
Baru saja Fajrin keluar dari lift hendak melangkahkan kakinya ke arah basement satu, tiba-tiba ponsel yang dia simpan di saku celana bergetar. Fajrin mengeluarkan ponsel dari dalam saku dan melihat nama SUNFLOWER tertera di layar ponselnya segera menekan tombol terima
“.....”
“waalaikumsalam sudah selesai mengumpulkan datanya?” tanya Fajrin yang sudah keluar dari lift hendak melangkah ke area parkir motor yang berada di basement satu
“......”
“sudah, ini kakak mau ke area parkir ambil motor.... adik tunggu di lobi saja jangan keluar dari lobi..... kira-kira sejam lagi kakak sampai....”
“......”
“wa'alaikumsalam” balas Fajrin
Fajrin mematikan ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam saku celananya, saat hendak melangkahkan kakinya seseorang menarik tangan kirinya membuat Fajrin terkejut.
“ayang..... aku menunggumu dari tadi.....kata resepsionis ayang masih ada meeting dengan bang Azkar.” Wanita cantik dengan pakaian yang memperlihatkan bahu mulusnya membuat Fajrin segera melepas genggaman wanita itu.
Fajrin dengan buru-buru melepas jaket kulitnya dan memakaikan pada wanita cantik itu.
“aku sudah bilang jangan pakai pakaian seperti ini lagi..... mau sale?” ucap Fajrin yang sudah menutup bahu wanita cantik itu dengan jaket kulitnya.
“aku memakai ini hanya untuk ayang....” ucap wanita itu dengan sedikit merajuk.
“tapi saat ini yang melihat bukan hanya aku tapi semua orang yang ada di lobi” ucap Fajrin yang mulai kesal dan melangkah menuju basement satu.
“ayang mau kemana? Mau pulang? Jangan dulu..... malam ini papi memintaku mengajak ayang untuk makan malam bersama" wanita itu kembali memegang pergelangan tangan kiri Fajrin.
“maaf.... aku tidak bisa.... ada yang lebih penting dari sekadar makan malam dengan papi kamu” ucapan Fajrin membuat wanita itu cemberut.
“jadi ajakan papi tidak penting buat ayang?” ucapan wanita itu membuat Fajrin menghentikan langkahnya.
Fajrin membalikkan badan menghela nafas panjang.
“untuk saat ini permintaan papi kamu belum terlalu penting buatku..... tapi mungkin setelah kita halal.... permintaan papi kamu penting juga bagiku selama masih dalam batas aturan.” Jelas Fajrin membuat wanita itu terdiam.
“ayolah....malam ini saja..... lagi pula papi ada di jakarta hanya tiga hari lusa harus kembali ke Montreal” rayu wanita itu.
Fajrin berpikir untuk sesaat kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan mengetik pesan untuk Nara, Fajrin memandang wanita itu untuk sesaat sambil menggelengkan kepala seperti menyerah untuk memberi nasehat.
“baiklah.....kali ini saja..... tapi aku tetap naik motor dan kamu naik mobil sendiri.” Wanita itu membuka mulutnya heran mendengar ucapan Fajrin.
“bagaimana? Mau tidak? Kalau tidak mau aku pul.....” belum selesai Fajrin mengucapkan kalimatnya, wanita itu segera menganggukan kepala menyetujui persyaratan Fajrin.
Fajrin mengikuti langkah kaki wanita itu ke basement satu area parkir mobil saat wanita itu hendak melepaskan jaket kulit milik Fajrin, Fajrin menepuk bahu kiri wanita itu hingga wanita itu mengurungkan melepas jaket Fajrin.
“kalau sudah di dalam mobil baru lepas jaket.....” ucap Fajrin yang masih berjalan di belakang wanita itu.
Sampai di dalam mobil wanita itu melepas jaket dan menyerahkan pada Fajrin, Fajrin segera mengenakan jaketnya.
“ayang.... aku tunggu di depan lobi ya.....” ucap wanita tanpa salam.
“ibu..... ayah..... kenapa anakmu ini bisa kenal wanita seperti dia.... “ gumam Fajrin sambil memijat dahinya dan berjalan ke area parkir motor.
Fajrin mengendarai motor mengikuti laju mobil wanita itu.
Sampai di depan pintu gerbang setinggi tiga meter bercat emas, Fajrin menghentikan motornya berjalan menekan interkom untuk mengatakan maksud dari kedatangannya. Sesaat kemudian pintu gerbang terbuka secara otomatis, Divya melajukan kembali mobilnya ke garasi yang sudah berjajar dua buah mobil mewah lainnya. Fajrin kembali mengendarai motornya dan memarkir di dekat pos penjaga rumah itu.
“Assalamualaikum pak, maaf menganggu waktu bapak..... saya titip motor sebentar ya...” salam Fajrin pada satpam yang sudah setia menjaga rumah itu sejak Divya masih bayi.
“wa'alaikumsalam mas..... silahkan" balas pak Imron.
“ayang.... ayo masuk.... papi dan bang Ditya sudah menunggu” teriak Divya memanggil Fajrin.
Fajrin melangkah mendekati Divya dengan ragu mengingat ada perbedaan yang sangat besar yang tidak mungkin Fajrin perkecil perbedaan itu.
“ayo masuk.....” Divya menggandeng tangan kiri Fajrin tapi Fajrin berusaha menepisnya pelan.
“jangan pegang-pegang..... kita belum halal" ucapan Fajrin membuat Divya sedikit malu karena berkali-kali Fajrin selalu mengingatkan mana yang boleh dia lakukan dan mana yang tidak boleh dia lakukan.
Di ruang tengah sudah menunggu papi Davis dan kakak keduanya Ditya, mereka memandangi Fajrin dari ujung kaki hingga ujung rambut yang menurut Ditya tidak ada yang spesial.
“ini laki-laki yang membuatmu uring-uringan seharian penuh?” tanya Ditya sambil berjalan mendekati Fajrin.
“siapa namamu?” pertanyaan Davis membuat Fajrin memberanikan diri melihat wajah papi Divya.
“selamat malam tuan, perkenalkan nama saya Fajrin.” Ucap Fajrin ragu karena baru kali ini berbicara langsung dengan Davis dalam kondisi santai.
“Assalamualaikum.... “salam Dipta kakak saat masuk ke rumah.
“wa'alaikumsalam” balas Fajrin tapi tidak dengan Davis dan Dipta yang hanya membalas salam Dipta dengan melihatnya sesaat.
“akhirnya kamu mau singgah juga di rumah kami..... ayo kita makan malam bersama" ajak Dipta sambil menepuk bahu kanan Fajrin.
Davis dan Ditya berjalan terlebih dahulu dan duduk di kursi meja makan yang para pelayan sudah siapkan. Dipta merangkul bahu Fajrin mengajaknya untuk duduk di sebelahnya dan Divya duduk tepat di depan Fajrin.
Saat para pelayan menyajikan hidangan pembuka makan malam Ditya tidak sedikit pun menurunkan pandangannya, dia melihat Fajrin seperti seorang gold digger yang mendekati wanita hanya karena hartanya. Tapi Fajrin tidak memperdulikan itu karena selama ini yang berusaha mendekati adalah Divya bukan dirinya yang berusaha mendekati Divya.
“bagaimana perkembangan pembangunan mess karyawan di Bintuni dan Masela apa ada kendala?” tanya Dipta untuk memecah kecanggungan yang dia lihat pada Fajrin.
“Alhamdulillah tidak ada kendala dan Insya ALLAH akan selesai sesuai target.” Jawaban Fajrin membuat Ditya dan Davis heran.
Setahu mereka berdua bahwa pembangunan mess karyawan perusahan mereka serahkan pada Surendra Corporate sebagai kontraktor, Davis mulai memandang Fajrin dengan serius tapi tidak dengan Ditya.
Davis dan Divya menatap tajam Fajrin, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
“ kenapa Azkar tidak mengatakan kalau mess itu design Fajrin? Apa dia sengaja menyembunyikan dariku? Atau memang selama ini begini sistem kerja mereka? “ berbagai pertanyaan muncul di kepala Davis.
Dua project yang Dipta sebut memang hasil desain Fajrin semua tanpa campur tangan arsitek yang lain dan Azkar memang sengaja tidak mengatakan siapa arsitek yang membuat desain itu. Karena menurut Azkar itu bukan hal yang penting untuk di ketahui oleh setiap clientnya selama mereka puas dengan desain yang Surendra tunjukkan.