
Fajrin benar-benar menepati janjinya, tidak meminta haknya kembali hingga saat mereka terbangun oleh alarm ponsel Fajrin. Divya menggeliat memunggungi Fajrin, sementara Fajrin mencoba meraih ponselnya.
“ Astagfirullah.... sebentar lagi Shubuh “ ucap Fajrin sambil mencoba duduk.
Melihat Divya yang kembali tidur membuat Fajrin sedikit merasa bersalah karena sudah membuat istrinya kelelahan.
“ sayaaang..... mandi wajib dan sholat Shubuh dulu.... nanti sayang bisa tidur lagi... “ bisik Fajrin tepat di telinga kanan Divya.
Mendengar kata mandi wajib membuat Divya dengan cepat membuka kedua matanya karena teringat akan janji Fajrin saat pertama kali Fajrin mengajarinya melakukan mandi wajib setelah.
“ serius..... “ ucap Divya dengan senang.
Fajrin bangkit dari ranjang dan berjalan ke sisi Divya, sekali lagi Fajrin mengangkat Divya dan Divya dengan senang melingkarkan kedua lengannya di leher Fajrin.
Fajrin menenuhi janjinya memperhatikan Divya melakukan mandi wajib meski pun dengan aset yang siap meminta haknya, melihat aset Fajrin yang sudah siaga satu membuat Divya semakin berani menggoda Fajrin. Merasa bahwa Divya sengaja memancing juga menggodanya tanpa berpikir panjang, mandi pagi bersama pertama mereka sebagai pasangan halal menjadi bukan hanya mandi wajib saja tapi Fajrin kembali meminta haknya.
“ sayaaang..... Sholat Shubuh dulu..... “ ucap Fajrin gemas karena Divya masih saja menggodanya.
Divya cemberut melihat Fajrin yang sudah berpakaian rapi dan berdiri di atas sajadah, bukan Fajrin tidak tergoda dengan apa yang Divya lakukan tapi Fajrin berusaha keras agar tidak tergoda karena sudah masuk waktu shubuh.
“ ayang tahu.... Divya tidak bawa pakaian..... apa bisa Divya sholat seperti ini? “ ucap Divya cemberut dan duduk di sofa dengan kasar.
Fajrin menepuk dahinya pelan karena lupa kalau Divya hanya membawa koper kecil.
“ Astagfirullah..... ayang lupa “ ucap Fajrin dan melangkah mendekati koper miliknya.
Divya terlihat heran dengan apa yang Fajrin lakukan, sesaat kemudian Fajrin menyerahkan pakaian wanita pada Divya.
“ pakaian siapa ini? Ayang bawa buat Divya..... “ tanya Divya dengan heran.
“ sayang pakai ini dulu.... selesai makan pagi.... kita beli pakaian sayang “ wajah cemberut Divya berubah menjadi ceria mendengar ucapan Fajrin.
Sesuai dengan apa yang Fajrin katakan, selesai makan pagi Fajrin menghubungi orang yang mengantar mereka kemarin. Tapi saat orang tersebut berdiri di depan pintu cottage, Fajrin terkejut dengan apa yang orang itu bawa.
“ sorry sir, this is madam's suitcase...... last night Mrs Helen sent this (maaf tuan, ini koper nyonya...... tadi malam nyonya helen mengirimkan ini) “ Fajrin tertegun mendengar ucapan orang tersebut.
Dengan sedikit heran Fajrin mengambil alih koper besar tersebut dan membawanya masuk.
“ ayang...... itu koper Divya? “ ucap Divya senang.
Fajrin menatap Divya dengan heran seperti menunggu penjelasan dari Divya.
“ tadi malam waktu ayang mandi..... Divya minta tolong pawangnya bang Azkar untuk mengirim koper Divya yang sudah di siapkan Nenek..... Nenek lihat kita waktu kita masuk mobil “ ucap Divya sambil membuka koper dan mengeluarkan pakaian untuk dia pakai.
Melihat Divya berganti pakaian membuat Fajrin tersenyum memperhatikan tanda di beberapa bagian kulit Divya.
Fajrin tersenyum melihat yang Divya lakukan.
“ sayang mau jalan-jalan kemana? “ ucap Fajrin yang sudah melingkarkan kedua tangannya di pinggang Divya.
Divya menjawab dengan mengangkat sekali kedua bahunya.
“ karena kita belum pernah melakukan apa yang pasangan lain lakukan sebelum menikah..... bagaimana kalau seharian kita kencan? “ ucapan Fajrin yang dia luar pemikiran Divya membuat Divya sedikit terkejut.
“ serius ayang mau kita kencan..... “ Fajrin menganggukkan kepala meyakinkan Divya.
“ karena tempat ini tidak ada sungai.... dan pantainya bersih..... juga pemandangan bawah laut yang bagus.... bagaimana kalau diving..... atau snorkelling...... “ Divya kembali terkejut mendengar ide Fajrin.
Bukan mendapat penolakan dari Divya tapi pelukan erat dan hangat juga ciuman di seluruh wajah Fajrin,, membuat Fajrin tersenyum geli.
“ jadi.... selama satu minggu kita kencan di pantai..... Divya... tidak sabar untuk berjemur “ ucap Divya bahagia tapi tidak dengan Fajrin yang tiba-tiba hilang rasa gelinya.
“ berjemur....?...... tidak... tidak boleh.... sayang tidak boleh pakai pakaian renang two piece...... “ ucapan Fajrin membuat Divya menghentikan ciumannya di pipi Fajrin.
“ ke pantai.... kalau tidak berjemur pakai pakaian renang two piece.... lantas..... apa mau main pasir “ ucap Divya yang terlihat jelas bingung dengan sikap Fajrin yang cepat sekali berubah.
Fajrin melepas kedua lengan Divya yang melingkar di lehernya dan berjalan menuju sisi ruangan, membuka tirai yang menutupi kaca sebagai pembatas antara ruangan tertutup dengan ruang terbuka yang memberikan fasilitas kolam renang pribadi juga pantai pribadi.
“ kalau mau berjemur dengan pakaian renang two piece..... berjemur di sini saja “ ucap Fajrin sambil menggeser sedikit pembatas kaca satu arah.
Wajah heran Divya seketika terlihat sangat gembira.
“ jadi.... Divya hanya boleh pakai pakaian renang two piece di sini....... “ ucap Divya yang mulai paham dengan perubahan sikap Fajrin tadi.
Dengan melangkah seseksi mungkin Divya mendekati Fajrin yang masih memegang pembatas kaca, kedua mata Fajrin mulai tergoda dengan apa yang Divya lakukan saat ini. Bagaimana tidak tergoda pada sikap Divya yang melangkah mendekatinya dengan kedua tangannya yang perlahan tapi pasti melepas satu persatu kain yang dia pakai. Tepat pada jarak kurang dari satu jengkal semua kain yang menutupi kulit indah Divya terlepas hanya menyisahkan kain kecil yang menutupi area paling sensitif, tanpa menunggu lama Fajrin segera melingkarkan lengan kirinya di pinggang dan tangan kanannya menekan tengkuk Divya. Fajrin melahap bibir yang menjadi candunya, disela-sela aksinya Fajrin mengucapkan sebuah doa membuat Divya tersenyum dan dengan perlahan Fajrin mendorong pelan Divya hingga ke ranjang.
Pergulatan kedua akhirnya terjadi lagi karena Fajrin tidak kuat menahan godaan Divya. Angin pantai yang berhembus pelan masuk ke ruangan tidak mampu menghapus peluh yang sudah membasahi seluruh kulit Fajrin mau pun Divya, udah dingin nan sejuk yang masuk dari sedikit celah pembatas kaca satu arah tidak mampu meredam rasa panas dalam diri mereka dan semakin membuat mereka larut dalam pergulatan mereka.
Berkali-kali Divya teriak tertahan karena ulah Fajrin yang membuat dirinya mencapai puncak, Fajrin yang selalu menginginkan Divya terlihat senyum tipis setiap kali Divya teriak tertahan dan meremas kedua lengannya.
“ ayaaang...... “ suara pelan Divya membuat Fajrin semakin semangat bergerak.
Sesaat kemudian Fajrin menekan lebih dalam dan membaca sebuah doa membuat Divya kembali meremas lengan Fajrin, wajah merah Fajrin membuat Divya pelan-pelan mengatur nafasnya. Fajrin pelan-pelan mengatur nafas dan mengamati wajah Divya.
“ kalau sayang seperti itu lagi..... ayang tidak yakin selama kita disini kita bisa keluar dari cottage ini..... “ Divya tersenyum mendengar ucapan Fajrin.
“ I love you.... “ ucap Divya dalam senyumnya.
Benar apa yang Fajrin katakan selama satu minggu penuh mereka tidak keluar sama sekali dari cottage karena sedikit saja gerakan seksi yang Divya lakukan di depan Fajrin membangkitkan keinginan Fajrin meminta haknya, dan mereka mengandalkan layanan kamar untuk memenuhi kebutuhan makan juga laundry mereka.