
Setelah Fajrin dan Nara keluar dari ruangan, perasaan Divya bukannya kembali senang atau bahagia tapi semakin tidak menentu. Memandangi pakaian yang saat ini dia kenakan mengekspose kaki jenjangnya hingga setinggi paha sebelah kiri juga meraba kedua pipi dan menyentuh bibirnya yang tertutup make up tebal. Divya berdiri dan melangkah keluar ruang tersebut, berjalan keluar restoran dengan pikiran yang masih mengingat jelas wajah Nara yang benar-benar polos tanpa make up apa pun membuat Divya melangkah tak terarah hingga Liam yang selalu mengikutinya dalam diam berkali-kali menarik lengan Divya untuk
“ dia tanpa make up tapi terlihat sangat cantik dan wajahnya terlihat sangat cerah seperti habis mengenakan masker “ gumam Divya dalam hati sambil meraba dahinya.
“ bulu matanya lentik meskipun tanpa maskara, bibirnya bersih cantik padahal dia tidak memakai lipstik atau pun lipbalm “ gumam Divya sambil menyentuh bibirnya yang tertutup lipstik warna merah maroon.
Hingga akhirnya Liam mengarahkan Divya untuk berjalan ke area parkir dan masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan pulang Divya melamun bahkan mengabaikan beberapa pertanyaan Liam. Divya mengingat kata terakhir yang Nara ucapkan.
Sampai di pelataran depan rumah sayup-sayup terdengar suara keras antara Dipta dan Ditya, membuat Divya melihat Liam dengan tatapan heran penuh tanya. Liam menggerakkan kedua bahunya sesaat menjawab pertanyaan Divya. Divya melangkah masuk ke dalam rumah dan mencari asal suara. Tepat di depan pintu ruang kerja Davis, Divya menghentikan langkahnya dan terdengar jelas suara keras antara Dipta dan Ditya. Divya memberanikan diri membuka pintu itu dengan pelan.
“ itu bukan mencari bukti tapi menjebak “ suara keras Dipta membuat Divya mengerutkan kulit diantara kedua alisnya.
“ aaaah..... peduli setan dengan ucapan abang.... aku yakin pria itu hanya ingin harta kita...... dia ingin memeras Divya sampai harta ki.....“ belum selesai Ditya berbicara, Davis sudah melayangkan tamparan pada pipi kiri Ditya dengan keras hingga meninggalkan tanda merah di pipi Ditya.
Divya terkejut membulatkan kedua mata dan mulutnya melihat perlakukan Davis.
“ papi.... “ teriak Divya sambil melangkah mendekati Ditya.
Ketiga pria dewasa itu terkejut melihat kehadiran Divya, mereka tidak dapat menyembunyikan rasa gugup juga rasa bersalah mereka.
“ papi tega sekali menampar bang Ditya “ suara keras Divya membuat Davis menjatuhkan tubuhnya di sofa.
“ apa kamu bertemu Fajrin hari ini? Apa kamu melihat ada sesuatu yang berbeda pada Fajrin “ pertanyaan Davis membuat Divya bingung.
“ bukankah papi menyuruh orang mengikuti Divya.... kenapa papi menanyakan hal itu? “ ucap Divya yang sudah berdiri di antara kedua abangnya.
Davis membetulkan duduknya dan panjang mengambil sebuah amplop yang dia terima tadi pagi dari orang tidak di kenal.
“ apakah kamu akan melanjutkan hubunganmu dengan Fajrin bila kamu mengetahui siapa di balik kejadian semalam yang menimpa Fajrin “ ucapan Davis semakin membuat Divya heran juga bingung.
“ pi.... jangan katakan padanya.... Dipta mohon “ ucap Dipta yang sudah duduk di sebelah Davis dan memegang lengan kanan Davis.
“ kamu minta papi tidak mengatakan pada adikmu, tapi kamu akan mengatakan yang sebenarnya pada sahabatmu.... apakah kamu ingin melihat adikmu menangis mengurung diri di kamar lagi? “ ucapan Davis membuat Dipta bingung dan serba salah.
“ tunggu... apa maksud ucapan papi.... apakah kejadian semalam yang menimpa ayang ada hubungannya dengan yang papi lakukan pada bang Ditya? “ ucap Divya sedikit ragu.
Ketiga pria dewasa ini tidak mampu menjawab pertanyaan Divya, mereka takut bila Divya menangis. Divya menatap satu persatu wajah kedua abang dan papinya bergantian, seperti mencari jawaban dari pertanyaannya. Davis menarik nafas panjang dan tertunduk.
“ Yang membawa Fajrin tadi malam orang-orang kepercayaan Ditya.... abang kamu “ ucapan Davis membuat kedua kaki Divya lemas dan terduduk di lantai.
“ kenapa bang Ditya melakukan itu? “ suara pelan Divya membuat Ditya bingung juga geram.
“ dia tidak pantas untukmu.... dia hanya ingin mendapatkan hartamu “ suara geram Ditya membuat Divya berkaca-kaca.
“ abang akan mencarikan pria yang sederajat denganmu.... buka pria miskin seperti dia “ ucap Divya keras dan kesal karena Divya meneteskan air mata demi Fajrin.
“ cukup.... perbuatanmu sudah salah tapi kamu masih memikirkan harta. Pria seperti Fajrin tidak akan tergiur dengan harta kita “ ucapan Dipta yang tak kalah keras membuat kepala Davis pening.
Akhirnya terjadi perdebatan sengit kembali antara Dipta dan Ditya, mereka beradu argumentasi tentang sosok Fajrin. Sedangkan Divya semakin keras menangis, suara keras Davis tak mampu melerai perdebatan antara Dipta dan Ditya. Davis mengeluarkan ponselnya, beberapa saat kemudian masuk 6 orang pengawal. Dengan isyarat tangan masing-masing 2 orang pengawal membekap mulut Dipta dan Ditya, sementara seorang pengawal membantu Divya untuk duduk di sofa.
Saat pengawal menahan Dipta mau pun Ditya, seketika mereka terdiam melihat Davis dengan heran yang terlihat tenang di sofa.
“ apa dengan beradu mulut di depan adik kalian akan memecahkan masalah ini? Kalian masih sama..... tidak bisa menguasai emosi.... Dipta, kamu pulang saja pasti istrimu sudah menunggu..... Ditya, malam ini kamu kembali ke Montreal dan jangan pernah menginjakkan kaki sebelum masalah Divya selesai. Dan kamu, papi akan memberimu waktu untuk memikirkan apa pilihan yang kamu ambil, menunggu kontrak Victoria's Secret atau memilih hatimu. “ ucap Davis sambil menunjuk satu persatu anak mereka.
“ papi tidak adil..... Ditya tidak mau kembali ke Montreal “ bantah Ditya keras.
“ kalau kamu tidak mau kembali ke Montreal, kembalikan semua fasilitas yang papi berikan.... sekarang juga “ mendengar ucapan Davis membuat nyali Ditya ciut.
Ditya tidak dapat bertahan tanpa harta papinya, dia anak yang suka berfoya-foya dengan harta papinya. Ditya hanya bisa menunduk diam.
“ meski pun aku tidak disini.... aku masih bisa melakukan intervensi pada pria miskin itu “ gumam Ditya dalam hati dengan senyum sinis seperti memiliki sebuah ide.
“ kemasi barang yang ingin kamu bawa ke Montreal, sebelum papi menyuruhmu kembali ke Jakarta jangan pernah coba-coba keluar dari Montreal. Bila kamu mencoba sekali saja keluar dari Montreal, mereka akan mengambil paksa semua fasilitas yang kamu dapatkan. “ ucapan tegas Davis pada Ditya membuatnya semakin tertunduk takut.
Dengan isyarat tangan Davis menyuruh dua pengawal yang memegangi kedua lengan Ditya untuk membawanya keluar dari ruang kerjanya.
“ Dipta, pulanglah.... Ningsih sudah mengirim pesan memintamu pulang “ ucap Davis sambil menunjukkan pesan dari menantunya.
Dipta melangkah keluar dari ruang kerja Davis, sementara Divya masih menyeka air matanya dan mengatur nafasnya. Davis meraih kedua tangan Divya dan menggenggam erat.
“ tenangkan hati dan pikiranmu, pikirkan betul-betul kelebihan dan kekurangan dari setiap pilihan yang akan Divya pilih di antara dua pilihan yang bertolak belakang ini. Papi akan memberimu waktu 4 bulan untuk memikirkan, apa 4 bulan cukup untuk Divya menentukan pilihan? “ ucap Davis dengan suara tenang dan hangat.
Divya memandang wajah Davis dalam-dalam, Davis memberikan senyuman hangat pada putrinya agar Divya tersenyum. Divya menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Davis.
“ sekarang bersihkan dirimu, sebentar lagi kita makan malam berdua. Nanti papi akan melakukan sedikit negosiasi dengan Fajrin. “ ucapan Davis membuat Divya mengerutkan kulit di antara kedua alisnya.
“ tenang..... papi tidak akan memarahi Fajrin.... kalau itu yang kamu kuatirkan.” Ucap Davis dan melangkah menuju meja kerjanya.