My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 159 KELUARGA BESAR



Hari-hari Divya mulai di sibukkan dengan mendesign pakaian syar'i di rumah Fajrin, setiap pukul 8 pagi Divya sudah berada di rumah Fajrin bersama Nenek Ina dan Liam juga Reo yang menemani Divya hingga pukul 4 sore. Karena rumah Fajrin yang tidak sebesar kediaman Davis tapi lumayan besar kalau hanya Fajrin saja yang menempati, membuat Nenek ina tergelitik untuk menasehati Divya. Di sela-sela Divya mendesain pakaian syar'i, Nenek Ina selalu menasehati Divya tentang sosok Fajrin berdasarkan pengamatan mata wanita yang usianya sudah lebih dari setengah abad.


“ Nenek perhatikan selama ini..... Fajrin pria yang sabar...... baik.... tidak berlebihan dengan apa yang sudah dia miliki..... dari pertama kali Nenek lihat.... dia sangat menjaga apa yang dia miliki...... motor tuanya saja dia jaga apa lagi kamu kalau kalian sudah sah menjadi suami istri..... “ nasehat Nenek Ina membuat Divya tersenyum bahagia.


Hari bergulir dengan cepat saat keduanya sibuk dengan aktivitas masing-masing dan tak terasa sudah hari ini waktunya keluarga besar Lohia dan Surendra bertemu untuk pertama kalinya, tanpa Fajrin sadari ada seseorang yang menatapnya dengan terharu karena apa yang Fajrin kenakan hari ini kemeja batik yang sama dengan tunik Divya membuatnya teringat akan wajah seseorang yang sangat berjasa di keluarganya.


“ Ralf ... det er på tide at du overfører overskuddet fra aksjene til kontoen hans (Ralf.... sudah waktunya kamu memindahkan keuntungan dari saham itu ke rekeningnya) “ ucap Erhan dengan air mata yang mulai mengalir pelan di pipi keriputnya.


“ høyre sir .... denne gangen og fremover .... han kommer til å være i akutt nød (benar tuan.... saat ini dan seterusnya.... dia akan sangat membutuhkan) “ ucap Ralf dengan membungkukkan badannya sedikit agar suara pelannya terdengar oleh Erhan.


Freya hanya menceritakan bahwa dirinya dan Selo akan bertemu dengan keluarga besar Lohia untuk memperkenalkan diri bahwa mereka adalah keluarga Fajrin juga, tapi entah dapat informasi dari mana hingga Erhan memutuskan untuk terbang ke Jakarta.


Taman belakang hotel Surendra sudah di sulap menjadi suasana pesta kebun dengan tema kehangatan keluarga besar. Keluarga besar Lohia dan Prakash sudah dari 2 hari yang lalu datang dan bermalam di hotel ini, Jason melakukannya karena tidak ingin terlalu ribet dengan akomodasi antar hotel mengingat keluarga Lohia dan Prakash termasuk keluarga besar.


Azkar beserta istri dan anak-anaknya, Norin dan Dean, Selo dan Freya, Erhan dengan beberapa pengawalnya juga keluarga besar Surendra sudah berada di taman belakang hotel. Mereka berusaha menjadi tuan rumah yang baik menjamu keluarga besar Lohia dan Prakash yang sudah jauh-jauh datang dari Canada demi acara ini. Divya yang mengabaikan setiap ucapan Dipta dan hanya memandang Fajrin yang tertunduk malu, Fajrin merasa sangat terharu karena meski pun kedua orang tua dan adiknya tidak ada disini tapi keluarga besar sahabat orang tuanya hadir untuk dirinya.


Saat acara inti di mulai kedua keluarga besar duduk di kursi yang sudah tertata rapi sesuai dengan keluarga masing-masing, Selo sebagai orang yang terdekat dengan orang tua Fajrin mulai memperkenalkan satu persatu siapa saja yang hadir disini. Selo bahkan sedikit banyak menceritakan bagaimana keluarga besar Surendra bisa datang ke acara ini karena mengingat sepengetahuan Davis bahwa Fajrin hanya tinggal berdua dengan dengan adiknya.


“ kedua orang tua Fajrin adalah sahabat saya dan istri saya, saya dan istri saya bertemu karena jasa kedua orang tua Fajrin. Almarhum Woro sahabat saya yang sebenarnya adalah salah satu anak angkat kedua orang tua saya, sedangkan Almarhumah Asma adalah sahabat istri saya sewaktu kuliah di Universitas Oslo. Mereka berdua sama-sama mahasiswa yang mendapatkan beasiswa hanya saja mereka berbeda dalam mengambil jurusannya. “ mendengar penjelasan Selo membuat Fajrin tertegun karena selama hidupnya Asma tidak pernah menceritakan sama sekali tentang keluarga Surendra yang menjadi keluarga angkat Woro.


Azkar yang duduk tepat di sebelah Fajrin memijat pelan bahu kanan dan memberikan selembar tisu pada Fajrin.


“ kita sudah menjadi keluarga dari sejak kita lahir “ suara pelan Azkar membuat Fajrin tidak bisa menahan air mata, tisu di tangannya basah dengan air matanya.


“ terima kasih sudah menjaga kami “ ucap Fajrin pelan dengan suara berat menahan air mata.


Fajrin tak mampu menegakkan kepalanya karena air matanya masih menetes, mengetahui kebenaran di balik semua perlakuan Azkar pada dirinya juga Nara membuatnya tak mampu membendung air mata. Selama ini Fajrin hanya tahu kalau kedua orang tuanya adalah sahabat kedua orang tua Azkar, sahabat yang saling membantu selama hidup di Norwegia. Setelah Selo memperkenalkan satu persatu keluarganya dan Erhan ayah mertuanya, kini giliran Dipta memperkenalkan satu persatu keluarga besar Lohia dan Prakash. Hanya Ditya saja yang tidak hadir karena Ditya masih bersikeras tidak akan meminta maaf pada Fajrin.


Acara perkenalan keluarga besar berlangsung hingga pukul 12 tepat, dan mereka selanjutnya menikmati makan siang yang sudah di sajikan di belasan deret meja yang menyajikan makanan khas Indonesia. Fajrin mencoba memberanikan diri mendekati Divya yang sedari tadi berbicara dengan para saudara sepupunya. Fajrin hanya bisa berdiri diam menunggu Divya menyadari kehadirannya, tapi salah seorang sepupu Divya memberi isyarat mata bahwa Fajrin berdiri di belakangnya. Divya tersenyum dan membalikkan badannya melihat Fajrin yang memegang 2 piring kecil berisi irisan buah segar.


“ mau ini? “ ucap Fajrin sambil menyodorkan 1 piring kecil pada Divya.


“ ayang.... kenapa malu-malu begini.... “ goda Divya membuat Fajrin semakin tidak berani melihat wajah Divya.


“ jadi kemarin-kemarin tidak cantik “ ucap Divya cemberut dan melangkah pelan sedikit menjauh dari Fajrin.


Karena Divya melangkah menjauh membuat Fajrin melangkah lebar mengikuti Divya hingga mereka menjadi pusat perhatian Azkar dan Helen. Membuat Azkar tergelitik untuk menjahilinya.


“ mentang-mentang sudah semakin dekat sudah berani bercanda “ suara Azkar membuat Fajrin menghentikan langkahnya begitu juga dengan Divya.


Helen memeluk hangat Divya dan mengajaknya duduk di area tempat duduk keluarga Surendra, sementara Azkar sibuk menjahili Fajrin sepasang mata senja melihatnya dengan haru. Azkar paham siapa yang memperhatikan Fajrin dan mengajak Fajrin mendekatinya.


“ Fajrin.... sepertinya eyang Wingga ingin berbicara denganmu “ ucap Azkar sambil menepuk punggung Fajrin.


Saat Fajrin tepat berdiri di depan Wingga dengan bantuan Selo, Wingga berusaha berdiri seketika memeluk erat Fajrin dan menangis.


“ kenapa kalian kembali ke jakarta tidak bilang pada eyang.... kenapa baru sekarang eyang melihatmu... kalau Selo tidak menceritakan semua ini bagaimana eyang bisa mengenalimu sebagai anak Woro. “ ucap Wingga dengan air mata yang sudah tidak dapat dia tahan.


Selo menahan tubuh Wingga agar tidak terjatuh, Fajrin memeluk erat tubuh renta Wingga dan ikut menangis.


“ maafkan ayah..... maafkan kami yang tidak tahu berterima kasih pada eyang “ suara serak Fajrin membuat Azkar juga Selo menahan air mata.


Untuk beberapa saat Wingga memeluk Fajrin melepaskan rasa kangennya pada sosok Woro, salah satu anak angkatnya yang sangat cerdas dan pantang menyerah demi mengejar cita-citanya.


“ Romo kita duduk saja.... ini hari bahagia jangan menangis mengingat masa lalu “ ucap Selo membuat Wingga melepas pelukkan pada Fajrin.


Divya mendekati Fajrin yang sudah duduk bersama Azkar, Selo juga Wingga.


“ kemarilah “ ucap Fajrin pada Divya yang berdiri di belakang Azkar.


“ wanita manja duduk sana “ ucap Azkar membuat Divya mengerucutkan kedua bibirnya.


“ mulai sekarang.... kalian harus mengingat bahwa kalian memiliki keluarga besar dari Jogja. “ nasehat Wingga.