
Karena Divya akan sibuk dengan kegiatan barunya, Fajrin memutuskan untuk menemui Mexrat. Fajrin sudah menghubunginya dan berjanji melakukan pertemuan di sebuah ruangan tertutup di salah satu restauran di hotel tempat Fajrin bermalam.
Mendengar penjelasan Fajrin membuat Mexrat berkali-kali menarik nafas panjang, tidak habis pikir bagi Mexrat kenapa anak tertua sahabatnya bisa mengambil keputusan seperti ini bahkan tanpa berpikir panjang Nara juga memutuskan hal yang sama tentang investasi kepemilikan sebuah perkebunan sawit.
Di sela-sela Fajrin menjelaskan maksud dari pertemuan ini juga alasan tentang keputusan kepemilikan perkebunan tatapan mata Mexrat seperti mencari celah kebohongan atau pun sebuah masalah yang mungkin Fajrin tutupi darinya.
“ there's nothing he's hiding at all..... but this is the first time I've seen a young man who clearly doesn't want the world to chase him..... so different from that guy..... (tidak ada yang dia tutupi sama sekali..... tapi baru kali ini aku melihat anak muda yang terlihat jelas sangat tidak ingin dunia mengejarnya..... beda sekali dengan pria itu..... ) “ gumam Mexrat dalam hati dengan tatapan tajam pada kedua mata Fajrin.
Sesekali terlihat Fajrin berusaha meyakinkan ucapannya dengan menunjukkan isi pesan singkat dari Nara juga Afkar. Mexrat hanya melihat sesaat isi pesan singkat tersebut dan menarik nafas panjang. Mexrat baru kali ini kehabisan kata-kata mendengar penjelasan Fajrin, baru kali ini Mexrat tidak bisa mendebat ucapan seorang anak muda.
Hingga akhirnya Fajrin selesai menjelaskan semua apa yang ingin dia jelaskan pada Mexrat.
“ we both understand.... we're a lot of trouble to you guys..... but what my sister and I have received so far..... is more than enough.... even too much....
(kami berdua paham.... kami sangat merepotkan kalian..... tapi apa yang sudah saya dan adik terima selama ini..... sudah lebih dari cukup.... bahkan sangat berlebih-lebih....) “ ucap Fajrin tertunduk.
Fajrin merasa bahwa apa yang sudah dia katakan pada Mexrat tidak bisa membuat Mexrat yakin.
Mexrat menarik nafas panjang.
“ I already know that your father owns part of the capital..... I didn't tell him on purpose..... and regarding the profit he has received so far it includes Woro's profit..... don't you want to ask? what is your father's share? (aku sudah tahu bahwa ayahmu pemilik sebagian dari modal itu..... aku memang sengaja tidak mengatakan padanya..... dan mengenai laba yang selama ini dia terima itu sudah termasuk laba milik Woro..... apa kau tidak ingin meminta apa yang menjadi hak ayahmu? ) “ ucap Mexrat sedikit sedih mendengar apa yang sudah Fajrin katakan.
“ no sir..... those who have passed just let it go..... we only want for the future.... what are our rights.... please give it to this foundation (tidak tuan..... yang sudah lewat biarkan saja..... kami hanya ingin untuk kedepannya.... apa yang menjadi hak kami.... tolong berikan pada yayasan ini) “ ucap Fajrin sambil menyodorkan selembar kertas yang bertuliskan nama sebuah yayasan di daerah Pulau Sumatera.
Mexrat mengambil kertas tersebut dan sekali lagi menarik nafas panjang.
“ fine....if that's what both of you want....but can you two do one thing for me.... (baiklah.... bila itu keinginan kalian berdua.... tapi bisakah kalian berdua melakukan satu hal untukku....) “ ucap Mexrat sambil melipat kertas dari Fajrin dan memasukkan ke dalam saku jas.
“ don't call me sir....call me uncle (jangan panggil aku tuan.... panggil aku uncle) “ ucap Mexrat membuat Fajrin tersenyum.
Meski pun berat bagi Mexrat menuruti permintaan Fajrin, tapi Mexrat hanya bisa mengikuti kehendak Fajrin juga Nara.
Fajrin tersenyum mendengar ucapan Mexrat.
“ thank you uncle (terima kasih uncle) “ ucap Fajrin dengan senyum lega dan bahagia karena berhasil meyakinkan Mexrat.
Mereka berbincang-bincang hingga tengah hari dan saat mereka terlihat semakin akrab dan nyaman seperti seorang paman dan keponakan, tiba-tiba dari arah belakang datang seorang wanita berwajah oriental mendekati mereka dengan sebuah kursi roda.
“ papa..... soon the show will start..... (papa..... sebentar lagi acaranya akan di mulai.....) “ ucapan wanita itu membuat Mexrat melihat kebelakang dan mendapati dua orang putri kembarnya tersenyum manja.
Fajrin sudah mengenal salah satu putri kembar Mexrat, tapi Fajrin tidak mengenal siapa yang duduk di kursi roda. Meski pun mereka kembar tapi kedua wajah mereka sangat berbeda karena mereka berasal dari dua sel telur yang berbeda.
“ come on.... we're going there now..... Fajrin let's see Divya's show (ayo.... kita kesana sekarang..... Fajrin kita lihat acara Divya) “ ucap Mexrat sambil menepuk bahu Fajrin.
Helga melihat kebelakang dan menatap cemberut wajah Mexrat juga Fajrin.
“ papa..... brother.... hurry up you guys are very slowly.... (papa..... abang.... ayo cepat kalian laki-laki lambat sekali jalannya.... ) “ gerutu Helga dan Helsa hampir bersamaan.
Mexrat mempercepat langkahnya dan mengambil alih kursi roda Helsa, Fajrin menggelengkan kepala heran melihat sikap para wanita bungsu yang berada di sekitarnya.
“ semua anak bungsu sama saja... manja “ suara pelan Fajrin membuat Helga menatapnya heran.
Fajrin masih berpikir bahwa keluarga Mexrat hanya Mexrat saja yang bisa berbahasa Indonesia.
“ abang bilang apa tadi..... anak bungsu manja.....? Helga doakan semoga istri abang lebih manja dari kami “ ucap Helga kesal.
Meski pun ini pertemuan kedua mereka tapi sepulang dari acara pernikahan Fajrin, Mexrat menceritakan semua tentang latar belakang Fajrin.
Mendengar ucapan Helga yang terdengar kesal membuat Fajrin menepuk dahinya.
“ aduh.... dia mengerti bahasa Indonesia “ ucapan pelan Fajrin membuat Helga menjulurkan lidahnya pada Fajrin.
Sebuah ruang terbuka yang sudah di sulap menjadi arena bagi para model untuk berlenggak lenggok menampilkan keindahan juga kecantikan gaun atau pun abaya yang mereka kenakan, para tamu undangan yang terdiri dari para kalangan atas sudah memenuhi semua kursi.
Helga terlihat mencari kursi yang kosong untuk mereka duduk.
“ over there....there are two empty seats (sebelah sana.... ada dua kursi yang kosong) “ tunjuk Helga membuat Mexrat segera mendorong kursi roda Helsa.
Meski pun cemberut Helga mempersilahkan Fajrin untuk duduk bersebelahan dengan Mexrat yang sudah menempatkan kursi roda Helsa agar dapat melihat dengan jelas para model yang lewat di depan mereka.
“ and I sit on papa's lap (dan aku duduk di pangkuan papa) “ ucap Helga yang sudah duduk di pangkuan Mexrat.
Fajrin menggelengkan kepala melihat tingkah Helga.
Semua mata para tamu undangan terlihat jelas sangat antusias dan tertarik dengan pakaian yang para model kenakan, hingga saat para model yang menampilkan pakaian hasil rancangan Divya. Beberapa kali Fajrin mendengar bisikan para penonton yang memuji juga mengagumi pakaian hasil rancangan Divya.
“ papa.... this is good.... Helga wants this..... (papa.... ini bagus.... Helga mau ini.....) “ ucap Helga sambil menunjuk seorang model yang lewat di depan mereka.
Mexrat menganggukan kepala dan mengangkat tangannya memberi tanda pada pengawal putri kembarnya, seorang pengawal mendekat dan mendengar perintah Mexrat.
“ papa.... I want this and..... thats looks good....
(papa.... aku mau ini dan..... itu terlihat bagus.....) “ ucap Helsa sambil menunjuk dua model yang lewat di depannya dan model yang akan melibtas di depannya.