
Selepas makan malam Divya mengajak Fajrin duduk di taman belakang rumah, taman yang luasnya 5 kali luas taman belakang rumah Fajrin. Divya mengajak Fajrin duduk di sebuah kursi taman dan menghadapi ke sebuah kolam renang.
“ kamu lebih cantik kalau berpenampilan seperti ini “ ucapan Fajrin membuat Divya tersipu malu.
Saat makan malam dengan Divya dan Nenek Ina, sesekali Fajrin mengintip mencoba mencuri pandang melihat wajah Divya.
“ Divya memang cantik..... ayang saja yang tidak menyadari selama ini “ suara manja Divya membuat Fajrin ingin sekali memeluknya tapi karena belum halal, Fajri hanya bisa mengepalkan kedua tangannya.
“ kamu memang sudah cantik dari dulu tapi malam ini kamu lebih cantik dari kemarin-kemarin.... siapa yang memilih pakaian seperti ini? “ pertanyaan Fajrin membuat Divya terkejut karena sedari tadi Divya memperhatikan Fajrin sama sekali tidak melihatnya.
“ memangnya sekarang pakaian Divya berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya? “ tanya Divya heran.
Fajrin tersenyum tipis mengingat semua penampilan Divya selama ini.
“ hmmm..... kakak ingat betul... “ ucapan Fajrin terhenti karena Divya memberi isyarat dengan menyilangkan kedua jari telunjuknya tepat di wajah Fajrin yang menunduk.
“ Divya memanggil kakak dengan panggilan ayang.... jadi ayang harus merubah kata kakak dengan ayang.... kalau tidak Divya peluk ayang “ ucap Divya yang sudah merentangkan kedua tangannya membuat Fajrin menggeser duduknya sedikit menjauh dari jangkauan tangan Divya.
“ iya... ayang.... sayang... terserah kamu saja “ ucapan Fajrin yang terbata-bata membuat Divya meringis bahagia.
“ sudah puas? “ tanya Fajrin.
“ sudah..... ayang lanjutkan “ ucap Divya bahagia.
“ a.... yang ingat betul dulu pakaian kamu kalau tidak mengekspose dada pasti belahannya setinggi paha begitu juga dengan potongan leher dan lengan, pasti lengan dan area dada terekspose.... tapi malam ini berbeda sekali... meskipun lengan bawah masih terbuka tapi setidak-tidaknya potongan leher sudah menutup hingga tulang selangka dan...... sedikit memperlihatkan betis “ penjelasan Fajrin membuat Divya tidak percaya bahwa selama ini sebenarnya Fajrin memperhatikannya.
“ jadi.... selama ini sebenarnya ayang memperhatikan penampilan Divya? Kenapa tidak bilang? “ ucap Divya tidak percaya.
“ bagaimana a.... yang mau bilang... pasti kamu waktu itu tidak memiliki pakaian seperti ini satu pun “ ucapan Fajrin membuat Divya meringis.
“ iya.... Papi sama Nenek yang membantu Divya memilih pakaian ini..... Bahkan Papi meminta Divya menyingkirkan tas, sepatu, pakaian, dompet, asesoris bahkan beberapa make up juga parfum Divya masuk ke dalam kardus..... waktu mau Divya buang...... kata Nenek jangan di buang di jual saja atau bahasa kerennya kata Nenek di lelang..... ya.... Akhirnya seperti tas sepatu juga dompet Divya lelang di e-bay, Jason yang membantu semua itu.... memang tidak butuh waktu lama semua itu terjual apa lagi waktu Nenek bilang kalau hasil dari lelang itu di sumbangkan ke yayasan kanker anak-anak.... tidak ada 12 jam semua barang-barang itu terjual habis.... “ cerita Divya dan menarik nafas panjang.
“ yayasan kanker? “ tanya Fajrin heran.
“ papi bilang yayasan ini milik mami.... dulu sebelum ada bang Ditya, mami membuat yayasan ini.... tapi sejak mami hamil Divya.... kesehatan mami semakin menurun.... jadi papi menyerahkan pada orang kepercayaannya untuk mengurus yayasan kanker ini..... “ cerita Divya dan menarik nafas panjang.
“ kamu menyesal melelang barang-barang itu? “ Divya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Fajrin.
“ tanpa semua itu.... kamu itu tetap cantik..... wanita cantik bukan karena penampilannya tapi dari dalam diri sendiri “ ucap Fajrin yang dapat memahami bahwa Divya ada sedikit rasa menyesal melepas barang-barang itu.
Tanpa mereka sadari seorang pengawal merekam kebersamaan mereka, terkadang terlihat Divya yang tertawa lepas bahkan berbicara santai seperti sudah lama mereka menjalin hubungan dan Fajrin tak sekali pun melihat wajah Divya. Fajri hanya melihat ujung kaki hingga lutut Divya, Fajrin masih merasa tidak percaya diri untuk melihat Divya.
“ pria yang sangat sopan..... sama seperti Davis waktu pertama kali ke rumah..... hanya bedanya Davis lebih berani bahkan sangat berani melihat Lydia..... “ ucap Nenek Ina yang sedari tadi melihat Divya duduk dengan Fajrin.
Divya bercerita banyak hal yang dia lakukan sejak kontrak mereka selesai hingga saat Fajrin pertama kali membalas pesannya yang setuju melanjutkan hubungan di luar kontrak. Divya menceritakan apa dan bagaimana dia memperbaiki hubungan dengan Davis, alasan di balik semua perlakuan Davis pada dirinya hingga kenyataan bahwa yang merawatnya selama ini adalah Nenek dari maminya. Fajrin mendengarkan semua cerita Divya tanpa menyela sekali pun.
“ ayang sendiri selama ini sibuk apa? “ pertanyaan Divya membuat Fajrin teringat akan kejadian hari ini.
“ hari ini ayang sudah menikahkan adik yang menjadi satu-satunya tanggung jawab ayang selama ini.... Afkar menikahi Nara. “ ucapan Fajrin berhenti dan merasa sesak di dadanya.
Perasaan bahagia, sedih, juga bangga bercampur menjadi satu.
“ serius..... bang Afkar yang sombong itu menikahi adik ayang..... tidak mungkin pasti dia hanya bercanda. “ ucap Divya tidak percaya.
“ iya.... Afkar yang itu..... dia sudah memulai dengan ta'aruf dan dia sendiri yang mengajukan ta'aruf itu..... hari ini juga Afkar kembali ke Oslo karena ada sedikit masalah di klubnya. “ ucap Fajrin serius tapi cukup membuat Divya terkejut bahkan sangat terkejut.
“ jadi selama ini tipe wanita yang bang Afkar suka seperti Nara...... pantas dia tidak melihatku sama sekali. “ entah Divya sadar atau tidak tapi ucapannya cukup membuat Fajrin tidak suka.
“ apa maksud kamu sebenarnya adalah bahwa kamu dulu menyukai Afkar..... karena Afkar tidak tertarik makanya kamu mencari yang lain “ ucapan Fajrin membuat Divya mati kutu.
Fajrin melangkah masuk ke dalam rumah dan membiarkan Divya mengikutinya dengan sedikit berlari.
“ ayang..... ayang..... bukan begitu maksud Divya.... ayang tunggu “ suara keras Divya tidak membuat Fajrin melihat kebelakang.
Tepat dia depan sebuah sofa ruang santai Fajrin menghentikan langkahnya sehingga membuat Divya yang berlari kecil mengejarnya secara tidak sengaja menabrak punggung kekar Fajrin.
“ aduh.... kenapa ayang berhenti mendadak sih “ gerutu Divya.
Fajrin memutar tubuhnya menghadap Divya.
“ sudah jam 10, ayang pulang ya...... tidak enak sama nenek juga para pengawal kamu itu... itu.... dari tadi mereka melihat kita.... Insya ALLAH besok pulang kerja bila tidak ada lembur..... ayang kesini lagi “ ucap Fajrin sambil memakai sarung tangan yang sejak turun dari motor dia selipkan di saku celana.
Divya melihat Fajrin dengan cemberut.
“ 1 jam lagi ya..... “ rajuk Divya.
Fajrin menyentuh puncak kepala Divya dan mengusap pelan rambut Divya.
“ Insya ALLAH besok ayang berkunjung lagi.... sekarang sudah malam.... tidak baik ayang terlalu lama disini. “ suara lembut dan sentuhan tangan Fajrin cukup membuat kaki Divya serasa lemas.
Divya menggenggam erat kedua lengan Fajrin membuat Fajrin heran.
“ kenapa? “ tanya Fajrin bingung dan menahan tubuh Divya dengan menggenggam erat lengan Divya.
“ sikap ayang membuat Divya meleleh “ suara pelan Divya membuat Fajrin tersenyum simpul.
Fajrin mendorong pelan tubuh Divya untuk duduk dan dia mengenakan jaket juga mengambil tas punggungnya.
“ ayang pulang dulu ya..... Assalamualaikum “ salam Fajrin yang sudah melangkah ke ruang tamu untuk keluar.
Divya berlari kecil mengejar Fajrin
“ wa'alaikumsalam cinta “ balas Divya sedikit berteriak membuat Fajrin tersenyum lebar.