My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 244 KECURIGAAN FAJRIN



Selesai makan pagi Divya membuka tirai kamar dan menajamkan tatapan matanya untuk melihat raised bed yang Fajrin maksud, seketika kedua mata Divya membulat sempurna hampir tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


“ baiklah.... mulai hari ini Divya akan makan apa yang ayang tanam di raised bed.... “ ucapan pelan Divya membuat Fajrin mendekat dan memeluknya erat.


Untuk beberapa detik Fajrin memeluk erat Divya menikmati pemandangan pagi halaman belakang yang dalam beberapa minggu yang lalu sudah Fajrin sulap menjadi beberapa raised bed.


“ ayang.... tadi ponsel Divya sepertinya berdering beberapa kali..... apa mungkin dari papi ? “ ucap Divya yang sudah menyandarkan kepalanya di pipi kiri Fajrin.


“ mungkin..... tadi juga ponsel ayang berdering...... “ ucap Fajrin sambil menghujani Divya dengan ciuman kecil di pelipis kanan.


Sudah lima menit lebih Fajrin memeluk Divya dari belakang, hingga seseorang mengetuk pintu kamar mereka.


“ sebentar..... “ ucap Fajrin sambil melepas kedua lengannya yang melingkar di perut Divya.


Fajrin membuka pintu kamar dan mendapati Elena yang sudah berdiri di depan kamar dengan menyodorkan ponsel Fajrin.


“ dering ponsel ini mengganggu kami “ ucap Elena malu-malu.


“ kami......? ooooo...... “ ucap Fajrin sesaat saja heran tapi detik berikutnya paham apa yang Elena maksud dengan kata kami.


Elena merasa malu, saat Fajrin paham maksud dari ucapannya dan segera Elena berjalan cepat mendekati Liam yang sudah menunggunya di ujung bawah tangga.


“ terima kasih “ ucap Fajrin dan menutup kembali pintu kamar.


Fajrin tersenyum karena baru kali ini melihat Elena merasa begitu malu, Divya menatap Fajrin penuh tanya apa yang membuat Fajrin tersenyum seperti itu.


“ siapa ayang....? “ Fajrin menjawab pertanyaan Divya dengan memperlihatkan ponselnya.


“ Elena bilang..... dering ponsel ayang mengganggu mereka.... kenapa mereka tidak menikah saja..... “ ucap Fajrin sambil menekan layar ponselnya melihat apa yang membuat ponselnya berdering berkali-kali.


Ibu jari tangan kanan Fajrin menekan dan menggeser layar ponselnya, sesaat kemudian senyum bahagia terlihat di kedua bibir dan kedua matanya menjadi berkaca-kaca. Divya heran juga ingin tahu pesan apa yang membuat Fajrin seperti ini, Divya melangkah mendekati Fajrin untuk melihat apa yang Fajrin lihat.


“ ini serius..... bukan rekayasa Afkar.... “ ucap Divya tidak percaya dengan apa yang terlihat di layar ponsel Fajrin.


“ Alhamdulillah ya ALLAH.....” ucap Fajrin penuh haru juga bahagia.


“ ayang.... apa kita akan kesana? “ Fajrin menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Divya.


“ belum..... nanti saja...... kalau sudah benar benar pulih kita kesana..... sayang fokus dulu pada ini..... “ ucap Fajrin dengan kedua mata berkaca-kaca dan tangan kanan kiri menyentuh perut rata Divya.


Fajrin menghujani Divya dengan ciuman-ciuman kecil membuat Divya heran juga geli tapi Divya tidak meminta Fajrin untuk berhenti menciumnya. Divya membiarkan Fajrin melakukannya hingga puas, Divya paham kenapa suasana hati Fajrin bisa sebahagia ini karena apa yang menjadi beban di hatinya sudah kembali ke alam nyata hanya memerlukan beberapa pemulihan saja.


Divya melakukan apa yang sudah Fajrin sarankan bahkan setiap malam Fajrin sendiri yang menyiram dan merawat tanaman yang dia tanam di raised bed. Divya ingin mendapatkan ridho suami dan tidak ingin menjadi istri durhaka dengan mengabaikan saran Fajrin.


“ So... when do you dare to meet Grandpa? Are we going to continue like this….. we've been like this for over a year….. don't you want to make me like Divya


(jadi... kapan kamu berani menemui kakek? Apa kita akan terus begini..... sudah lebih dari satu tahun kita seperti ini..... apa tidak ingin membuatku seperti Divya) “ protes Elena pada Liam yang duduk di sebelahnya.


Mereka berdua duduk sambil melihat kemesraan Fajrin dan Divya yang saling menyuap buah yang baru saja Fajrin petik.


“ if Miss Divya is pregnant….. I will meet grandpa and I will marry you right away (kalau nona Divya sudah hamil..... aku akan menemui kakek dan aku akan langsung menikahimu) “ ucap Liam menenangkan Elena.


Elena tersenyum mendengar janji manis Liam, Elena mau pun Liam tidak tahu apa yang terjadi pada Divya. Yang mereka tahu bahwa saat ini Divya melakukan program hamil.


“ ayang..... bagaimana ayang bisa merawat semua ini.... ayang bukan ahli pertanian..... “ ucapan Divya membuat Fajrin menyuapkan satu buah anggur ke mulutnya.


“ semua bisa kita pelajari dari internet tinggal kita mau mencoba atau tidak.... tapi memang ada beberapa hal yang tidak bisa kita pelajari dari internet.... seperti para medis..... “ ucap Fajrin asal.


Tak ada riak yang besar di kehidupan rumah tangga Divya dan Fajrin, baik Divya mau pun Fajrin memahami batas pergaulan masing-masing. Setiap kali Fajrin akan melakukan pertemuan bisnis dengan para relasi, Fajrin akan melakukan penyelidikan latar belakang relasi bisnis tersebut. Fajrin tidak ingin menemui relasi bisnis yang hanya mengandalkan hiburan wanita bukan kelebihan dan kekurangan dari bisnis mereka.


Dan setiap kali selesai melakukan pertemuan dengan relasi bisnis Fajrin tetap akan membuka kontrak kerja sama yang dia buat pada seluruh jajaran direksi komisaris hingga CEO.


Seperti hari ini Fajrin akan melakukan pertemuan bisnis dengan salah seorang pebisnis dari Malaysia, Fajrin sibuk memahami latar belakang pebisnis tersebut. Fajrin ada sedikit rasa tidak nyaman karena mereka meminta pertemuan bisnis ini di lakukan di sebuah kamar hotel.


“ apa ada maksud tersembunyi mereka “ gumam Fajrin dalam hati yang sudah berkali-kali membolak-balik kertas yang dia pegang.


Bagi Fajrin lebih baik bersikap waspada dari pada memberi efek negatif bagi dirinya juga perusahaan. Seseorang membuka pintu ruang kerjanya membuat Fajrin melihat sesaat dan meletakkan berkas yang di pegang.


“ Assalamu'allaikum “ salam Azkar.


“ Wa'alaikumsalam “ balas Fajrin.


“ ada sesuatukah sampai abang kemari? “ tanya Fajrin sambil duduk tak jauh dari Azkar duduk.


“ apa kau sudah mendapat kabar dari Afkar ? “ tanya Azkar sambil melepas 1 kancing jas.


“ kalau yang abang maksud kabar tentang keluarga kecil Afkar.... hampir setiap hari dia mengirim pesan seperti ini “ ucap Fajrin sambil memperlihatkan pesan gambar pada Azkar.


“ tapi kalau yang abang maksud tentang bagaimana investasiku di perusahaan papi..... aku belum mendapatkan laporan keuangan apa pun baik dari papi mau pun dari Afkar “ Azkar mengangguk-anggukan kepala beberapa kali.


“ kalau begitu.... sebaiknya kamu baca berkas ini.... “ ucap Azkar sambil menyerahkan sebuah map berisi beberapa lembar kertas berkas.


Fajrin heran dengan berkas yang Azkar serahkan.


“ buka saja... baca sendiri “ Fajrin melakukan apa yanh Azkar katakan.