
Sesuai dengan apa yang Fajrin katakan pada Azkar bahwa selama 1 minggu penuh jangan mencari dirinya, bahkan Fajrin juga mengatakan pada Divya bahwa selama 1 minggu penuh dirinya tidak akan berada di rumah mau pun di kantor tapi Fajrin tidak mengatakan dengan detail kemana dia akan pergi. Divya yang tidak terima bahwa Fajrin menyembunyikan sesuatu meminta Fajrin untuk selalu mengirim pesan singkat tepat setelah Adzan berkumandang, dan Fajrin menyanggupinya.
“ ayang sebenarnya kemana sih.... 1 minggu tidak boleh telepon tidak bisa bertemu juga.... “ gumam Divya cemberut.
Divya mencoba menghubungi nomor Fajrin mengabaikan permintaan Fajrin untuk tidak menghubunginya, tapi setiap kali Divya menekan nomor Fajri setiap kali pula masuk ke kotak suara. Membuat Divya semakin kesal dan tidak mampu memikirkan dimana keberadaan Fajrin saat ini. Meski pun tubuhnya berada di ruang tengah tapi hati dan pikirannya tidak berada disini, bahkan Divya tidak bisa fokus dengan kain dan benang yang berada di depan matanya.
Di saat Divya sibuk dengan pemikirannya kemana Fajrin pergi, tiba-tiba ponselnya berdering sekali. Divya segera meraih ponselnya dan menekan notifikasi pesan singkat, Divya membacanya sesaat dan terlihat memikirkan sesuatu.
“ jam segini baru Adzan Dhuhur..... memang ayang ada di mana? Passport masih ada..... laptop masih ada..... pakaian masih..... hanya..... 2 celana jeans dan..... 2 kaos..... sepatu lengkap....?..... hanya sandal itu saja yang tidak ada...... aduh.... ayang lagi dimana sih..... “ gumam Divya berusaha menebak keberadaan Fajrin saat ini yang semakin membuatnya pening.
Merasa tidak berhasil memperkirakan keberadaan Fajrin saat ini, membuat suasana hati Divya memburuk.
“ awas ya.... kalau minggu depan tidak pulang...... Divya pindahkan semua barang-barang Divya ke kamar ayang..... “ gumam Divya geram karena hatinya mulai kesal.
Karena hati dan pikirannya tidak bisa fokus pada benang dan kain, Divya memilih bersantai di taman belakang mencoba menenangkan pikiran dan hatinya.
“ pria tua itu juga tidak tahu kemana perginya ayang..... pawangnya juga tidak tahu..... aaaaaaaa “ gumam Divya dan tiba-tiba teriak kencang.
Membuat Liam dan seorang pengawal mencari asal suara.
“ miss..... are you ok (nona... anda tidak apa-apa)? “ tanya Liam dengan wajah kuatir.
Divya menatap Liam dengan wajah tidak senang.
“ why are you here.....go away (kenapa kamu kemari..... pergi sana) “ ucap Divya dengan kesal.
Liam dan rekannya segera berjalan menjauh dari Divya tapi tetap mengawasi Divya.
Divya berusaha keras memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin Fajrin lakukan, karena terlalu lelah dengan kemungkinan yang dia pikirkan akhirnya Divya tertidur di kursi santai.
Sudah satu minggu lebih 1 hari tidak ada yang tahu keberadaan Fajrin, bahkan Azkar pun di buat pusing karena mendapat pesan singkat dari Afkar. bahwa dalam 1 atau 2 hari kedepan akan terbang ke Jakarta bersama Nara dan Afkar ingin agar Fajrin datang menjemput Nara sebagai kejutan. Afkar mengirim pesan pada Azkar karena Afkar tidak bisa menghubungi Fajrin, Azkar sendiri juga tidak bisa menghubungi Fajrin.
“ kemana anak ini..... di telepon...... nomor tidak aktif.... kirim pesan juga baru masuk 2 3 jam lagi...... mana 2 kontrak ini di tinggal begitu saja..... awas saja kalau minggu depan masih tidak ada kabar.... aku jual semua maharmu..... “ gumam Azkar sambil menyisir kasar rambutnya.
Azkar menginterogasi Roby tentang keberadaan Fajrin dan tidak hanya itu saja, Azkar pun meminta Roby untuk mengantarnya ke restauran Syafril. Tapi hanya jawaban tidak tahu yang Azkar dapatkan, membuat Roby juga Syafril ikut kuatir dengan keberadaan Fajrin.
Semenatara di tengah-tengah perkebunan sawit, 2 orang yang dulu bersahabat terlihat sedang duduk menikmati makan siang seadanya.
“ sudah berapa lama project ini berjalan? “
“ seharusnya 2 bulan lalu sudah selesai.... tapi banyak hal di luar perhitunganku.... jadinya begini “
“ mau saran dariku? “
“ apa..... resource-ku terbatas disini.... aku sudah menghabiskan banyak uang di project ini..... kalau dalam 1 bulan ini tidak selesai.... mereka akan memutus kontrak ini dan memberiku denda “
“ aku akan memberikan berapa pun yang kamu butuhkan untuk menyelesaikan project ini sesuai dengan tenggang waktu yang mereka berikan padamu..... “ Fajrin mendapatkan tatapan tajam dari sahabatnya itu.
“ tapi aku tidak akan memberikan secara cuma-cuma..... “ ucap Fajrin yang mulai senang karena usahanya membuahkan hasil.
“ selesaikan project ini sesuai keinginan mereka dan kembali ke Jakarta 2 hari setelah project ini selesai..... “ ucapan Fajrin seketika mendapat penolakan dari sahabatnya.
“ sudah terlalu lama kamu tinggal disini.... dengar..... aku sudah tidak bersama Sofia..... orang tuanya menolakku..... kalau kamu masih ingin mendapatkan Sofia juga tidak mungkin..... aku sendiri tidak tahu keberadaannya dimana.... ayolah.... kamu harus melupakan Sofia masih banyak keluarga yang menginginkan dirimu sebagai menantu mereka...... maaf kalau aku dulu tidak tahu kalau kamu menyukainya..... “ sahabat Fajrin tersenyum mendengar ucapan Fajrin.
“ aku sudah melupakan Sofia.... asal kamu tahu.... aku juga sudah menikah.... dia lebih baik dari Sofia.... tapi aku tidak bisa pulang kalau ini belum selesai.... “ ucapan sahabatnya ini membuat Fajrin terkejut.
“ kau sudah menikah..... wa.... jahat sekali kau tidak mengundangku “ ucap Fajrin pura-pura kecewa.
“ bagaimana aku bisa mengundangmu.... kalau kamu berada di Vietnam..... “ suara kesal sahabatnya membuat Fajrin menepuk bahu sahabatnya.
“ maaf.... bukan maksudku begitu..... ini “ ucap Fajrin sambil menyerahkan sebuah kartu debit titanium berwarna hitam.
“ apa ini? “
“ pakai uangku untuk menyelesakan project ini dan pulanglah ke Jakarta..... “ ucap Fajrin santai.
“ aku tidak bisa menerima ini.... aku tidak akan bisa mengembalikan uangmu..... kamu tahu... aku sudah habis-habisan di project ini “ penolakan sahabatnya semakin membuat Fajrin semangat untuk melakukan negosiasi.
“ kamu bisa mengganti uang yang kamu pakai dengan menerima 2 project Surendra yang aku pegang..... design bangunan sudah ada.... tapi aku kesulitan mencari rekanan yang mau membuat bangunan itu.... karena materialnya sangat berbeda dari material pada umumnya. “ Fajrin mendapatkan tatapan tajam dari sahabatnya.
Fajrin mendapatkan tatapan penuh curiga dari sahabatnya hingga sahabatnya itu memicingkan kedua matanya mencoba menerka project seperti apa yang Fajrin tawarkan hingga membuatnya jauh-jauh datang menemuinya bahkan mematikan ponselnya dan hanya menyalakan saat Adzan.
“ jangan bilang project yang kamu tawarkan itu menggunakan bambu.... “ Fajrin tersenyum senang karena sahabatnya itu mampu menebak pikirannya.
“ gila kamu.... ide dari mana membuat bangunan dari bambu..... jangan bilang kalau ide ini..... “ ucapannya berhenti karena Fajrin meletakkan kartu debitnya di tangan kirinya.
“ aku tahu kamu mampu..... “ ucap Fajrin yang sudah berdiri sambil menatap project sahabatnya yang belum selesai.
“ baiklah kalau itu kesepakatannya.... tapi katakan dulu...... apa ini halal? “
“ apa kamu pernah melihatku mendapatkan sesuatu dari cara-cara yang tidak halal? “ sahabatnya tersenyum menjawab pertanyaan Fajrin.
“ kamu bisa manfaatkan para mahasiswa perwalianmu sebagai pengawas lapangan..... atau mungkin bisa menggunakan 2 project Surendra sebagai tema skripsi mereka. “ ucapan Fajrin membuat sahabatnya kehabisan kata-kata.
“ apa yang kamu tidak tahu tentang aku selain pekerjaanku? “
“ aku tidak tahu siapa wanita yang menjadi istrimu “