
Pembicaraan mereka semakin menyenangkan tak terasa sudah waktunya makan siang, Freya sengaja menyiapkan makan siang dengan menu makanan betawi dan jawa. Nara merasa sangat bersemangat untuk menghabiskan makan siang, kakak beradik Yilmaz juga dbuq dan javex merasa merinding melihat Nara yang porsi makannya mengalahkan mereka.
Fajrin dan Azkar juga Selo terlihat sangat serius sedang membicarakan sesuatu.
“ boleh juga saran Azkar.... tapi kalau kamu masih belum berani atau belum yakin memegang amanah baru.... mungkin lebih baik kamu sebagai investor saja..... ya... sebagai pertimbangan bahwa kalian bersahabat “ ucap Selo mencoba meyakinkan Fajrin untuk bekerja sama dengan CV milik sahabatnya.
“ pemikiran awal seperti itu.... minimal bisa menjadi tempat mencari pengalaman bagi lulusan baru sebelum mereka mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan.... setidak-tidaknya saat para lulusan baru dapat pekerjaan yang mereka inginkan.... mereka sudah ada pengalaman kerja.... atau mungkin bisa menjadi tempat mahasiswa magang “ ucap Fajrin mencoba meyakinkan diri.
“ 3 hari ini.... selesaikan semua urusan pribadimu..... setelah acara pernikahan kalian..... kami sudah menyiapkan akomodasi untuk bulan madu kalian..... “ ucapan Selo membuat semburat merah di wajah Fajrin.
“ 1 minggu cukup?.... untuk bulan madu..... Afkar sudah mengirim 5 private jet siap di Jakarta..... kamu bisa pakai satu..... “ ucap Azkar sambil menepuk bahu kiri Fajrin.
Fajrin semakin merasa malu mendapatkan banyak dukungan dari Azkar dan keluarganya.
“ aku sudah menyiapkan semua..... setelah acara.... kalian bisa langsung berangkat “ ucap Freya yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Fajrin.
Fajrin tidak bisa menolak apa yang sudah Freya rencanakan untuk dirinya dan Divya, meski pun Fajrin tidak bisa lupa kalau Divya ingin berbulan madu di pulau miyakojima juga Sapporo.
“ terima kasih om.... tante..... biar ini menjadi kejutan bagi Divya “ ucap Fajrin malu-malu.
Sekali lagi Azkar menepuk punggung Fajrin.
Pembicaraan mereka bergulir ke masalah bisnis, banyak hal yang Selo jelaskan dan ceritakan pada Fajrin hingga tak terasa waktu sudah Ashar. Mereka pun sholat Ashar berjamaah dengan Fajrin sebagai imam.
“ apa Nara sama Afkar masih di kamar? “ tanya Selo heran.
“ sudah.... biarkan saja.... mereka pasti masih capek..... lagi pula nanti malam kakek mau mengumpulkan kita semua “ ucap Freya sambil membantu Norin yang mulai merasa mual.
Selepas Isya dan makan malam, sesuai apa yang Freya katakan pada Fajrin juga Azkar. Erhan sudah menunggu di ruang tengah dan Ralf yang sudah berdiri di samping Erhan dengan memegang sebuah tas berwarna gelap di tangan kirinya. Nara yang masih sibuk dengan makan kecil dengan sedikit terpaksa mengikuti Afkar ke ruang tengah, Selo dan Freya duduk bersebelahan begitu juga dengan Azkar dan Helen. Semua anak cucu juga menantu dan orang-orang terdekat Erhan sudah berada di ruang tengah.
“ Felissa og Murat hvor lang tid vil det ta å ankomme (Felissa dan Murat berapa lama lagi sampai)? “ pertanyaan Erhan membuat kakak beradik Yilmaz saling memandang satu sama lain.
Sementara Barra, Zarya, dbuq dan Javex menjaga ketiga anak Azkar.
Setelah menunggu selama kurang lebih 30 menit akhirnya Felissa dan Murat datang, dan setelah 15 menit berbasa basi akhirnya Ralf meminta semua orang untuk diam mendengarkan apa yang akan Erhan katakan.
Ralf membuka tas yang dia bawa dan meletakkan 2 berkas rekam medis di meja.
“ Freya….. Felissa… dere to leste disse to filene (Freya..... Felissa.... kalian berdua baca dua berkas ini) “ ucap Erhan sambil menahan kedua matanya yang mulai terasa pedih.
Freya dan Felissa bergantian membaca 2 berkas rekam medis.
“ Dette er to medisinske journaler av pappa og mamma (ini 2 rekam medis papa dan mama.... ) “ ucap Felissa heran.
Tanpa banyak kata, Ralf kembali mengeluarkan 2 berkas rekam medis dari tas yang dia pegang.
“ les det (baca itu) “ ucap Erhan singkat.
Freya dan Felissa bergantian membaca 2 berkas rekam media yang baru saja Ralf keluarkan, untuk beberapa menit kedua kakak beradik ini tidak percaya dengan apa yang mereka baca.
“ ingen måte... ingen måte..... hvorfor fortalte ikke Asma meg...... hvorfor fortalte ikke Asma meg noe (tidak mungkin.... tidak mungkin..... kenapa Asma tidak bilang...... kenapa Asma tidak mengatakan apa pun padaku) “ ucap Freya tidak percaya dengan apa yang dia pegang saat ini.
Fajrin menatap Nara yang terlihat jelas sangat terkejut, Fajrin memberi isyarat mata pada Afkar agar Afkar menenangkan Nara.
Freya memegang 2 berkas rekam medis, 1 milik Asma dan 1 milik Ni Ao mamanya atau istri Erhan.
“ Asma..... “ teriak Freya dengan air mata yang sudah menggantung di kedua kelopak matanya.
Sekali lagi Fajrin memberi isyarat mata pada Afkar agar menguatkan Nara.
“ pappa..... så hele denne tiden har pappa bare 1 nyre.... hvorfor sa ikke pappa..... om Felisaa visste fra begynnelsen.... Felissa vil gjøre alt for at de ikke skal bli hos oss (papa..... jadi selama ini papa hanya memiliki 1 ginjal..... kenapa papa tidak bilang..... kalau dari dulu Felisaa tahu.... Felissa akan lakukan apa pun untuk menahan mereka tetap tinggal bersama kita) “ ucap Felissa dengan air mata yang sudah menetes di kedua pipinya.
Para cucu dan cucu menantu Erhan menjadi saling bertanya-tanya apa yang sebenarnya Freya dan Felissa baca, Selo dan Murat hanya menarik nafas panjang dan tertunduk sedih.
“ Ni Ao.... bestemoren din..... har aldri hatt leversvikt...... legen har gitt en dom om du ikke om 1 måned gjør en levertransplantasjon med en gang... det kan ikke bestemorens liv bli hjulpet... bestefar har brutt opp håpet om at hjertene til bestefar og dere to som nærmeste familie ikke er kompatible...... men når din bestemors tilstand blir verre og du umiddelbart må gjøre en transplantasjon.. ... Ralf får beskjed om at noen er villige til å donere et hjerte til bestemor Vi..... (Ni Ao.... nenek kalian..... pernah mengalami gagal liver...... dokter sudah memberikan vonis bila dalam 1 bulan tidak segera melakukan transplantasi hati... nyawa nenek kalian tidak bisa tertolong... kakek sudah putus asa karena hati kakek dan kalian berdua sebagai keluarga terdekat tidak ada yang cocok...... tapi di saat keadaan nenek kalian semakin parah dan harus segera melakukan transplantasi..... Ralf mendapatkan kabar bahwa ada orang yang bersedia mendonorkan hati untuk nenek kalian.....) “ cerita Erhan terhenti karena menyeka air mata dan ingus yang tidak dapat dia tahan lagi.
Kelima cucu Erhan terdiam tanpa satu kata pun begitu juga dengan Lief dan Mari, Helen menggenggam erat tangan Azkar begitu juga dengan Dean yang menggenggam erat tangan Norin. Nara dan Fajrin saling memandang satu sama lain seperti berbicara dengan mata mereka.