My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 57 SARAN AZKAR



Pagi ini seharusnya Fajrin berada di lokasi project, tapi berkat informasi Jatinra yang mengatakan bahwa di sekitar lokasi project sudah menunggu para wartawan mencari sosok Fajrin. Hanya Fajrin saja yang tidak ke lokasi project dia mengisi waktu dengan membuat dan menyusun laporan bulanan terkait perkembangan project dan juga stok material yang harus segera di kirim oleh Surendra New Delhi. Tiba-tiba layar laptopnya menampilkan notifikasi panggilan skype dari Nara, Fajrin segera menekan notifikasi itu.


“Assalamu'allaikum dik” ucap Fajrin sambil memeriksa laporan pemakaian material dari Andra.


“wa'alaikumsalam kak..... kakak sibuk?” tanya Nara sambil berusaha melihat tumpukan kertas laporan.


“sedikit ada apa? Apa adik sudah berhasil memblokir semua berita yang kakak minta?” tanya Fajrin sambil menata berada tersebut.


“hehehehe..... sudah beberapa tapi beberapa ada yang tidak bisa Nara blokir..... karena beritanya tidak hanya menyebar di media elektronik tapi juga media cetak dan juga di sosial media..... kalau di sosial media Nara kesulitan masuk ke server database pemilik aplikasi sosial media itu.... kalau Nara ketahuan meretas server mereka nanti Nara di buru polisi cyber negara tempat server itu berada.” Jelas Nara dengan cemberut.


“ya sudah sebisa kamu saja dik..... asalkan beritanya tidak semakin meluas dan tidak semakin menggiring publik untuk berpikir yang aneh-aneh.” Ucap Fajrin yang sudah melihat ke layar laptop.


“kalau untuk itu jujur Nara tidak bisa mengendalikan karena publik menulis opini mereka di server pemilik aplikasi sosial media itu dan apa yang mereka tulis pasti tersimpan di database server pemilik aplikasi sosial media itu...... itu yang tidak mungkin dan tidak bisa Nara kendalikan" jelas Nara yang membuat kepala Fajrin pening.


“dik.... aku hold dulu ya.... bang Azkar mencoba menghubungi kakak" ucap Fajrin dan menekan tombol hold call untuk menerima panggilan skype Azkar.


“Assalamu'allaikum bang" salam Fajrin


“Wa'alaikumsalam.... apa kamu sedang online dengan seseorang?” pertanyaan Azkar membuat Fajrin menganggukan kepalanya sekali.


“siapa? Divya?” ucap Azkar menggoda Fajrin.


“tidaklah bang.... sama Nara" jawab Fajrin sambil menekan tombol hold call sehingga sekarang mereka bertiga dan saling berkomunikasi.


“ooooh.... aku kira....” ucap Azkar sambil menahan tawa.


“bagaimana kuliah kamu Nara" tanya Azkar.


“Alhamdulillah lancar bang..... terima kasih" ucap Nara sambil tersenyum dan terlihat jelas dengan kedua matanya yang menyipit.


“memangnya bang Azkar habis memberi kamu apa sampai kamu bilang terima kasih?” tanya Fajrin yang mulai curiga kalau Nara menyembunyikan sesuatu darinya.


“terima kasih karena dua pengawal bang Azkar sudah menemani Nara di rumah dan membantu Nara membersihkan rumah" ucap Nara berusaha bersikap biasa saja.


Azkar tersenyum mendengar ucapan Nara.


“awas kalau kamu menyembunyikan sesuatu dari kakak..... aku kembalikan lagi kamu ke Lampung.” Ucapan Fajrin yang terkesan sedikit memberi ancaman pada Nara membuat Nara melambaikan kedua tangannya sebagai isyarat bawah dia tidak berani menyembunyikan apa pun dari Fajrin.


“baguslah..... belajar yang rajin semua nilai harus A jangan malas jangan kebanyakan main tetris.” Nasehat Fajrin membuat Azkar menahan tawanya


“kak.... sudah dulu ya.... Nara ada kuliah lima belas menit lagi.... bang Azkar sekali lagi terima kasih.... Assalamualaikum” ucap Nara dan segera memutus panggilan skype.


Fajrin dan Azkar kembali berbincang-bincang mereka membahas perkembangan dan permasalahan yang di hadapi di lokasi project, sesekali Fajrin menunjukkan laporan yang telah di buat oleh Irvan dan rekan-rekannya. Fajrin terlihat sangat serius dan antusias jika membicarakan tentang perkembangan dan permasalahan project yang mereka kerjakan saat ini, dan timbul dalam pikiran Azkar untuk mencari tahu apa keputusan Fajrin terkait Divya. Seketika raut wajah Fajrin berubah menjadi gusar dan gelisah.


Azkar merasa senang dan tertawa puas karena berhasil membuat raut wajah Fajrin berubah menjadi gelisah.


“kamu mau mendengarkan saranku?” tanya Azkar dengan serius.


“bang.... jangan memberi saran yang aneh-aneh.... kepalaku sudah cukup pening membaca berita itu.” Ucap Fajrin lemas.


“lakukan seperti yang Abah lakukan padaku" seketika tubuh Fajrin menegang dan kedua matanya menyipit mencari tahu keseriusan di wajah Azkar.


“maksud abang?” tanya Fajrin menyakinkan maksud Azkar.


“kamu pasti tahu apa yang sudah Abah lakukan sampai aku bisa memiliki Helen.... kamu lakukan hal yang sama seperti Abah" ucap Azkar serius.


“aku bukan Abah yang punya keyakinan besar bisa merubah abang..... “ ucap Fajrin lesu.


“kamu pasti bisa.... apa kamu lupa saat kamu mendidik Nara menyuruhnya memakai hijab?” ucapan Azkar membuat Fajrin teringat pertama kali dia memarahi Nara karena keluar rumah tanpa hanya mengenakan kaos tanpa lengan dan celana setinggi paha.


“iya aku masih ingat" ucap Fajrin sambil menghela nafas panjang.


“kamu lakukan hal yang sama sekali lagi..... pasti kamu bisa.... dan aku yakin pasti Dipta akan mendukungmu sepenuhnya.... dan satu lagi yang bisa menguatkan kamu..... Almarhumah mami Divya adalah wanita berhijab....... meskipun tak selebar Helen atau pun Nara.... dan aku yakin kalau kamu bisa sedikit saja membuat Divya menjadi lebih baik dari yang sekarang tidak terlalu banyak Sale.... papi Divya akan mendukungmu" ucap Azkar mencoba meyakinkan Fajrin yang terlihat jelas gelisah kuatir juga takut.


NEW DELHI


Sementara di apartemen tempat Divya tinggal, para wartawan masih saja menunggu klarifikasinya membuat Divya malas untuk keluar dan memilih berdiam diri di kamar sambil memandangi sosok Fajrin yang bertebaran di media electronic.


“kemana Elena.... kemana yang lain....” gumam Divya mencari Elena yang biasanya sudah menyodorinya jadwal untuk tiga hari kedepan.


“apa hari ini tidak ada jadwal pemotretan?” gumam Divya sambil mencoba menghubungi Elena.


Beberapa kali Divya menghubungi ponsel Elena dan beberapa kali pula panggilan Divya di tolak, membuat Divya kesal dan bad mood.


“kemana mereka.... apa aku di tinggal sendirian di apartemen ini...... jahat sekali mereka......” gerutu Divya sambil mencoba menghubungi Joana dan yang lainnya.


Karena kesal merasa di tinggal sendiri, Divya menyalakan televisi dan mendapati berita tentang dirinya semakin ramai. Terlihat jelas di layar televisi sebuah kanal media menampilkan dirinya yang di angkat oleh Fajrin yang sedang berjalan masuk ke dalam lift. Seketika Divya membuka mulutnya tidak percaya dengan komentar pembawa berita yang mengatakan bahwa Divya memiliki hubungan dengan pria misterius.


Divya mencoba menghubungi Joana dan kali ini Joana mengangkatnya.


“jo.... dimana kamu?.....kemana yang lain?..... apa kalian meninggalkan aku sendiri di apartemen ini?” Divya memburu joana dengan berbagai pertanyaan dan belum sempat Divya melanjutkan pertanyaanya, Joana dan Elena masuk memandangnya dengan tatapan bingung juga heran.