My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 55 CAMPUR ADUK (1)



Tepat pukul tujuh malam hari, Divya mulai sadar dan melihat setiap sudut ruangan.


“Where is this? Why am I here? (dimana ini? Kenapa aku bisa ada disini?)” gumam Divya yang bingung dengan keadaan sekitarnya.


Divya pelan-pelan bangkit dari ranjang seketika tubuhnya merasa dingin karena AC kamar tepat mengenai tubuh polosnya, Divya segera melipat kedua tangannya di dada dan berteriak histeris mendapati kedua tangannya menyentuh kulit dada tanpa sehelai kain yang menutupinya.


“aaaaaaa" teriakan Divya membuat Joana yang tertidur di sofa terbangun dan terkejut melihat Divya yang sudah meringkuk di ranjang dan memakai selimut menutupi tubuh polosnya.


“why are you shouting? My head hurts so bad..... I just took a nap this afternoon (kenapa kamu teriak? Kepalaku sakit sekali..... aku baru tidur siang tadi)" ucap Joana sambil memijat pelipisnya.


“why am i here and why am i not wearing anything? (kenapa aku ada disini dan kenapa aku tidak memakai apa pun?)” tanya Divya bingung.


Divya sepertinya lupa akan kejadian tadi malam, Joana menyerahkan segelas air mineral untuk Divya minum. Beberapa detik kemudian Elena masuk dengan membawa beberapa bungkus makan malam mereka dan tersenyum lebar mendapati Divya sudah sadar.


“Finally you woke up.... I thought you would sleep until tomorrow (akhirnya kamu bangun juga.... aku kira kamu akan tertidur hingga besok)" ucap Elena yang sudah berjalan mendekati Divya.


Elena memeluk erat Divya membuatnya bingung.


“what's wrong with me? (memang ada apa denganku?)” tanya Divya bingung membuat Elena dan Joana saling memandang dengan penuh pertanyaan.


“You don't remember what happened to you? (kamu tidak ingat kejadian yang menimpamu?)” tanya Elena dengan heran.


“ what happened.... I don't remember (kejadian apa.... aku tidak ingat)" ucap Divya yang mulai kesal.


“Last night you were shouting calling Fajrin's name (kemarin malam kamu berteriak-teriak memanggil manggil nama Fajrin)." ucap Joana mencoba membangkitkan kembali ingatan Divya.


Divya berpikir sesaat mencoba mengingat-ingat kejadian yang dia lupakan, mulai dari dia menginjakkan kaki di lobi Taj Palace hingga melihat sosok Fajrin yang berkelahi. Seketika Divya membulatkan kedua bibirnya karena terkejut mengingat kejadian kemarin malam.


“Is it true that Fajrin helped me..... I only saw it for a moment and my vision was a little foggy seeing a figure that resembled him (apa benar kak Fajrin yang menolongku..... aku hanya melihatnya sesaat dan pandanganku sedikit berkabut melihat sosok yang menyerupai kak Fajrin).”ucap Divya dengan sedikit bingung dan masih mengingat kembali kejadian kemarin malam.


“luckily there is Fajrin..... if not maybe you are not in this room right now, this room should be where Fajrin spends the night (untung saja ada Fajrin..... kalau tidak mungkin kamu sekarang tidak ada dikamar ini yang seharusnya kamar ini menjadi tempat Fajrin bermalam).” ucap Elena dengan semangat.


“seriously....this is his room (serius.... ini kamar kak Fajrin)?” ucap Divya tidak percaya.


“You think I'm joking..... you even hugged the shirt and you just took it off this morning, it's because I forced you to take off the shirt (kamu pikir aku bercanda..... bahkan kamu sudah memeluk kemejanya dan baru kamu lepaskan tadi pagi, itu pun aku memaksa kamu untuk melepas kemeja itu)." ucap Elena mulai kesal karena Divya meragukan ucapannya.


“Did Fajrin make me like this (apa kak Fajrin yang membuatku seperti ini)?” tanya Divya tersipu malu.


“but he's the one who told me how to handle the effects of the drunk that you drink (tapi dia yang memberi tahu aku bagaimana mengatasi efek dari minuman yang kamu minum)" ucap Joana yang sudah menyerahkan pakaian Divya.


“Is it true? Ooooo......he turns out cares about me (benarkah? Ooooo...... ternyata dia peduli padaku.....)”Divya mulai berhalusinasi kalau saja Fajrin yang membantunya menghilangkan efek addyi.


“don't you dare to have any fantasies…… he's a man who really takes care of his limits (jangan berkhayal yang tidak-tidak...... dia pria yang sangat menjaga mana batas-batasnya)." ucapan Elena yang terkesan menggurui membuat Divya tidak jadi berkhayal tentang Fajrin dan dirinya.


“Don't you remember who forced you to drink something (apa kamu tidak ingat siapa yang memaksamu minum sesuatu)?” tanya Elena penasaran.


Divya berpikir sejenak mencoba mengingat kejadian sebelum dirinya melihat sosok Fajrin, beberapa detik kemudian kedua mata Divya membulat membuat Elena dan Joana mendekatinya.


“damn it..... you jerk..... I'll avenge you later...... (sialan..... dasar pria pengecut.... akan aku balas kamu nanti......)” ucap Divya dengan kesal membuat Elena dan Joana bingung.


“you remember it (kamu ingat)?” tanya Elena.


“hmmmmm........ he’s that jerk (dia pria pengecut itu)... Rohit" seketika Elena dan Joana menjadi bersikap biasa.


“Why aren't you surprised that the culprit is Rohit (Kenapa kalian tidak kaget kalau pelakunya Rohit)?” sekarang Divya yang di buat heran oleh mereka berdua.


“clean yourself first..... later I’ll tell you everything how we found you out until you take his shirt (sudah kamu bersihkan diri dulu saja..... nanti akan aku ceritakan semua bagaimana kami menemukanmu sampai kamu bisa mengambil kemeja itu)" ucap Elena sambil menunjuk kemeja milik Fajrin yang sudah tergantung di kursi.


Divya tersenyum melihat kemeja itu dan membuatnya segera bangkit dari ranjang dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


“where is Divya's clothes (pakaian Divya sudah ada)?” tanya Elena.


“Liam already received it from Derek. Derek said the lobby is crowded, there is a few of reporters were looking for Divya? Is that true? (sudah tadi Liam menerimanya dari derek, kata derek di lobi ramai aparat wartawan mencari Divya? Apa benar begitu?)” tanya Joana yang memang belum tahu keadaan di luar hotel dan memang dia belum membuka ponsel karena ponselnya mati.


“a few of reporters?...... what they want?could it be..... (para wartawan....? mau apa mereka? jangan-jangan......)” ucapan Elena terhenti dan segera keluar kamar untuk berbicara dengan kedua pengawal Divya.


Beberapa menit kemudian Elena masuk dengan wajah gusar dan sedikit panik.


“why? what's wrong? (kenapa? Ada apa?)” tanya Joana.


“Last night's incident made headlines news (kejadian tadi malam sudah menjadi berita utama)....” ucap Elena sambil menyalakan ponselnya yang sudah mulai low battery dan meminta Joana mencari power bank di tas elena.