My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 204 DIVYA PROTES



Akhrinya Fajrin mendapatkan kesepakatan yang dia inginkan dan kembali ke Jakarta, Fajrin sudah mulai memikirkan kontrak seperti apa yang dapat dia berikan pada sahabatnya dan memberi keuntungan pada Surendra juga sahabatnya. Fajrin paham penunjukkan langsung seperti ini akan banyak pertentangan dari para direksi tapi Fajrin sudah mempersiapkan kalimat apa yang akan dia sampaikan untuk meyakinkan para direksi.


Belum terlalu jauh Fajrin melangkah.


“ 3 hari lagi aku akan ke kantormu..... aku ingin melihat kontrak seperti apa yang kamu tawarkan “ Fajrin melambaikan tangan kanannya sebagai tanda bahwa Fajrin menyetujui apa yang sahabatnya katakan.


Melihat punggung Fajrin yang menghilang masuk ke sebuah mobil 4WD, membuat sahabatnya tersenyum tipis.


“ sudah menjadi apa kamu sekarang sampai dengan mudah kamu memberiku kartu ini..... baiklah.... aku akan mengerjakan apa yang kamu sarankan..... “ gumam sahabat Fajrin sambil melangkah menuju para anggota timnya yang sedang bekerja.


Fajrin kembali ke Jakarta dengan tenang karena bisa melakukan negosisasi dengan sahabat yang pernah menjadi musuhnya hanya karena Sofia. Di dalam perjalanan panjangnya kembali ke Jakarta, Fajrin mengenang bagaimana dia dulu bisa beradu tenaga dengan sahabatnya hanya karena Sofia yang pada akhirnya tidak bisa dia halalkan. Fajrin memikirkan point-point apa saja yang akan di tuliskan di kontrak yang akan dia ajukan pada Azkar.


Setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya Fajrin sampai di depan rumahnya tepat tengah malam, melihat suasana rumah yang gelap Fajrin memastikan bahwa Divya tidak bermalam di rumahnya.


Membersihkan diri hal pertama yang ingin Fajrin lakukan sebelum mulai membuat berkas kontrak kerjasama antara Surendra dengan sahabatnya. Fajrin ingin cepat menyelesaikan 2 kontrak ini sebelum hari H pernikahannya.


Tepat 15 menit sebelum Adzan Shubuh, berkas kontrak sudah selesai Fajrin ketik. Fajrin segera bergegas ke Masjid untuk sholat Shubuh, saat pulang dari Masjid mendapati Liam dan rekannya sudah berdiri di depan pintu.


Fajrin tersenyum sudah bisa memastikan bahwa Divya ada di dalam.


“ Assalamu'allaikum “ salam Fajrin.


“ Wa'alaikumsalam “ balas Divya yang sudah berkaca pinggang di depan Fajrin.


Divya menatap Fajrin dengan cemberut.


“ ayang kemana saja satu minggu ini.... di telpon tidak bisa.... pesan singkat baru terkirim 2 3 jam...... “ protes Divya membuat Fajrin semakin gemas.


Fajrin merasa bahwa dirinya seperti sedang di marahi Nara kecil.


“ Divya kuatir kalau ada apa-apa sama ayang..... pria tua itu dan pawangnya juga tidak tahu kemana ayang..... bang Roby juga..... “ protes Divya membuat Fajrin hanya bisa menahan senyum.


Karena baru kali ini ada wanita yang berani memarahinya selain Nara.


“ ayang dengar tidak.... apa yang Divya bilang...... sampai Divya tidak bisa fokus dengan kain-kain ini........ mau buat ini salah.... mau gunting ini salah.... mau jahit ini salah..... “ protes Divya panjang dan lebar.


Bukan Fajrin tidak berani mengatakan kemana satu minggu kemarin pergi tapi Fajrin tidak ingin membuat Divya menangis kalau Fajrin mengatakan sesuatu.


“ maaf.... terima kasih sudah mengkuatirkan ayang..... maaf ayang sudah membuat Divya tidak bisa fokus dengan semua ini.... “ ucap Fajrin sambil menunduk.


“ ayang..... lihat Divya..... ayang harus ceritakan kemana ayang pergi..... “ pintu Divya dengan suara tertahan.


Fajrin merasa bahwa Divya menahan tangisnya.


“ Divya sudah paham bukan kalau ayang tidak berani melihat Divya “ ucap Fajrin yang masih menunduk tidak berani melihat wajah Divya.


Divya tetap bersikeras memaksa Fajrin untuk melihat dirinya dan Fajrin tetap bersikeras menundukkan wajahnya, selama 1 minggu lebih tidak bisa bertemu atau pun tidak mendengar suara Fajrin membuat Divya mengeluarkan semua keluh kesahnya. Dan bukan Fajrin tidak mendengarkan atau tidak memahami apa yang Divya rasakan, tapi bila Fajrin melihat wajah Divya. Fajrin takut akan khilaf.


“ Divya sayang..... berhenti..... “ gumam Fajrin sambil merapatkan kedua mulutnya.


Divya masih saja mengungkapkan semua keluh kesahnya.


“ Duh.... kalau saja sudah halal.... habis itu bibir kamu sayang........ “ gumam Fajrin dalam hati dan semakin erat merapatkan kedua bibir juga memejamkan kedua matanya.


“ miss (nona) “ suara ragu Liam belum terdengar Divya.


“ miss (nona) “ 2 oktaf Liam menaikan suaranya.


Seketika Divya terdiam dan melihat Liam dengan tajam.


“ what (apa)? “ tubuh Liam menegang mendapatkan nada tinggi dari Divya.


Fajrin melihat Liam yang terlihat jelas kaku, Liam segera bergeser sedikit hingga terlihat sosok Dean. Fajrin segera berdiri melangkah menemui Dean.


“ ada apa.... apa terjadi sesuatu pada Nara? “ Dean tersenyum tipis melihat reaksi Fajrin yang terlihat jelas masih sedikit tertutup pada wanita yang berada di ruang tengah.


“ tidak.... tidak.... saya kesini karena Afkar tidak bisa menghubungi anda beberapa hari ini “ ucap Dean dengan santai.


Fajrin bernafas lega mendengar ucapan Dean.


“ Afkar berpesan kalau bisa anda memberi sedikit kejutan untuk nyonya muda Nara..... “ Fajrin mengerutkan kulit di antara kedua alisnya.


“ kejutan? “ Dean menggelengkan kepala dengan heran karena Fajrin masih belum paham maksudnya.


membuat Dean mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah pesan singkat dari Afkar pada Fajrin, Fajrin tersenyum membaca isi pesan singkat itu.


“ baiklah, aku akan ke bandara “ ucap Fajrin.


“ saya sudah menyiapkan mobil yang akan mengantar anda ke bandara.... tolong bersiap-siap selepas Shubuh “ ucap Dean sambil memasukkan kembali ponselnya.


Sekepergian Dean, Divya menghampiri Fajrin dan menatap Fajrin penuh tanya. Belum sempat Divya mengatakan sesuatu dengan cepat Fajrin melangkah menjauh membuat sedikit jarak dengan Divya.


“ Divya sayang.... sekali lagi berbicara panjang karena 1 minggu ayang pergi..... habis itu bibir “ ucap Fajrin yang sudah berdiri tepat di tengah anak tangga.


Seketika kedua pipi Divya bersemu merah mendengar ucapan Fajrin.


Saat Fajrin sudah berada di sisi atas tangga.


“ ayang.... I love you “ suara keras Divya membuat Fajrin semakin gemas dan melangkah cepat masuk ke kamarnya.


Suasana hati Divya yang semua kesal seketika menjadi bahagia mendengar ucapan Fajrin.


“ Divya sayang.... “ gumam Divya dalam hati mengingat ucapan Fajrin.


Karena suasana hati yang sedang bahagia, Divya mulai menyelesaikan kain-kain yang akan dia jahit dengan bersenandung.


Sementara Fajrin di dalam kamar berusaha keras menahan hasratnya yang hampir saja keluar.


“ aku harus mendinginkan kepalaku “ gumam Fajrin dan melangkah masuk ke kamar mandi.


Di bawah guyuran air dingin, Fajrin masih belum bisa berhenti memikirkan bagaimana rasa bibir Divya.


“ aaaaaa.... setan.... setan... pergi sana..... kalian tidak akan bisa membujukku“ gumam Fajrin sambil menyisir kasar rambut dengan kedua tangannya.