My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 6 SARAN



Selepas makan siang di resto milik Syafril, Fajrin dan yang lain kembali ke kantor. Sepanjang perjalanan Fajrin merenungi setiap kata yang dia ucapkan di hadapan Sofia. Fajrin melangkahkan kakinya ke masjid gedung untuk Sholat Dhuhur, saat hendak melepas sepatu menggulung lengan kemeja dan celana seseorang menepuk bahu kanannya.


“makan siang dimana?” tanya Azkar dengan suara santai.


“Astagfirullah, bang Azkar.... aku kira siapa..... kami makan siang di resto nya Syafril. Abang sudah makan siang?” tanya Fajrin yang sudah siap untuk berwudhu.


“sudah..... ayo kita jamaah" ucap Azkar singkat.


Selesai wudhu seperti biasa sudah ada beberapa staff dan karyawan outsourcing yang menunggu Fajrin untuk menjadi imam.


“silahkan bang Azkar” ucap Fajrin mempersilahkan Azkar untuk menjadi imam.


“kalau dalam hal ini..... kamu lebih pantas dari pada aku" ucap Azkar yang sudah mendorong pelan Fajrin untuk berdiri sebagai imam.


Para staff dan karyawan outsourcing melihat keakraban mereka berdua menjadi semakin segan dengan Fajrin. Pada akhirnya Fajrin menjadi imam sholat Dhuhur mereka, selepas Sholat seperti biasa Fajrin berdzikir dan Roby menunggunya hingga selesai. Azkar mengamati raut wajah Fajrin yang terlihat jelas sangat lelah, saat para staff dan karyawan outsourcing sudah meninggalkan masjid Fajrin semakin larut dalam doanya hingga tanpa sadar dia sudah meneteskan air mata.


“sudah habis air matamu?” tanya Azkar yang sudah melihat Fajrin sedikit tenang.


“bang Azkar masih disini" ucap Fajrin heran.


“kalau kamu menangis karena wanita, sebaiknya wanita itu adalah ibu dan adikmu bukan wanita lain" ucapan Azkar membuat Fajrin merasa terpukul.


“entahlah bang..... air mataku jatuh karena apa..... ibu sudah tenang disana dan aku yakin Nara tidak kurang satu apa pun..... tapi disini terasa sangat sesak.” Ucap Fajrin yang sudah tidak mampu lagi menyembunyikan sakit hatinya.


“ayo ke balkon..... kita bicarakan disana.... Rob..... meeting jam dua tolong kamu mundurlah setelah sholat Azhar.” Roby tertegun mendengar perintah bosnya, karena meeting kali ini sangat penting bagi kelangsungan para karyawan outsourcing.


Azkar mengajak Fajrin ke sebuah balkon yang tepat berada di samping ruangannya, area terbuka di lantai sembilan yang di desain eco green. Mereka duduk di kursi santai dan memandang langit jakarta yang biru, sungguh pemandangan yang amat sangat jarang terjadi di jakarta.


“ceritakan apa masalahmu.” Ucapan Azkar yang terdengar tegas membuat Fajrin merasa nyaman seperti sedang berbicara dengan seorang ayah.


Fajrin mulai mencerita apa yang menjadi beban di hatinya hingga membuatnya harus meneteskan air mata, Azkar mendengarkan cerita Fajrin tanpa menyela sekali pun hanya menghela nafas panjang setiap kali mendengar kalimat yang merendahkan harga diri seorang pria.


“keputusan kamu sudah tepat..... karena bagaimana pun Sofia masih memiliki seorang wali yang sah..... kalau seandainya kamu menerima ajakan Sofia untuk kawin lari..... apa kamu yakin bisa mendapatkan restu kedua orang tuanya saat kalian sudah mapan nanti? Aku melihat sepertinya kedua orang tua Sofia dari awal sudah tidak menyukaimu..... kalau kamu dan Sofia bertahan sampai detik ini.... itu sangat mengagumkan bahkan aku salut denganmu" jelas Afkar membuat Fajrin sedikit tenang.


“bang, kalau seandainya aku bisa menyelesai project di Phu Quoc lebih cepat dari waktu yang mereka tentukan.... bisakah bonus dari perusahaan aku ambil dulu.... aku ingin mencari rumah, setidak-tidaknya ada sesuatu yang bisa aku buktikan pada mereka bahwa aku tidak seperti pemikiran mereka" pinta Fajrin membuat Azkar semakin heran menatapnya.


“lantas rumah kamu yang sekarang mau kamu apakan? Jual? Kamu yakin Nara menyetujui ide kamu itu?” pertanyaan Azkar membuat Fajrin kembali ragu akan idenya untuk membeli rumah.


“kalau saran dariku.... sebaiknya bonus dari project Phk Quoc kamu pakai untuk menutup hutangmu pada kedua orang tua Roby..... tidak perlu kamu melakukan sesuatu yang merugikan dirimu dan adikmu hanya untuk membuktikan sesuatu pada orang yang tidak mengenalmu dengan baik. Biarkan mereka sibuk dengan pemikirannya dan kamu lakukan yang terbaik untuk adikmu juga karirmu. Aku yakin suatu saat kedua orang tua Sofia akan sangat menyesal telah menolak bahkan menghinamu" ucapan Azkar sangat mengena di hati dan pikiran Fajrin membuatnya berpikir seribu kali untuk mewujudkan idenya.


“saran bang Azkar hampir sama dengan saran Roby.... sepertinya memang Sofia bukan takdirku selalu saja ada halangan setiap kali aku berusaha melangkah menjadikan Sofia takdirku.” Ucap Fajrin dengan sedih tapi sudah sedikit lega karena sudah ada dua orang yang memberikan saran yang terbaik.


Roby sedikit mendengar pembicaraan antara Azkar dan Fajrin, Roby merasa lega karena Fajrin tidak berbuat nekat demi mendapatkan restu kedua orang tua Sofia.


“lebih baik kamu gunakan tenaga waktu dan pikiranmu fokus ke project Phu Quoc" ucap Azkar yang sudah berdiri hendak meninggalkan Fajrin untuk merenung.


“benar apa kata bang Azkar..... lebih baik aku fokus pada project Phu Quoc dari pada berusaha meyakinkan kedua orang tua Sofia.” Gumam Fajrin sambil menarik nafas panjang melepaskan beban pikirannya.


Fajrin kembali ke ruang kerjanya dan semakin menenggelamkan diri pada project Phu Quoc, seluruh timnya melihat Fajrin dengan raut wajah kasihan.


“kasihan pak Fajrin...... cinta terhalang karena restu orang tua" ucap Muslim


“tanpa restu orang tua..... tidak akan ada kebahagian yang ada hanya saling menyakiti" ucap Gultom.


“kurang apa pak Fajrin..... baik, low profile, pekerja keras, tampan..... kalau aku punya adik perempuan akan aku jodohkan adikku sama pak Fajrin.” Ucap Ryan membuat semua rekan setim melihatnya dengan jengah.


“untung kamu tidak punya adik perempuan...... kalau punya pasti adikmu tersiksa karena mendapat karma dari perbuatan kakaknya yang suka berganti-ganti pasangan....” ucap Andra sambil menepuk kepala Ryan dengan kertas kalkir bekas.


“aduh...... sakit bro" teriak Ryan membuat Fajrin melihat mereka sesaat.


Seketika keempat orang itu kembali menyibukkan diri, Fajrin berjalan mendekati mereka.


“kalau kalian ada masalah yang harus di selesaikan...... selesaikan sekarang sebelum jadwal keberangkatan kita, dan beritahu orang tua kalian bahwa lebaran tahun ini kalian tidak akan pulang. “ jelas Fajrin membuat keenam anggota timnya bergidik ngeri.


“gila..... serem banget pak Fajrin kalau bicara serius..... bulu tanganku sampai berdiri" ucap Cahyo sambil memperlihatkan bulu-bulu halus di lengannya.


Fajrin kembali menyibukkan diri dengan maket, gambar desain dan gulungan-gulungan kertas kalkir. Dia memasukkan gulung kertas kalkir dengan gambar desain sesuai dengan urutan lantai dan tanggal dateline pengerjaannya.


Menjelang jam pulang kerja, Fajrin masih sibuk dengan kertas kalkir dan beberapa detail bahan yang harus mereka awasi spesifikasi dan kualitasnya.


“Bismillah..... semoga lancar tanpa ada hambatan apa pun.....” gumam Fajrin saat merasa segala keperluan dan kelengkapan selama di project sudah persiapkan semua.