
Divya masih mengikuti langkah kaki Fajrin hingga masuk ke ruang kerjanya.
“ ayang ini....” ucap Divya sambil melepas ikatan jaket milik Fajrin dari pinggangnya.
“ pakai saja..... kembalikan nanti kalau sudah di mobil.... kamu tidak malu turun ke bawah dengan rok seperti itu? “ ucap Fajrin sambil meletakkan kotak makan siang di meja tepat di depan Divya duduk.
Seperti biasa, Divya akan pulang ke rumah bila sudah pukul 4 atau 1 jam sebelum Fajrin pulang kantor. Divya tidak pernah merasa bosan duduk memperhatikan Fajrin yang sibuk dengan desain project-project yang dia tangani, terkadang Divya mengambil foto Fajrin diam-diam.
“ ayang..... “ suara Divya memanggil Fajrin yang sibuk membuat garis.
“ hmmm...... “ jawab Fajrin singkat.
“ tiga hari lagi aku ke bangkok..... Arbab menerima kontrak untuk model 5 brand pakaian asal Thailand. “ ucap Divya sambil menggeser layar ponselnya.
“ berangkat sama Liam atau Elena menjemput kamu kemari? “ tanya Fajrin sambil menggulung kertas kalkir yang sudah selesai dia design
“ belum tahu.... tapi yang pasti Liam harus ikut kemana pun aku pergi.... dia juga bekerja di bawah management Arbab “ ucapan Divya membuat Fajrin menghentikan menggulung kertas kalkir yang dia pegang.
“ Liam agen ganda?..... keren sekali.... awalnya aku kira Liam bekerja untuk tuan Davis ternyata juga pada Arbab. “ ucap Fajrin santai.
“ ayang..... kenapa jadi membahas Liam? Menyebalkan.... “ ucap Divya cemberut.
Fajrin menarik nafas panjang mengalihkan pandangannya melihat Divya yang sudah melipat kedua tangannya di dada dengan kedua bibir yang mengerucut.
“ berapa hari di bangkok? Brand apa saja yang sudah Arbab dapatkan buat kamu? “ tanya Fajrin dengan suara lembut.
“ mungkin 2 atau 3 minggu tergantung berapa banyak model pakaian yang Divya pakai nanti..... brand ini “ jawab Divya yang masih cemberut sambil memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan beberapa pakaian dari 5 brand pakaian yang mengkontraknya.
“ ya sudah.... pergi saja.... itu profesi kamu....kamu menolak pun juga tidak bisa.... kecuali kalau kamu tidak berada di bawah management Arbab, kamu bisa menentukan mau menjadi model brand apa.... terserah kamu. “ ucap Fajrin yang sudah duduk di depan Divya.
“ ayang tidak melarang Divya memakai pakaian dari brand ini? “ tanya Divya heran.
Fajrin kembali melihat layar ponsel Divya dan menggeser pelan-pelan.
“ bukan brand two piece swim suit.... pakaian biasa.... dan sepertinya tidak terlalu vulgar “ ucap Fajrin yang masih menggeser layar ponsel Divya.
Divya masih terdiam seperti memikirkan sesuatu, Fajrin masih menggeser-geser layar ponsel Divya.
“ ini kenapa isi semua galeri folder foto ayang? “ ucap Fajrin yang sudah berdiri dari sofa.
Divya berdiri dan mendekati Fajrin.
“ ayang..... kita belum punya foto berdua “ rajuk Divya membuat Fajrin heran.
“ buat apa? Kita sudah bertemu setiap hari bahkan ayang setiap pulang kerja selalu singgah ke rumah kamu dulu.... “ ucap Fajrin sambil membuat garis dengan mesin gambar.
Divya memainkan ponselnya, pelan-pelan mendekat mensejajarkan tubuh juga kepalanya ke Fajrin yang masih fokus pada design nya. Divya mengarahkan kamera belakang ponsel agar bisa mengambil gambar mereka, bukan Fajrin tidak menyadari apa yang Divya lakukan tapi lebih tepatnya Fajrin menahan diri untuk tidak memberi respon yang berlebihan pada Divya. Agar batas-batasnya terjaga hingga mereka benar-benar halal.
“ jelek “ gerutu Divya.
Fajrin menegakkan tubuhnya dan mengeluarkan ponselnya yang tersimpan di saku celana sebelah kanan. membuka aplikasi kamera dan mengarahkan kamera belakang memposisikan agar bisa mengambil gambar mereka. Saat Fajrin merasa bahwa posisi kamera sudah sesuai, lengan kiri Fajrin seketika melingkar di baku Divya dan ibu jari tangan kanan Fajrin menekan tombol kamera.
Seketika Divya terkejut dengan aksi Fajrin yang di luar dugaan.
“ Divya belum siap.... ulang sekali lagi “ rengek Divya tapi Fajrin mengabaikannya.
“ sudah cukup.... sudah bagus “ ucap Fajrin sambil mengamati hasil fotonya.
Divya mengintip layar ponsel Fajrin untuk melihat hasil foto Fajrin.
“ ayang senyum tapi wajah Divya terlihat sangat jelek seperti melihat sesuatu yang aneh. “ gerutu Divya.
Fajrin menekan tombol kirim untuk mengirim foto tersebut pada ponsel Divya dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
“ ayang..... ayo foto sekali lagi. “ rengek Divya tapi tetap saja Fajrin mengabaikannya.
Akhirnya Divya menyerah dan kembali duduk di sofa memainkan ponselnya hingga Fajrin mengingatkannya untuk pulang.
“ Divya.... kamu pulang dulu... nanti ayang tidak ke rumah.... ayang harus selesaikan ini.... dua hari lagi harus di bawa muslim ke Sulawesi. “ ucap Fajrin yang sudah merapikan lengan kemeja dan berganti memakai sandal jepit karena sebentar lagi Adzan Ashar.
“ tapi janji ya.... besok ke rumah. “ ucap Divya sambil berdiri dan mengikuti langkah kaki Fajrin.
Fajrin mengantar Divya hingga masuk ke mobil, Divya melepas ikatan jaket Fajrin dari pinggangnya dan menyerahkan pada Fajrin. Fajrin mengibaskan jaketnya dan melihat ada sedikit bercak darah periode Divya di jaketnya.
“ memang sudah waktunya di cuci “ gumam Fajrin sambil menutup pintu mobil Divya.
“ maaf.... ayang.... Divya pulang dulu ya.... Assalamualaikum “ salam Divya
“ wa'alaikumsalam “ balas Fajrin sambil menepuk sisi atas mobil Divya.
Divya melajukan mobilnya pelan melewati Fajrin yang masih berdiri melihatnya pergi, Divya melihat Fajrin dari kaca spion dalam hingga mobil Divya berbelok menuju pintu keluar parkir basement. Fajrin tersenyum mengingat apa yang sudah Divya lakukan padanya juga apa yang sudah dia lakukan pada Divya.
“ ya ALLAH.... aku yakin bahwa Engkau tidak akan mengujiku melebihi batasku... Engkau Maha Mengetahui.... Engkau Maha Pemurah.... tapi izinkan aku untuk lebih egois kali ini. Berikan aku kesabaran kebesaran hati untuk menerima ujian-Mu kali ini. “ gumam Fajrin sambil memandangi bercak darah di jaketnya.
Fajrin kembali masuk ke dalam lift untuk menuju masjid gedung karena sudah terdengar suara Adzan Ashar, Fajrin meletakkan jaketnya asal di lantai yang tak jauh dari dia melepas sandal jepit. Fajrin mengambil wudhu untuk mendirikan sholat Ashar dan seperti biasa sudah ada banyak staff Surendra yang menunggunya terlihat juga Azkar dan Roby yang sudah berdiri di syaf depan bersama staff Surendra yang lain.
Selesai Sholat seperti biasa Fajrin akan berdzikir dan berdoa sebentar, saat selesai dan hendak mengambil jaketnya. tiba-tiba Azkar menepuk bahu kanannya.
“ bisakah kamu sedikit lebih egois dari sebelum-sebelumnya? “ pertanyaan Azkar membuat Fajrin tertegun.
“ apakah aku bisa menjadi pria yang egois? “ tanya balik Fajrin membuat Azkar kembali menepuk bahunya.
“ selama rasa egois kamu mengarah pada hal yang positif..... aku rasa tidak ada masalah.... apa lagi kalau kamu bisa sedikit egois dengan perasaanmu pada Divya..... aku yakin kamu bisa meluluhkan hati om Davis untuk mendapatkan Divya. “ ucap Azkar yang sudah berjalan beriringan dengan Fajrin.