My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 201 BERBEDA



Setiap siang Divya mengantarkan makan siang Fajrin, entah Divya yang membuat sendiri atau pun para pelayannya yang membuat. Dengan apa yang sudah Fajrin temukan membuat dirinya, Azkar juga Roby menjadi sangat sibuk. Mulai dari merubah persyaratan, bagi hasil, pinalty hingga point-point terkecil dari setiap isi kontrak. Bahkan membuat Roby harus menghubungi satu persatu dari pemilik kontrak itu untuk melakukan perundingan kembali dengan Azkar dan Fajrin, bahkan tidak jarang Divya harus menunggu di ruang kerja Fajrin karena ruang rapat mereka dengan para pemilik kontrak berada satu lantai dengan ruang kerja Fajrin.


Hari ini rapat dengan salah satu pemilik kontrak terasa sangat sulit, mereka tidak setuju dengan konsep dan syarat yang sudah mengalami perubahan oleh Fajrin. Hingga menjelang Adzan Dhuhur kesepakatan belum terjadi juga, membuat Azkar berusaha keras menahan rasa geramnya.


“ baiklah.... kalau kalian tidak setuju dengan persyaratan yang kami ajukan.... kita batalkan saja kontrak ini..... “ ucapan dingin Azkar membuat 3 orang pemilik kontrak terkejut dan terdiam.


“ kamu lelang saja project ini “ ucap Azkar dan hendak melangkah keluar ruangan.


Belum sempat kakinya melangkah keluar ponselnya berdering, melihat sesaat nomor yang menghubunginya dan melihat ke arah Fajrin yang sibuk menumpuk berkas kontrak.


“ hei..... dere tar en pause..... vi er snart der (halo..... kalian istirahat dulu..... sebentar lagi kami akan kesana) “ ucap Azkar membuat Fajrin juga Roby melihat Azkar.


“ Roby..... selesai istirahat makan siang siapkan mobil.... “ suara dingin Azkar membuat tiga orang pemilik kontrak menjadi semakin tidak berani mengatakan apa yang ingin mereka katakan.


Azkar keluar ruangan dengan geram, tidak mengira bahwa sekretaris Henri yang selama ini Henri sangat percaya akan menipu Henri dan menjadi agen ganda.


Fajrin dan Roby mengikuti langkah kaki Azkar, yang ternyata Azkar menuju ruang kerja Fajrin. Divya melihat kedatangan ketiga pria dewasa membuat wajahnya menjadi gembira.


“ Assalamu'allaikum “ salam Azkar sambil membuka pintu ruang kerja Fajrin dengan sedikit keras.


“ Wa'alaikumsalam..... tumben sekali muka seperti kemeja kusut “ ucap Divya heran membuat Azkar jengah.


Azkar sudah duduk manis menunggu makan siang dari Divya, Fajrin dan Roby masuk ke ruang kerja Fajrin dan terlihat jelas wajah kusut Fajrin yang tidak kalah kusutnya dengan Azkar.


“ kalian kenapa sih.... wajah kalian kusut semua..... apa mereka tidak mau menerima persyaratan yang kalian ajukan...... kalau tidak mau.... cari yang lain saja..... project juga belum berjalan..... “ ucap Divya kesal melihat Fajrin yang membuka satu kancing kemejanya dengan kesal.


“ Divya.... kami begini karena kami lapar..... “ ucap Fajrin sambil meraih kotak makan siang dari tangan Divya yang masih tertutup.


Mereka bertiga juga Divya menghabiskan makan siang tanpa ada pembicaraan apa pun, dan saat Azkar sudah selesai menghabiskan makan siangnya. Azkar dengan cepat menghabiskan air mineral.


“ Divya.... setelah kami sholat Dhuhur..... kamu langsung pulang saja.... tidak usah menunggu sampai Ashar..... karena aku mau mengajak Fajrin melihat sesuatu.... “ Divya mengacungkan ibu jarinya sebagai jawaban ucapan Azkar.


Fajrin menatap Azkar dengan heran karena tidak tahu kemana Azkar akan mengajaknya.


“ Roby.... besok kamu urus administrasi barang-barang yang kita lihat nanti..... pastikan minggu depan sudah berada di depan rumahku.... kalau perlu kamu sewa 1 truk untuk mengangkut barang itu hingga acara serah terima selesai... “ ucap Azkar sambil mengetik sesuatu di ponselnya.


Sampai di bandara mobil langsung menuju hanggar pesawat kargo Sundth Air, Fajrin hampir saja tidak percaya dengan apa yang dia lihat. kotak-kotak kecil berjajar rapi di sebuah meja dan seseorang sedang berusaha mengeluarkan sebuah mobil sport super mewah berwarna putih dari dalam pesawat kargo.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di samping pintu hanggar, Azkar dan Fajrin segera turun dan melangkah lebar mendekati kotak-kotak kecil yang sedang di hitung oleh para pengawal Afkar.


“ det hele er komplett (sudah lengkap semua)? “ tanya Azkar pada salah seorang pengawal.


“ vi ble bare beordret til å ta med tjueseks kilo PAMP-gull og Bugatti Centodieci... for vacheron constatin Tour de I'lle... Mr. Afkar vil bringe det selv (kami hanya di perintahkan membawa 26 kilo emas PAMP batangan dan Bugatti Centodieci.... untuk vacheron constatin Tour de I’lle.... tuan Afkar yang akan membawanya sendiri) “ ucap pengawal itu sambil menyerahkan dokumen-dokumen barang yang mereka bawa.


Dari kejauhan terlihat 3 orang dari pihak yang berwenang dalam hal import barang, Roby segera melangkah menemui mereka. Entah apa yang Roby katakan pada mereka tapi tidak terlalu lama ketiga orang tersebut segera pergi.


“ bos.... berikan semua dokumen itu saya akan mengurusnya sekarang juga.... dan truk untuk mengangkut semua ini sudah dalam perjalanan kemari. “ ucap Roby dengan sigap.


Sementara Fajrin menatap Bugatti Centodieci dengan tidak percaya bahwa mobil jenis ini yang Ditya minta, mobil seharga 9,7 juta euro atau kurang lebih 160 milyar rupiah belum termasuk pajak masuknya.


“ uangmu masih sisa banyak.... jangan kuatir...... “ ucap Azkar sambil menepuk bahu Fajrin yang masih tidak percaya apa yang sudah Afkar lakukan untuknya.


Saat seorang pengawal menyerahkan kunci Bugatti Centodieci pada Fajrin, dengan tangan gemetar Fajrin mencoba menerima kunci tersebut. Tapi dengan cepat Azkar mengambil kunci itu dari tangan pengawal Afkar.


“ la meg bære den....hvis han bærer den vil han besvime (biar aku yang bawa.... kalau dia yang bawa bisa pingsan dia..... ) “ ucapan Azkar membuat pengawal Afkar tersenyum.


“ Mr. Fajrin er forskjellig fra den unge damen Nara..... uttrykket i den unge damens ansikt ser faktisk irritert ut å se alt dette (tuan Fajrin berbeda dengan nyonya muda Nara..... raut wajah nyonya muda justru terlihat kesal melihat semua ini) “ ucapan pengawal Afkar membuat Azkar dan Fajrin saling menatap satu sama lain.


“ unge madam Nara.... kan allerede snakke litt norsk selv om dialekten høres merkelig ut..... selv den store herren smiler hver gang unge madam Nara snakker norsk (nyonya muda Nara.... sudah sedikit bisa berbahasa Norsk meski pun dengan dialeg yang terdengar aneh..... bahkan tuan besar pun tersenyum setiap kali nyonya muda Nara berbicara bahasa Norsk) “ ucap pengawal itu mencoba mengingat bagaimana Erhan tertawa mendengar Nara berbicara bahasa Norsk.


Saat mereka berbasa-basi, sebuah truk pengangkut mobil mendekati dan seorang sopir menemui Azkar. Saat ini posisi Fajrin tidak bisa berbuat banyak karena memang dia tidak tahu bagaimana mengurusi semua birokrasi memasukkan barang mewah dari luar negeri dan apa rencana Azkar terkait Bugatti Centodieci ini.


“ Fajrin..... semua ini..... kita simpan dulu di rumahku...... biar Abba dan Amma melihat dulu semua ini. “ ucap Azkar.


Membuat Fajrin hanya bisa menganggukkan kepala menyetujui apa yang Azkar ucapkan.