My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 96 PENGAKUAN DAVIS



Divya bingung dengan reaksi Davis, Divya segera berlutut di hadapan Davis melihat ada butiran air mata berjatuhan dari wajah Davis yang tertunduk.


“ Wa'alaikumsalam Lydia sayang “ ucapan pertama keluar dari mulut Davis dengan suara terbata-bata karena tangisnya.


“ pi.... ini Divya.... bukan Lydia “ ucap Divya heran juga bingung.


“ kamu Lydiaku.... kalian orang yang sama “ ucap Davis dengan masih menangis.


“ apa Divya memiliki saudara kembar? “ tanya Divya heran.


Divya tidak pernah tahu nama dan wajah maminya karena Davis membawa semua benda dan foto Lydia ke Montreal. Davis mengeluarkan sebuah dompet tipis dari dalam saku kemejanya dan membuka dompet itu menunjukkan pada Divya. Seketika kedua mata Divya membulat sempurna melihat foto tersebut, Divya meraba kedua pipinya bergantian meraba hidung, bibi, mata, dahi, juga rambutnya.


“ bagaimana bisa Divya berfoto bersama papi? “ tanya Divya heran.


“ dia Lydia.... mami kamu istri papi “ ucap Davis dengan suara terbata-bata dan kembali meneteskan air mata.


Seketika Divya lemas dan tak sadarkan diri, Davis segera menghapus air matanya melihat Divya yang tak sadarkan diri. Dengan sigap Davis mengangkat tubuh putrinya yang pingsan dan melangkah menuju sofa meletakkan Divya di atas Sofa. Davis panik memanggil Jason untuk membawakan air hangat atau memanggil dokter keluarga untuk Divya.


Serorang pelayan menyerahkan sebotol kecil minyak kayu putih dan teh madu hangat, Davis mengusap pelan kulit pelipis dan kulit di antara hidung dan bibir dengan jari telunjuknya yang sudah terdapat cairan minyak kayu putih. Davis menggenggam erat tangan kanan Divya.


“ Lydia sayang.... jangan tinggal aku lagi “ ucapan pelan Davis membuatnya kembali meneteskan air mata.


Beberapa menit kemudian Jason masuk bersama seorang dokter keluarga, dokter hanya memeriksa suhu tubuh dan denyut nadi Divya. Jason melihat wajah Divya dengan kagum juga terkesima karena baru kali ini melihat wajah Divya yang tenang.


“ sepertinya Divya hanya kelelahan dan stress.... tuan Davis bisa berikan ini saat Divya sadar nanti “ ucap Dokter tersebut dan keluar dari ruang kerja.


“ Jason.... dari mana Divya berpakaian seperti ini? “ pertanyaan Davis membuat Jason tidak berani berkata-kata.


“ apa dia mencoba melarikan diri? Panggil Austin kemari “ meskipun suara Davis terdengar sudah tenang tapi tetap saja Jason tidak berani mengatakan apa pun dan segera keluar dari ruang kerja Davis.


Setelah menunggu beberapa menit Jason dan Austin masuk, dengan isyarat tangannya Davis menunjuk Divya seketika tubuh Austin menjadi tegang.


“ maafkan kelalaian kami tuan “ ucap Austin tertunduk.


Karena Davis sedang tidak ingin emosi dan suasana hatinya sangat senang karena Divya mau berbicara sopan dengan dirinya, Davis menyuruh Jason dan Austin keluar dari ruang kerjanya.


“ Lydia..... putri kita sangat mirip denganmu.... aku melewatkan banyak waktu...... kenapa kamu meninggalkan aku secepat itu..... seharusnya kamu menemaniku membesarkan putri kita “ gumam Davis dan kembali meneteskan air mata.


Davis duduk di meja kayu depan sofa tempat Divya berbaring, membelai rambut dan mencium dahi Divya membuat Davis semakin merasa rindu dengan Lydia.


“ maafkan papi.... bukan papi bermaksud mengabaikan kamu.... tapi papi sangat tertekan dengan kehilangan mami kamu..... bukan papi menyalahkanmu tapi papi tidak siap untuk sendiri tanpa mami kamu di sisi papi. Papi merasa tertekan, takut, sedih, resah dan kecewa... setiap malam melihatmu menangis membuat papi semakin sedih, takut, dan tertekan “ Davis diam sesaat untuk menarik nafas panjang karena dadanya terasa sesak.


Divya duduk menghadap Davis yang sudah tertunduk sedih, Divya ingin sekali menggenggam kedua tangan papinya.


“ papi sangat takut menggendongmu papi takut kalau papi menyakitimu.... sampai papi memutuskan untuk memanggil Bu Ina dan memintanya untuk tinggal dan merawatmu..... setiap kali papi mendengar suara tangismu, hati papi sangat hancur.... “ jelas Davis yang masih tertunduk dan mengusak air matanya.


“ kenapa harus bi Ina? “ tanya Divya heran.


“ Bu Ina.... beliau Ibu angkat mami kamu.... Bu Ina sudah merawat mami kamu dari kecil..... Bu Ina sudah menganggap mami kamu sebagai anaknya sendiri. “ Divya tersentak mendengar pengakuan Davis yang di luar pemikirannya selama ini.


“ jadi bi Ina itu..... nenek Divya.... “ ucap Divya tidak percaya dan matanya mulai berkaca-kaca.


Davis menganggukan kepala menjawab pertanyaan Divya, pintu ruang kerja Davis terbuka dan seseorang masuk. Divya terkejut juga senang melihat sosok yang selama ini merawatnya. Saat Divya tidak sadar, Davis mengirim pesan pada Bu Ina untuk datang ke kediamannya.


“ Nenek..... kenapa nenek tidak bilang? Kenapa Nenek tidak cerita? “ ucap Divya yang sudah berdiri dengan mata berkaca-kaca.


“ kamu tidak suka kalau tinggal sama Nenek? “ Divya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Bu Ina dan memeluk erat wanita yang sudah membesarkannya dengan sabar dan penuh kasih sayang.


“ terima kasih sudah menjaga Divyaku “ ucap Davis yang sudah berdiri di belakang Divya dengan tertunduk


“ Divya cucuku juga....... lebih baik Ibu yang merawat Divya dari pada orang lain “ ucap Bu Ina dengan suara pelan dan berganti memeluk Davis yang masih tertunduk.


Akhirnya mereka bertiga duduk di sofa. Davis menceritakan semua pada Divya bagaimana mengenal Lydia, bagaimana perjuangan Lydia membantu bisnis tekstil Davis dari nol yang sekarang di pegang oleh Dipta, bagaimana Lydia meyakinkan keluarga besar Lohia bahwa Lydia mencintai Davis bukan karena harta. Davis menceritakan bagaimana keluarga besar Lohia menyingkirkan dirinya dari kerjaan bisnis petrokimia keluarga hingga membuat Lydia harus bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik konveksi hingga memutuskan untuk membuat perusahaan tekstil berskala kecil dan berkembang menjadi seperti sekarang. Davis menceritakan juga bagaimana Lydia membuatnya percaya diri dengan kemampuannya tanpa dukungan dari keluarga besar Lohia.


Divya mendengarkan semua cerita Davis tanpa menyela sedikit pun. Suara Davis menjadi berat saat menceritakan bagaimana beratnya perjuangan Lydia melahirkan Divya hingga membuat Davis terpuruk, tertekan, sedih dan takut.


“ kenapa papi membawa semua benda milik mami? “ pertanyaan Divya membuat Davis menarik nafas panjang.


“ papi tidak bisa melupakan mami kamu.... apa lagi saat melihatmu tumbuh remaja hingga sekarang.... kamu sangat mirip sekali dengan mami kamu..... bahkan saat kamu mengucapkan salam...... papi seperti mendengar suara mami kamu “ ucap Davis yang mulai bisa menguasai air matanya.


“ papi..... maafkan Divya sudah berpikir jelek tentang papi.... selama ini Divya berpikir kalau papi tidak menginginkan Divya “ ucap Divya dan mendapat pelukan hangat dari Davis.


“ mana ada bapak tidak menginginkan anak perempuan “ ucapan Bu Ina dan membelai rambut Divya.


“ maafkan papi juga.... papi tiba bisa berada di sampingmu..... “ ucapan Davis mendapat anggukan kepala Divya membuat Divya tersenyum dalam pelukan Davis.