My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 73 BAGAIMANA



Fajrin mendapatkan pesan dari Jatinra membacanya sesaat dan membalasnya. Sementara Divya kembali duduk di sofa membiarkan Liam berdiri.


“ kita disini dulu ya... “ ucap Fajrin sambil mengetik sesuatu di ponselnya.


Selama lima menit Fajrin sibuk dengan ponselnya membiarkan Divya yang mencari kesibukan dengan memainkan kakinya atau manik-manik yang menempel di gaunnya. Beberapa menit kemudian seseorang mengetuk pintu kamarnya, dan Fajrin segera membukanya.


“ pak, ini makan siang bapak.... Vikas sudah menyuruh orang menyiapkan di kamar saya tadi dan ini untuk kekasih bapak juga pengawalnya “ ucap cahyo sambil menyerahkan tiga nampan yang dia dan Irvan juga yang Muslim bawa.


Fajrin menerima satu persatu nampan itu dan meletakkan di meja dekat sofa.


“ we have lunch here....and this is for you (kita makan siang disini.... dan ini untukmu) “ ucap Fajrin sambil menyerahkan satu nampan makan siang pada Liam.


“ thank you sir just call Liam (terima kasih tuan, panggil saja Liam) “ ucap Liam sambil menerima nampan makanan dari Fajrin.


“ sit here, it's not good to eat with standing up (duduk sini, tidak baik makan dengan berdiri) “ ajak Fajrin membuat Liam segera duduk di sofa tepat di depan Fajrin.


Sementara Fajrin sendiri duduk di sebelah Divya dengan sekat sebuah bantal kursi, sebenarnya Divya ingin menyingkirkan bantal kursi tersebut tapi saat Divya hendak menariknya. Fajrin menahan bantal itu dan memberi isyarat tangan bahwa Divya tidak boleh menyingkirkan ini. Divya tersenyum kecut melihat isyarat tangan Fajrin dan memajukan kedua bibirnya membuat Liam menahan tawanya.


“ kak..... kenapa kita tidak bisa sholat berjamaah seperti saat di gedungnya bang Azkar? “ tanya Divya yang masih memikirkan itu.


“ makan ini dulu.... nanti kakak jawab semua pertanyaan yang ingin kamu tanyakan. “ ucap Fajrin yang sudah menyodorkan nampan makanan untuk Divya.


Akhirnya mereka bertiga makan tanpa ada suara meski pun di awal-awal makan saat Divya hendak mengatakan sesuatu, Fajrin selalu menghentikannya dengan menempelkan telunjuk kanan di bibir sebagai tanda bahwa Divya harus diam. Selesai makan Divya sudah tidak sabar ingin menanyakan berbagai hal pada Fajrin.


“ apa yang ingin kamu tanyakan? “ ucap Fajrin sambil meletakkan sebotol air mineral di meja.


“ kapan kakak sampai di sini? “ tanya Divya sambil merubah posisi duduknya dan menghadap Fajrin.


“ semalam, kurang lebih satu jam sebelum kakak menelponmu “ ucap Fajrin dengan posisi duduk menatap jendela kaca menampilkan pemandangan gedung yang tepat berada di depan Novotel New Delhi Aerocity.


“ oooo.... apa hari ini kak Fajrin terpaksa mengajak Divya kesini? “ tanya Divya yang semakin penasaran.


“ tidak..... karena pada awalnya sudah ada rencana ingin mengajak kamu tapi mengingat jadwal kamu sendiri lebih padat dari jadwal kakak, jadi kakak tidak berani mengajak kami.... Tapi setelah kamu meminta kompensasi atas keterlambatan kakak menghubungi kamu akhirnya kakak memutuskan mengajak kamu kesini “ jelas Fajrin sambil melipat kedua tangannya di dada.


“ lucu.... jadi ingin menjepit itu bibir dengan dua jari ini “ gumam Fajrin dalam hati dan melihat Divya dari sudut matanya dengan menggesekkan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanannya.


Mereka terdiam sambil menikmati pemandangan gedung seberang.


“ kak..... kenapa Divya tidak bisa sholat bersama dengan kak Fajrin? “ pertanyaan Divya membuat Fajrin menarik nafas panjang.


“ karena Divya bukan mahram kakak. Saat ini kakak tidak bisa menjadi imam sholat Divya karena tidak ada orang lain yang mengikuti sholat kakak selain kamu, seandainya saja Liam ikut sholat dengan kakak maka kamu bisa ikut sholat juga. Ada lagi yang kamu belum paham?” jelas Fajrin yang sudah berdiri dan hendak memakai jasnya kembali.


Divya ikut berdiri meraih sarung tangan juga syal untuk dia pakai kembali.


“ bagaimana Divya bisa menjadi mahram kak Fajrin ? “ pertanyaan Divya sukses membuat Fajrin melihatnya dengan heran untuk beberapa detik.


“ apa dia tidak pernah belajar agama? “ gumam Fajrin dalam hati sambil melihat Divya yang sibuk memakai sarung tangan.


“ bagaimana kak? “ tanya Divya yang masih fokus memakai sarung tangan.


“ kita keluar dulu.... kakak jelaskan sambil jalan ke ballroom “ ucap Fajrin yang sudah membuka pintu kamar dan mengulurkan tangan kirinya untuk Divya.


Divya berjalan cepat menyusul Fajrin yang sudah mengulurkan tangan kirinya, Liam mengikuti mereka dari belakang. Sepanjang kaki mereka melangkah menuju sebuah ballroom tempat resepsi pernikahan Rohit berlangsung, Fajrin berusaha menjelaskan dengan bahasa yang menurutnya bisa dengan mudah Divya pahami. Fajrin mulai menjelaskan apa itu mahram, siapa saja mahram Divya, siapa saja yang berhak menjadi wali nikah Divya, bagaimana proses seorang wanita bisa menjadi halal bagi seorang pria yang bukan mahramnya. Fajrin merasa apa yang dia lakukan saat ini sama seperti saat dia menjelaskan pada Nara yang saat itu masih susah di atur saat dirinya baru pulang dari Arab Saudi. Fajrin juga menjelaskan apa saja yang tidak boleh Divya lakukan saat bersama dengan orang yang bukan mahram Divya, Divya mendengarkan setiap ucapan Fajrin hingga tanpa sadar mereka sudah berdiri di depan pintu ballroom yang mulai banyak antrian para tamu undangan resepsi pernikahan yang Krishna gelar.


Entah Divya memahami atau tidak setiap kata yang Fajrin ucapkan, bagi Fajrin menasehati membimbing orang yang bukan keluarganya bukanlah hal yang mudah dan tidak bisa di paksakan. Berbeda bila dia harus membimbing Nara, dia akan memaksa Nara meski pun Nara menangis Fajrin tetap akan memaksanya karena Nara adalah tanggung jawab juga kewajibannya.


“ apa kak Fajrin tidak cukup yakin kalau Divya benar-benar mencintai kakak? “ gumam Divya dalam hati sambil memandang wajah Fajrin dari sudut rahang kiri.


“ sebagai seorang wanita yang sangat berharga, kamu harus bisa menjaga diri harus bisa menghargai diri sendiri jangan sampai terlena dengan segala ucapan pria yang berusaha mendekati kamu. “ ucap Fajrin yang menatap Divya tertunduk.


“ kak..... apa kak Fajrin merasa bahwa Divya tidak pantas untuk kakak? “ gumam Divya dalam hati yang masih tertunduk.


“ jadilah seorang wanita yang selalu menjaga harga dirinya di mata setiap orang yang melihatmu “ ucap Fajrin yang sudah memindah tangan kanan Divya ke tangan kanannya dan menarik pinggang Divya dengan tangan kirinya.


“ kak.... kalau kak Fajrin seperti ini.... bagaimana Divya tidak semakin cinta sama kakak. “ gumam Divya dalam hati yang tidak bisa menolak apa pun yang Fajrin lakukan padanya.