
Divya dan Fajrin yang sedang duduk berhadapan seketika melihat ke arah pintu mendapati Elena dan Patrick yang melihat mereka dengan tatapan tidak percaya.
“ Divya wait....don't put that food in your mouth (Divya tunggu.... jangan masukkan makanan itu ke mulut kamu) “ teriak Patrick yang sudah berjalan cepat mendekati Divya dan merebut sendok yang Divya pegang.
Divya menggenggam erat sedok di tangannya dan mempertahankan sendok tersebut membuat Patrick geram.
“ Patrick, leave Divya only for today (biarkan Divya untuk hari ini saja) “ ucap Elena yang sudah berdiri di samping Patrick.
Seketika patrick melepas tangan Divya yang memegang sendok, Fajri melihat bagaimana Patrick dengan santainya menggenggam tangan Divya dan Divya pun bersikap biasa saja tanpa ada rasa sedih atau bahwa Patrick sudah menggenggam tangannya. Fajrin menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan kecewa juga sedih, karena dia melihat sendiri bagaimana Divya bersikap di dekat seorang pria yang bukan mahramnya dan sepertinya Divya sudah melupakan atau tidak mengerti apa yang sudah dia jelaskan saat mereka melangkah menuju ballroom.
Patrick pelan-pelan melepas tangan Divya dan melihat isi dari sup yang Divya makan, Fajrin menatap Patrick dengan tatapan tidak suka.
“ who cook this soup (ini sup siapa yang masak)? “ tanya Patrick heran dan melihat Divya juga Fajrin bergantian.
Divya mengabaikan pertanyaan Patrick dan masih saja memasukkan potongan sayuran ke dalam mulutnya.
“ there's no way you cooked this, you even can't make beef eye eggs (tidak mungkin kamu yang memasak ini, kamu bahkan tidak bisa membuat telur mata sapi) “ ucap Patrik sambil melihat Divya yang mengabaikannya.
“ Who do you think cooked this (menurut kamu siapa yang memasak ini)? “ tanya Divya membuat Patrick melihat wajah Fajrin yang terlihat jelas tidak suka pada Patrick.
“ it's impossible for you to cook this, this menu is very healthy almost no oil at all.... and this smell.... the smell of onions, the smell of garlic and ginger (tidak mungkin anda yang memasak ini, menu ini sangat sehat hampir tidak ada minyak sama sekali.... dan bau ini.... bau bawang bombai, bau bawang putih juga jahe). “ ucap Patrick sambil mengendus asap dari sup yang Divya makan.
“ what you say is true... I cooked this without oil without butter or margarine (benar sekali apa yang anda ucapkan... saya memasak ini tanpa minyak tanpa mentega atau pun margarine) “ satu kalimat meluncur dari mulut Fajrin yang terdengar dingin menurut Elena.
Elena membuka mulutnya tidak percaya mendengar ucapan Fajrin, karena selama ini Patrick sangat ketat dalam mengatur semua makanan yang boleh Divya makan.
“ did you make this? Are you a nutritionist? (anda yang membuat ini? Apa anda seorang ahli gizi?) “ tanya Patrick heran.
Elena dengan isyarat tangan dan mata meminta Patrick untuk berhenti berbicara, Patrick melihat Elena dengan heran dan mereka berdua seperti mulai berbicara dengan kedua mata mereka. Hingga Patrick tidak percaya dengan gerak bibir yang Elena lakukan dan membuat Patrik membuka mulutnya menatap Fajrin tidak percaya.
“ seriously (serius)? “ ucap Patrick masih tidak percaya sambil melihat Fajrin.
Elena menganggukan kepalanya membuat Patrik malu dan menarik sebuah kursi tepat disebelah Fajrin. Patrick tertunduk malu tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun hanya tangannya yang sibuk mengeluarkan beberapa kotak makanan yang sudah dia buat di unitnya.
“ So where were you yesterday? Did Mr. Fajri stay here last night? (jadi kemarin kalian kemana saja? Apa tadi malam pak Fajri menginap disini?) “ goda Elena sambil melihat tas punggung Fajrin yang tergeletak di sudut sofa.
Fajrin yang mendengar ucapan Elena tersedak ludahnya sendiri membuat Divya menyodorkan segelas air mineral yang berada di depannya dan belum sempat dia minum. Fajrin meraih gelas tersebut dan meminum seteguk.
“ He wouldn't dare stay here, He’s afraid of making mistakes (mana berani kak Fajrin menginap di sini, kak Fajrin takut khilaf) “ ucapan Divya yang terdengar tanpa penyaring membuat Fajrin memijat pelipisnya pelan.
Elena tersenyum menahan tawa mendengar pengakuan Divya dan melihat wajah Fajrin yang terkesan biasa saja.
“ So since when the bag has been on the sofa? (lantas sejak kapan tas itu berada di sofa)? “ tanya Elena membuat Fajrin menggelengkan kepalanya.
“ So today you guys continue yesterday's date (jadi hari ini kalian melanjutkan kencan yang kemarin)? “ Divya menganggukan kepala menjawab pertanyaan Elena.
Fajrin melihat Divya sambil memijat kepalanya yang terasa pening karena Divya makan sambil berbicara dan ucapnya seperti tidak tersaring.
“ Ya ALLAH..... ini benar-benar lebih sulit dari adik.... beri hamba kesabaran yang luas seluas semesta-Mu.... untuk membimbing dia menjadi lebih baik “ gumam Fajrin dalam hati sambil menarik nafas panjang.
Melihat Divya yang semakin asik berbicara dengan Elena sambil tangan kanannya yang tidak berhenti memasukan sendok demi sendok sayuran dari sup yang dia buat. Fajrin tidak bisa memperingatkan Divya dengan menyela membicaraan antara Divya dan Elena, Fajrin hanya melihat saja kedua wanita itu berbicara dan sepertinya semakin menyenangkan.
Tiba-tiba ponsel Fajrin berdering membuat Fajrin segera berdiri mengambil ponselnya yang berada di meja dekat sofa. Elena, Divya juga Patrick melihat Fajrin dengan heran
“ Assalamu'allaikum bang “ salam Fajrin.
“ ..... “ Fajrin heran kenapa Azkar bertanya begitu.
“ di apartemen Divya, kenapa bang “ Fajrin menjawab dengan jujur seperti tidak tahu telah terjadi sesuatu.
“ ....... “ Fajrin memijat dahinya mendengar pertanyaan Helen.
“ tidaklah.... aku baru datang pagi tadi jam sembilan lebih sedikit. Kenapa? “ tanya Fajrin heran.
“ ...... “ Fajrin menghembuskan nafas dengan kasar mendengar nada suara Helen.
“ aku masih bisa menjaga diriku dan aku cukup tahu diri siapa aku.... memangnya suami kamu yang malam-malam menyusup ke kamarmu hanya untuk melihat wajahmu.... tinggal semalam saja sudah tidak tahan tidak melihat wajahmu “ ucap Fajrin sambil tersenyum lebar mengingat cerita Helen.
“ ..... “ Fajrin tersenyum lebar mendengar teriakan Azkar
“ ada sesuatukah bang.... laporan project? Pulang dari New Delhi akan langsung aku email.” Ucap Fajrin yang masih tidak bisa menebak tujuan Azkar menghubunginya.
“.... “ Fajrin mengerutkan kulit di antara kedua alisnya mendengar pertanyaan Azkar.
“..... “ Fajrin melihat Divya yang masih menghabiskan sup.
“ berita apa? “ tanya Fajri heran.
“......“ Fajrin bernafas lega mendengar salam Azkar dan Helen.
“ Wa'alaikumsalam “ balas Fajrin dan mematikan sambungan telepon dengan Azkar.
Fajrin menyimpan ponselnya di saku celana dan berjalan kembali ke ruang makan untuk duduk kembali di kursi yang tadi dia duduki.