My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 116 KANGEN BERAT



Selepas Magrib Divya dan Liam berangkat ke bandara karena harus segera terbang ke Bangkok, Fajrin hanya bisa mengantar sampai di depan pagar rumah Divya. Meski pun Divya merajuk merayu agar Fajrin mau mengantarnya ke bandara tetap saja Fajrin tidak bisa melakukan hal itu. Dengan cemberut Divya masuk ke mobil yang akan membawanya ke bandara.


“ apa nak Fajrin mau pulang sekarang? “ suara Nenek Ina membuat Fajrin sedikit terkejut.


“ iya Nek... permisi.... Assalamualaikum “ salam Fajrin dan melangkah menuju motornya yang terparkir di dekat pos keamanan rumah.


Sudah 3 hari ini Divya mau pun Fajrin hanya bisa saling berkirim pesan singkat atau pun pesan suara, terkadang Divya mengirim pesan berupa foto dirinya saat di sela-sela istirahat pemotretan. Sesibuk apa pun Divya selalu menyempatkan menghubungi Fajrin. Fajrin pun demikian, sampai di kantor saat makan siang dan hendak pulang kerja selalu mengirim pesan pada Divya karena bila menghubungi Divya bisa jadi Divya sedang menjalani pemotretan.


Malam ini Divya tidak ada jadwal pemotretan dan menyempatkan menghubungi Fajrin. Tapi berkali-kali Divya menghubunginya berkali-kali pula Fajrin mengabaikannya, membuat Divya kesal dan jengkel. Divya kesal dan melampiaskan dengan menyembunyikan kepalanya di bawah bantal.


“ sayang sedang apa? “ gumam Divya yang kesal tidak bisa menghubungi Fajrin.


Selama 10 menit Divya masih memikirkan Fajrin, tiba-tiba ponselnya berdering seketika tangan kirinya meraba-raba mencari ponsel dan menekan tombol terima panggilan.


“ hallo.... “ suara ketus Divya membuat Fajrin terkejut.


“ ..... Assalamualaikum Divya “ suara pelan Fajrin seketika membuat Divya duduk dan menekan tombol loudspeaker.


“ ayang.... kenapa baru telpon.... Divya kangen “ suara manja Divya membuat Fajrin di ujung panggilan menjadi sedikit malu karena saat ini sedang istirahat sholat Magrib dan makan malam.


Seharian Fajrin tidak bisa menerima atau menghubungi Divya karena sedang menjadi dosen tamu di jurusan teknik sipil juga di jurusan teknik Arsitektur kampus almamaternya, sepulang dari sebagai dosen tamu Fajrin segera meluncur ke sebuah hotel untuk mengisi seminar yang di hadiri para insinyur arsitektur dan insinyur sipil. Fajrin di dapuk untuk memberikan materi berupa Arsitektur post modern.


“ maaf..... seharian ayang sibuk di luar kantor.... ini baru saja selesai seminarnya. “ Divya terkejut mendengar kata seminar.


“ Jadi seminar lebih penting dari pada menerima telpon Divya? Ya sudah kalau begitu teleponnya Divya tu.... “ belum selesai ucapan Divya terdengar seseorang memanggil Fajrin untuk kembali mengisi seminar.


“ Divya..... ayang tutup dulu ya.... ayang sudah di panggil untuk mengisi sesi ke-3...” ucapan Fajrin membuat Divya berteriak.


" jangan " suara keras Divya membuat Fajrin sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.


“ tidak mau.... jangan di matikan ponselnya... Divya mau dengar ayang seminar.... Divya kangen “ suara manja dan merajuk Divya membuat Fajrin tidak tega memutus panggilan teleponnya.


“ iya..... ayang nyalakan ponselnya.... tapi jangan berisik ya... “ ucap Fajrin dan melangkah kembali masuk ke sebuah hall untuk melanjutkan mengisi seminar sesi ke-3.


“ I love you ayang “ ucap Divya senang.


Fajrin tersenyum tipis mendengar ucapan Divya, memasang earphone bluetooth agar bisa mendengarkan suara Divya dan memasukkan ponselnya ke saku kemeja.


Fajrin mulai memaparkan materi sesi ke-3 tentang Arsitektur neo-vernakular, sementara Divya mendengarkan suara Fajrin dengan ponselnya.


“ Membahas Arsitektur neo-vernakular, tidak hanya menyangkut elemen-elemen fisik yang diterapkan dalam bentuk modern tapi juga elemen non fisik seperti budaya, pola pikir, kepercayaan, tata letak, religi dan lain-lain. Bangunan adalah sebuah kebudayaan seni yang terdiri dalam pengulangan dari jumlah tipe-tipe yang terbatas dan dalam penyesuaiannya terhadap iklim lokal, material dan adat istiadat. Neo sendiri berasal dari bahasa yunani yang digunakan sebagai fonim yang berarti baru. Jadi neo-vernacular berarti bahasa setempat yang di ucapkan dengan cara baru, arsitektur neo-vernacular adalah suatu penerapan elemen arsitektur yang telah ada, baik berupa bentuk atau konstruksi mau pun berupa konsep atau filosofi atau tata ruang. “ Divya mendengarkan suara Fajrin dan semakin membuatnya kangen.


Fajrin menahan senyumnya mendengar ucapan Divya.


“ eh... lihat Pak Fajrin tersenyum “


“ manis juga kalau si bapak tersenyum begitu “


“ sudah punya pacar belum ya? “


“ aku mau jadi pacarnya "


“ aku juga bersedia menjadi pacarnya “


Beberapa obrolan para peserta seminar wanita yang sempat melihat senyum tertahan Fajrin.


“ ciri-ciri Arsitektur Neo-Vernacular sebagai berikut Selalu menggunakan atap bumbungan, Atap bumbungan menutupi tingkat bagian tembok sampai hampir ke tanah sehingga lebih banyak atap yang di ibaratkan sebagai elemen pelidung dan penyambut dari pada tembok yang digambarkan sebagai elemen pertahanan yang menyimbolkan permusuhan. Bangunan yang didominasi penggunaan batu bata merupakan budaya dari arsitektur barat. Mengembalikan bentuk-bentuk tradisional yang ramah lingkungan dengan proporsi yang lebih vertikal. Kesatuan antara interior yang terbuka melalui elemen yang modern dengan ruang terbuka di luar bangunan. Warna-warna yang kuat dan kontras. “ penjelasan Fajrin membuat para peserta seminar wanita semakin semangat mendengarnya, begitu juga dengan Divya.


“ kalau ciri-ciri pria yang Divya suka.... semua ciri-cirinya ada pada ayang..... ayang kangen “ suara manja Divya kembali membuat Fajrin menahan senyum.


Para peserta seminar wanita yang hadir semakin berbisik-bisik saat melihat senyum tertahan Fajrin. Karena ucapan Divya semakin membuat Fajrin susah berkonsentrasi akhirnya Fajrin meminta waktu 5 detik untuk memutus panggilan ponselnya.


Meski pun Divya merajuk dan kesal karena Fajrin memutuskan panggilan tapi Divya juga tidak bisa protes.


“ terima kasih sudah memberi saya 5 detik untuk menutup panggilan ponsel saya.” Ucap Fajrin dengan sopan.


“ panggilan dari kekasih bapak? “ tanya seorang peserta seminar.


Fajrin tersenyum mendengar pertanyaan tersebut.


“ wa..... kita-kita jadi patah hati berjamaah kalau bapak sudah punya kekasih “ celetuk seorang notulen wanita.


“ masih ada saya yang masih jomblo... kalau beliau saya yakin bukan hanya sekadar kekasih tapi calon istri “ celetuk seorang arsitek yang duduk di sebelah Fajrin.


Fajrin hanya mengulas senyum menanggapi itu semua dan kembali memaparkan tentang arsitektur neo vernakular. Seminar sesi tiga ini berakhir pukul 9 malam, Fajrin mengemasi laptop dan memasukkan ke dalam tas punggungnya. Karena sudah malam dengan terpaksa Fajrin menolak beberapa peserta seminar wanita yang ingin foto berdua dengannya, bukan tanpa alasan Fajrin menolak permintaan mereka tapi Fajrin tidak ingin timbul kesalah pahaman dengan Divya di lain hari.


“ maaf saya tidak bisa menerima ajakan kalian untuk foto hanya berdua..... kalau fotonya bersama-sama dengan yang lain saya akan dengan senang hati menerima ajakan anda semua. “ ucap Fajrin menolak permintaan seorang wanita yang tampil seksi di depannya.


Fajrin cukup tahu diri bagaimana menjaga sebuah kepercayaan.