirnya Fajrin memutuskan pulang ke rumah mencoba terbuka pada adiknya. Fajrin masih tidak percaya diri dan juga tidak berani bertemu Divya mengingat isi pesan singkat dari nomor tidak di kenal yang berisi tentang ancaman pada orang-orang terdekatnya. Fajrin memutuskan untuk tidak bertemu Divya karena ancaman itu juga karena orang tak di kenal yang mengawasinya.


Divya juga melakukan hal yang sama. Davis melihat keseharian Divya hanya bisa memberinya sedikit nasehat bila Divya terlihat sangat bingung. Seperti hari ini Divya mencoba menyingkirkan kembali semua parfum dan menyisakan 1 botol parfum, menyingkirkan beberapa produk skin care dan produk make up hingga menyisakan 1 set produk skin care.


“ ini bagus.... yang ini juga bagus “ gumam Divya sambil memegang beberapa lipstik dan bedak.


“ biar papi pilih “ suara Davis yang tiba-tiba terdengar membuat Divya menyerahkan semua apa yang dia pegang.


“ pria seperti Fajrin.... papi yakin dia lebih menyukai ini..... ini dan ini “ ucap Davis sambil meletakkan 2 buah lipstik dan 1 bedak.


“ Yang lainnya? “ tanya Divya heran.


“ Divya sudah tahu barang-barang ini harus di kemanakah “ ucap Davis sambil melangkah keluar kamar Divya.


“ pi..... bolehkah nanti Divya keluar sebentar? “ tanya Divya yang sudah mendekati anak tangga untuk turun.


“ mau kemana? Bertemu Fajrin? “ Divya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Davis.


“ Divya ingin bertemu Fitri.... teman sekolah Divya dulu. Boleh ya..... pi.... “ Davis menganggukan kepala memberi izin Divya.


Tentu saja Davis memberi izin asalkan Liam yang mengantarnya. Sepanjang perjalanan menemui Fitri, Divya mengirim pesan memastikan keberadaan Fitri.


“ Liam to Dinamika University Management Campus (Liam ke kampus managemen universitas Dinamika) “ ucap Divya yang jari jemarinya masih mengetik sesuatu di ponsel.


Sampai di depan kampus Fakultas ekonomi jurusan management, Divya segera menghubungi Fitri. Tidak butuh waktu lama bagi Divya untuk menunggu Fitri keluar dari gedung jurusan management.


“ Divya Lohia..... “ teriak seorang wanita yang berpenampilan sangat modis


Fitri teman Divya sewaktu SMA, mereka sama-sama memiliki cita-cita ingin menjadi supermodel catwalk. Penampilan Fitri yang sederhana dan berhijab membuat Divya tertegun dan tidak percaya, Fitri mengenakan bawahan model A-line berwarna hijau gelap dan atasan seperti baju kurung yang di kenakan wanita melayu bercorak hijau juga hijab yang menutup sebatas dada.


“ Divya.... kamu tidak berubah.... kamu masih sama.... “ ucap Fitri yang sudah berdiri di depan Divya dengan senyum bahagia melihat temannya.


Divya tertegun hanya bisa mengulas senyum tipis, Divya tidak menyangka bahwa penampilan Fitri akan berubah 180°.


“ kenapa diam? Ini aku Fitri.... apa perlu aku tunjukkan KTP biar kamu percaya kalau aku ini Fitri? “ Divya menggelengkan kepala malu mendengar ucapan Fitri.


“ se.... jak kapan kamu pakai hijab? “ tanya Divya ragu.