My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 71 MENGENALI



Divya berjalan mendekati Fajrin yang menundukkan pandangannya, Fajrin masih belum berani melihat Divya lama-lama sedangkan Divya merasa bahwa Fajrin tidak mau melihatnya karena penampilannya yang kurang cantik di mata Fajrin.


“ you sit first (kalian duduk dulu) “ ucap Elena sedikit kikuk melihat mereka berdua.


Fajrin kembali duduk dan hanya berani menatap ujung rok Divya.


“ kak..... kakak tidak suka sama penampilan Divya? “ tanya Divya dengan suara mulai cemberut.


Fajrin menarik nafas panjang mencoba menjelaskan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


“ bukan kakak tidak suka.... tapi melihatmu seperti ini menurut kakak sangat berlebihan..... bahkan kakak merasa tidak pantas berjalan di samping kamu. “ ucap Fajrin sedikit frustasi melihat Divya tampil sangat cantik dan tentunya seksi.


Divya tertunduk mendengar pengakuan Fajrin, karena baru kali ini ada pria yang tidak percaya diri berjalan di dekatnya. Elena mendengar ucapan Fajrin hanya bisa menarik nafas panjang.


“ kamu harus mempertahankan hubungan kalian.... meskipun kontrak kalian berakhir..... kalian harus tetap bersama “ gumam Elena sambil melihat kecanggungan di antara Fajrin juga Divya.


Beberapa menit kemudian Joana datang dengan membawa sepasang sarung tangan yang warnanya sedikit sama dengan gaun yang Divya pakai, Joana juga membawa sebuah syal berwarna senada untuk Divya pakai.


“ wear this to cover the arms and this scarf to cover the upper body (pakai ini untuk menutupi lengan dan syal ini untuk menutupi tubuh bagian atas) “ bisik Joana sambil membantu Divya mengenakan sarung tangan juga syal.


“ kak...... kalau begini apa kakak masih tidak percaya diri berjalan di samping Divya? “ ucap Divya yang terdengar sedikit sedih.


“ ayo “ ucap Fajrin sambil mengulurkan tangan kanannya.


Divya dengan gembira melihat Fajrin mengulurkan tangan padanya dan tersenyum malu-malu berjalan mendekati Fajrin, Divya dengan pelan meletakkan tangan kanannya di tangan kiri Fajrin sehingga Fajrin dapat menggenggam erat. Elena melihat Divya dengan tertegun tidak percaya, tapi tidak dengan Liam dengan sigap dia mengikuti Divya juga Fajrin.


Sepanjang perjalanan selama dua puluh dua menit dari The Leela Sky Villas apartemen tempat Divya tinggal menuju Novotel New Delhi Aerocity, mata Divya menatap wajah dan tangan Fajrin bergantian tidak percaya bahwa hari ini pada akhirnya dia bisa berada di dekat Fajrin bahkan Fajrin mengulurkan tangan untuk dirinya. Sesekali Fajrin melonggarkan genggaman tangannya karena beberapa ujung jarinya terasa kesemutan.


“ selama acara jangan melepas tanganku “ ucapan Fajrin tentu saja langsung Divya setujui dengan menganggukan kepala dan membuat Fajrin tersenyum manis.


Sementara Liam mengikuti mereka dengan berkendara sendiri di belakang mobil kantor Fajrin. Sampai di lobi hotel tempat acara berlangsung, tim India dan tim Jakarta menghampiri Fajrin. Mereka melihat Fajrin dengan tatapan tidak percaya bahwa mereka adalah pasangan kekasih, hanya Jatinra dan tim Jakarta saja yang tahu hubungan mereka seperti apa.


“ why aren't you enter in (kenapa kalian belum masuk)? “ tanya Fajrin heran.


“ We are deliberately waiting for you, they want to see your lover (kami sengaja menunggu bapak, mereka ingin melihat kekasih bapak) “ Divya tersipu malu mendengar ucapan Vikas, sebenarnya Fajrin pun malu tapi dia berhasil menyembunyikan rasa malu itu.


“ let's just go in now, five minutes until the event started (kita masuk sekarang saja, lima menit lagi acara di mulai) “ Fajrin menggengam erat tangan Divya membuat hati dan otak Divya serasa tidak ingin berpisah sedetik pun dari Fajrin.


Mereka duduk di kursi yang sudah di siapkan para staff pengatur acara, Divya melihat sekeliling mencoba memahami acara apa ini.


“ kak.... ini acara pernikahan tradisional India? “ bisik Divya tepat di telinga kiri Fajrin membuat Fajrin merasa geli dan sedikit menjauhkan kepalanya dari mulut Divya.


Divya tertunduk melihat reaksi Fajrin.


“ maaf “ ucap Divya pelan sambil menunduk.


Divya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Fajrin.


“ lihat kedepan, pengantin prianya sudah berada di Mandap “ ucap Fajrin sambil menunjuk pengantin pria yang sudah duduk di altar dekorasi atau yang biasa orang India sebut Mandap.


Seketika Divya terkejut dan membulatkan matanya tidak percaya melihat pria yang duduk di Mandap.


“ Rohit... “ ucap Divya pelan yang tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya hingga Fajrin dapat mendengar dengan jelas.


“ kamu mengenalnya? Apa dia pacar kamu? “ tanya Fajrin heran dengan menatap wajah Divya juga mempelai pria bergantian.


“ bukan.... dia yang memaksa Divya minum sesuatu “ ucap Divya pelan seperti ketakutan dan tangan Divya semakin terasa dingin mengingat peristiwa yang pernah dia alami.


“ dia..... sebentar.... “ ucap Fajrin sambil menatap Rohit dengan serius berusaha mengingat wajahnya.


Bukan Fajrin tidak percaya kalau itu Rohit tapi kali ini penampilan Rohit sangat berbeda mengenakan pakaian Sherwani lengkap dengan sebuah turban di kepalanya. Fajrin mengamati dengan serius beberapa detik kemudian saat pengantin wanita berjalan dengan seorang pria yang pastinya adalah ayah mempelai wanita dan pria yang duduk di Mandap menyambutnya, seketika Fajrin terkejut.


“ iya.... dia pria yang ada di rekaman CCTV “ kali ini Divya yang di buat heran oleh Fajrin.


“ CC....TV? “ tanya Divya heran.


“ nanti kakak jelaskan.... sekarang kita lihat ini dulu “ ucap Fajrin sambil menepuk lembut punggung tangan Divya yang masih di dalam genggaman tangannya.


hati dan otak Divya semakin meleleh dengan perlakuan Fajrin, mungkin bila tubuh Divya tidak tersusun oleh dua ratus enam tulang yang di selimuti daging juga otot bisa jadi saat ini tubuh Divya mencair seperti es krim.


Mereka melihat seluruh proses adat pernikahan India dengan tenang. Acara pernikahan adat India hanya di hadiri oleh kerabat kedua mempelai dan orang dekat kedua keluarga mempelai. Prosesi pernikahan tradisional India lumayan membutuhkan waktu yang cukup lama, saat sesi Saptapadi atau tujuh langkah mengitari api berakhir dan Rohit menyematkan sebuah kalung yang dia pakai ke leher mempelai wanita.


Tanpa sadar Divya mengucapkan.


“ kak... Divya ingin kita seperti mereka “ ucap Divya pelan dengan masih menatap prosesi pernikahan.


“ tidak bisa Divya..... kita berbeda dengan mereka “ jawab Fajrin spontan.


“ maksud Divya..... Divya ingin kita menikah seperti mereka “ ucap Divya dengan menekankan kata ‘menikah’


“ Aamiin..... Insya ALLAH kita akan menikah juga “ ucap Fajrin santai sambil melihat prosesi pernikahan.


Entah mereka sadar atau tidak dengan ucapan masing-masing. Gultom, Irvan, Cahyo, dan Andra yang duduk di belakang mereka mendengarnya.


“ Aamiin..... “ ucap Gultom, Irvan, Cahyo dan Andra hampir bersamaan.


Seketika Fajrin sadar dengan apa yang dia ucapkan tadi dan mengusap pelan dahinya.


“ Ya ALLAH..... kalau memang ini takdirku.... berikan aku kesabaran seluas semestaMu untuk membimbingnya.” Ucapan Fajrin dalam hati sambil mengeratkan genggaman tangannya.