
Fajrin sedikit ragu saat berada di area parkir restauran Moonlight, karena area parkir motor yang terlalu jauh dari lokasi yang Divya maksud. Fajrin memutuskan menerima tawaran Syafril untuk memakai mobilnya, meski pun pada awalnya ragu tapi hati kecilnya berkata bahwa sebaiknya menggunakan mobil Syafril.
“ kenapa diam di situ.... ini kunci mobilku... pakai saja.... “ suara keras Syafril sambil melempar kunci mobilnya pada Fajrin yang baru selesai memarkir motornya.
Fajrin segera menangkap kunci mobil Syafril, dan tersenyum pada sahabatnya itu.
“ sudah sana pergi nanti dia kelamaan menunggu.... biarkan saja motor sama helm kamu di situ “ suara keras Syafril membuat Fajrin menggelengkan kepala heran melihat Syafril yang memaksa dirinya menggunakan mobil dari pada motor.
Fajrin segera melepas helm dan masuk ke dalam mobil Syafril, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit karena ramainya lalu lintas akhirnya Fajrin sampai di sebuah restauran di daerah Jakarta Utara.
Fajrin sedikit ragu untuk melangkah dan mencoba menghubungi Divya yang ternyata Divya sudah duduk di sebuah meja yang menghadap pemandangan laut utara Jakarta, Fajrin melihat Divya duduk dan tersenyum melihatnya. Divya mengenakan dress dengan model hampir sama seperti saat Divya menemuinya di gedung Surendra. Divya tersenyum sangat bahagia melihat Fajrin yang berjalan mendekatinya, Ini pertama kalinya Fajrin menginjakkan kaki di restauran ini, sungguh Fajrin tidak tahu berapa harga 1 porsi menu di sini.
“ Assalamualaikum “ salam Fajrin saat sudah berdiri di depan Divya
“ Wa'alaikumsalam kak “ balas Divya dan tersenyum manis.
Seorang pelayan mendekati mereka dan menyerahkan 2 buah buku menu, mata Fajrin hampir saja membuat sempurna melihat harga setiap menu dalam satuan gram.
“ kamu saja yang pilih “ ucap Fajrin sambil menutup buku menu dan menyerahkan kembali pada pelayan.
Akhirnya Divya memilih menu olahan sea urchins, 1 porsi telur sea urchins, 2 porsi tacos sea urchins, 2 porsi risotto sea urchins dan dua kelapa muda. Fajrin mendengar menu yang di pilih Divya hanya bisa menarik nafas panjang dan menganggukan kepalanya.
“ sudah pernah makan sea urchin atau bulu babi? “ tanya Fajrin ingin tahu.
Divya terdiam seperti sedang berpikir.
“ pernah sekali waktu pemotretan di Vietnam.... makanan laut yang rasanya paling unik... kak Fajrin sudah pernah makan? “ ucap Divya dengan antusias.
“ beberapa kali.... tapi itu pun rekan-rekan yang mencari sendiri di bibir pantai dan mereka membakarnya langsung. “ ucap Fajrin.
Fajrin menarik nafas panjang ingin memulai suatu pembicaraan yang serius.
“ Divya.... kontrak kita akan berakhir dalam beberapa hari...... bila selama 1 tahun ini ada ucapan atau perbuatan kakak yang membuat Divya tersinggung atau mungkin membuat Divya sakit hati..... tolong maafkan kakak. “ ucapan Fajrin seketika membuat Divya tertegun bingung juga heran.
“ kakak paham.... kakak terlalu banyak memaksakan hal-hal yang seharusnya tidak kakak paksakan.... untuk itu maafkan semua apa yang pernah kakak paksakan padamu. “ ucap Fajrin tertunduk tidak mampu meneruskan ucapannya.
Divya semakin bingung maksud dari ucapan Fajrin, saat Divya hendak mengatakan sesuatu tiba-tiba seorang pelayan menyajikan menu yang Divya pesan.
“ terima kasih “ ucap Divya pada pelayan tersebut.
Divya hanya memandangi Fajrin dan makanan yang sudah tersaji secara bergantian.
“ apa yang kita lakukan selama ini salah.... tidak seharusnya kakak memaksakan kontrak itu “ ucap Fajrin pelan.
“ jadi kakak menyesal menjalani kontrak ini.... apa karena Divya belum bisa melakukan apa yang sudah kakak ajarkan pada Divya?..... tidak..... tidak.... Divya tidak mau jauh dari kakak..... meski pun kontrak ini berakhir..... Divya tidak mau hubungan ini berakhir. “ ucap Divya menyangkal dugaannya.
Fajrin menarik nafas panjang, mencoba melihat wajah Divya.
“ habiskan apa yang sudah kamu pesan “ ucap Fajrin dan kembali memandang hamparan laut.
Divya tertegun dengan ucapan Fajrin.
“ kakak ingin hubungan ini selesai saat kontrak kita selesai...... Divya tidak mau hubungan ini berakhir dan Divya tidak mau makan semua ini.... “ ucap Divya yang sudah mulai sedikit emosi karena sedih kecewa dan takut kembali jauh dari Fajrin
“ hal inilah yang kakak tidak mungkin bisa lakukan, meneruskan hubungan ini di luar kontrak..... Divya terlalu sering membuang makanan tanpa sebab, berbicara saat makan, memegang tangan pria yang bukan mahram, tidak menghargai diri sendiri “ Fajrin mengucapkan semau hal yang membuatnya bosan harus berkali-kali mengingatkan Divya.
Divya sekali lagi tertegun dengan semua ucapan Fajrin dan mulai berpikir apa saja yang sudah Fajrin katakan selama 1 tahun terakhir ini. Fajrin menarik nafas panjang dan menguatkan hati untuk tidak merasa kasihan pada Divya dan merubah panggilan kakak dengan saya.
“ apa..... karena Divya tidak mengingat semua itu.... yang membuat kakak tidak ingin melanjutkan hubungan ini? “ tanya Divya sedikit ragu.
“ iya...... jujur saya capek harus selalu mengingatkan kembali semua itu.....Divya bukan tanggung jawab saya, bukan kewajiban saya mengingatkan semua itu berkali-kali mungkin untuk pertama kali adalah kewajiban saya mengingatkan hal itu..... tapi selanjutnya bukan kewajiban saya untuk mengingatkan itu lagi. “ ucap Fajrin sambil menatap wajah Divya tanpa berkedip dan ekspresi datar seperti menatap timnya.
“ maafkan Divya..... Divya akan berubah..... Divya akan lakukan apa yang kakak ucapkan “ ucap Divya memohon.
“ kalau kamu melakukan itu demi saya.... saya tetap tidak bisa melanjutkan hubungan ini “ ucap Fajrin tegas.
Meski pun dalam hati Fajrin merasa ada sesuatu yang sakit tapi Fajrin mengabaikan itu karena Fajrin tidak ingin memiliki hubungan yang pada akhirnya akan semakin membuatnya tersiksa dan semakin tertekan.
“ tidak.... Divya tidak akan pernah mau hubungan ini berakhir..... sampai kapan pun Divya tidak akan mau..... “ ucap Divya tegas dan menatap ke dalam mata Fajrin.
“ habiskan apa yang sudah kamu pesan “ ucap Fajrin dengan tegas dan menatap mata Divya.
“ Divya tidak akan makan ini kalau kakak tidak melanjutkan hubungan ini “ ucap Divya dengan tegas sama seperti Fajrin.
Fajrin tersenyum tipis melihat reaksi Divya, Divya heran dengan perubahan raut wajah Fajrin.
“ kamu sadar apa yang sudah kamu ucapkan tadi? “ pertanyaan Fajrin membuat Divya bingung.
“ saya paling tidak tidak suka dengan orang yang sudah membuang-buang makanan apa pun alasannya “ suara datar dan tegas Fajri membuat Divya tertegun dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan lemas.
“ saya paling tidak suka wanita yang tidak bisa menghargai dirinya sendiri, tidak bisa melindungi dirinya sendiri, dan tidak bisa memuliakan dirinya sendiri. “ ucapan tegas Fajrin membuat Divya sadar bahwa apa yang selama ini dia lakukan sama sekali tidak menarik di mata Fajrin.