
Pesawat mendarat di bandara international Kualalumpur pukul 2 siang waktu setempat. Para penumpang yang terluka segera di larikan ke rumah sakit, sementara para penumpang lainnya menjalanin pemeriksaan untuk memastikan sekali lagi apakah ada cedera atau trauma yang terlewatkan. Termasuk Fajrin dan Divya juga Henri dan putrinya. Setelah pihak kesehatan bandara memastikan bahwa mereka tidak mengalami cedera atau pun trauma, mereka di izinkan untuk melanjutkan penerbangan ke Penang. Fajrin menggandeng tangan kanan Divya dan mengajaknya untuk mencari tempat sholat karena sudah masuk waktu Dhuhur.
“ Pak Henri..... kami sholat Dhuhur dulu.... penerbangan ke Penang masih satu setengah jam lagi. “ ucap Fajri sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
“ ayo.... kita sholat dulu.... bersyukur masih di beri kesepatan untuk beribadah. “ ucap Henri sambil memeluk bahu putrinya yang juga terlihat masih takut.
Tidak sulit menemukan tempat sholat di bandara ini, Fajrin mengantar Divya ke tempat sholat wanita sebelum dirinya masuk ke tempat sholat pria.
“ Divya... sholat disini.... sholat Dhuhur dan azhar jamak taqdim “ ucapan Fajrin membuat Divya bingung.
Fajrin tersenyum karena paham Divya belum pernah melakukan hal ini.
“ sholat Dhuhur 2 rakaat setelah salam..... berdiri lagi sholat Ashar 2 rakaat.... selesai sholat tunggu ayang disini jangan kemana-mana “ Divya menganggukan kepala paham dengan maksud Fajrin.
Setelah Divya benar-benar masuk ke tempat sholat, Fajrin segera melangkah menuju tempat sholat pria yang berjarak kurang lebih 5 meter dari tempat sholat wanita. Rasa syukur Fajrin karena masih di beri kesempatan untuk bernafas dan beribadah lagi, di sujud terakhir Fajrin menyelipkan sebuah doa.
“ Allahumma inni as'aluka husnal khotimah (Ya Allah, aku meminta kepada-Mu husnul khotimah) “
Selesai sholat Fajrin segera menghampiri Divya yang sudah berdiri di depan tempat sholat, mengulurkan tangan kirinya dan mengajak Divya menuju ruang tunggu penerbangan selanjutnya. Fajrin mencari sosok Henri dan menemukannya sudah duduk dengan putrinya yang kembali sibuk dengan buku.
“ baru kali ini aku merasakan turbulence yang lama...... “ ucapan Henri membuat Farjin tersenyum tipis.
“ kalau saja undangan kali ini tidak memberi pengaruh yang besar pada perusahaan..... aku lebih baik tidak hadir kalau tidak terbang dengan Sundth Air “ keluh kesah Henri membuat Fajrin hanya bisa tersenyum.
Memang para jajaran direksi mau pun managerial selalu melakukan perjalanan udara menggunakan private jet Sundth Air dan baru kali ini Henri menggunakan pesawat komersial.
“ Sundth Air di tarik semua ke Oslo.” Henri menganggukan kepala mendengar ucapan Fajrin.
“ iya.... aku dengar juga kalau Rosenkrantz sebagai pemilik Sundth Air menanamkan modal di perusahan kita..... “ ucapan Henri membuat Fajrin tertegun dan berpikir sesaat.
Henri hanya tahu bahwa Freya dan Selo adalah bagian dari Rosenkrantz group, tapi tidak tahu bahwa puncuk pimpinan Rosenkrantz group adalah Erhan ayah Freya sebelum Afkar menggantikan posisi Erhan.
“ jangan-jangan Afkar yang menanamkan modal di Surendra.... kalau itu benar berarti....... “ gumam Fajrin dalam hati.
Belum selesai Fajrin menyelesaikan apa yang dia pikirkan, suara Gendhis anak Hendri berbicara.
“ pa.... berapa hari kita di Penang? “ suara santai Gendhis membuat Divya memperhatikan penampilan Gendhis yang lebih terkesan seperti pria.
“ 3 hari 2 malam, kenapa? Kamu ada kerjaan? “ pertanyaan Hendri membuat Fajrin ingin tahu apa kesibukan Gendhis saat ini.
“ iya....barusan tadi ada email masuk...... ada tawaran mengisi pelatihan IP security untuk Khazanah “ ucap Gendhis sambil menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan sebuah email berbahasa Inggris.
“ berapa hari? “ tanya Fajrin ingin tahu.
Gendhis menatap Fajrin dan Divya bergantian.
Melihat Fajrin yang gugup karena tiba-tiba Divya memeluknya membuat Gendhis tertawa bahagia.
“ hahahaha..... kakak tidak berubah.... “ ucap Gendhis sambil tertawa.
“ Gendhis..... “ teguran Henri membuat Gendhis diam seketika.
“ ngisi pelatihan dimana? Kualalumpur? Pakaian kamu bagaimana? “ pertanyaan Henri seketika membuat Gendhis mengeluarkan kartu ATM master cardnya.
“ gampang nanti kalau kurang... Gendhis beli saja... lagian celana jeans ini bisa di pakai 2 3 hari “ ucapan Gendhis yang asal membuat Divya membulatkan kedua matanya.
Fajrin menggelengkan kepala mendengar ucapan Gendhis. Fajrin sudah lama mengenal Gendhis, anak gadis yang selalu perpenampilan seperti pria. Lebih suka memakai celana jeans kemeja pria dan sepatu sneakers dengan rambut yang di ikat asal. Divya yang baru mengenal Gendhis merasa aneh kenapa ada wanita seperti ini.
“ kak.... kapan nikah? Tumben ada yang mau sama kakak..... motor tua masih bisa di pake? “ ucapan Gendhis yang terkesan tidak resmi dan lebih terkesan menggunakan kata-kata santai membuat Divya ingin tahu lebih seberapa dekat Fajrin dengan Gendhis.
“ kakak nikah kamu harus datang.... kosongkan semua jadwalmu.... kamu mau pinjam motor kakak? Jangan di masukkan ke got lagi “ ucapan Fajrin membuat Gendhis gugup.
Henri menatap tajam Gendhis yang terlihat jelas sangat gugup.
“ papa tidak tahu.... kamu pernah pakai motor Fajrin dan masuk got.... “ tanya Henri sambil melipat kedua tangannya.
Gendhis yang terlihat jelas sangat gugup dan bingung hanya bisa berusaha menenangkan Henri dengan mencoba bergelayut manja di lengan kanannya.
Fajrin tersenyum tipis melihat sikap Gandhis yang terlihat masih manja pada Henri, Divya merasa bahwa hubungan Fajrin dengan Gendhis bukan seperti hubungan biasa. pada akhirnya selagi mereka menunggu penerbangan selanjutnya, Gendhis sibuk meyakinkan Henri bahwa apa yang di katakan Fajrin tidak membuatnya cedera dan Divya masih saja memeluk erat lengan kiri Fajrin. Meski pun Fajrin sudah meminta Divya unutk melepasnya tetap saja Divya memeluknya erat.
Satu setengah jam waktu yang bisa terasa lama dan bisa terasa sebentar bagi para penumpang yang akan melanjutkan penerbangan ke tujuan, tapi bagi mereka berempat terasa sebentar karena mereka menghabiskan waktu dengan berbincang-bincang.
Tepat pukul 3 lebih 15 menit para penumpang tujuan Penang mendapat panggilan untuk segera masuk ke pesawat. Farjin meminta Divya berjalan di depannya untuk antri masuk ke dalam pesawat, sementara Gendhis mencoba antri di belakang Fajrin.
“ kak..... cantik calonnya..... nemu dimana? Apa mba Divya yang nemu kakak.... “ bisik Gendhis membuat Fajrin menggelengkan kepala.
“ kalau sikap kamu tidak berubah masih seperti ini..... bagaimana beban papamu berkurang yang ada semakin terbebani “ bisik Fajrin dengan melihat ke samping kanan.
Membuat Divya meraih tangan kiri Fajrin dan melingkarkan di perutnya, Fajrin sedikit gugup dengan aksi Divya tapi berusaha bersikap biasa.
Di dalam pesawat, mereka duduk seperti saat penerbangan Jakarta Kualalumpur. Dan Divya semakin posesif memeluk lengan kanan Fajrin.
“ Divya lepas..... “ Divya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Fajrin.
Fajrin merasa bahwa kali ini sikap Divya berlebihan.
“ Divya cemburu sama Gendhis? “ Divya menganggukan kepala menjawab pertanyaan Fajrin.
“ ayang hanya menganggap Gedhis seperti adik.... perasaan ayang pada Gendhis sama seperti perasaan ayang pada adik. “ jelas Fajrin tapi tetap saja Divya memeluk erat lengan kanan Fajrin.