
Divya melangkahkan kakinya mengikut langkah kaki Elena, lima orang asisten Elena berjalan di belakang Divya. Setelah perdebatan lumayan panjang pada akhirnya Divya mengikuti semua pilihan tim stylist-nya tapi Divya tidaklah kekurangan akal, dia menambahkan sebuah syal berwarna merah maroon untuk menutupi area sekitar dada yang menurut Dipta sangat tidak sopan.
Elena sengaja mengambil penerbangan malam untuk menuju ke New Delhi, karena jarak tempuh dari Jakarta kurang lebih lima belas jam tiga puluh lima menit dengan satu kali transit. Dari sebelum Adzan Azhar mereka sudah berada di bandara international Cengkareng, banyak pasang mata kaum Adam memandang dengan kagum saat melihat kecantikan Divya dan sesekali ada yang sampai menabrak sesuatu karena mata mereka terus memandang wajah cantik Divya. Seorang fashion stylist memberikan sebuah kacamata hitam untuk Divya pakai.
“What for? Can't you see I'm reading this book? (buat apa? Kamu tidak lihat kalau aku sedang membaca buku ini?)” ucap Divya dengan ketus membuat kesal Derek sang Fashion stylist.
“just let her be..... as long as she doesn't mess up (sudah biarkan saja dia..... selama dia tidak berbuat onar)" ucap Elena membuat Derek kembali duduk di sebelah Patrick ahli nutrisi yang mengatur pola makan Divya agar penampilan tubuhnya selalu terjaga.
Setelah menunggu kurang lebih satu jam akhirnya mereka bertujuh boarding naik ke pesawat fly Emirates di kelas bisnis, tepat pukul sepuluh lebih tiga puluh lima menit pagi hari waktu Jakarta atau pukul sembilan lebih lima menit waktu New Delhi pesawat yang membawa mereka dari Jakarta landing di bandara Internasional Indira Gandhi. Kedua bodyguard dengan sigap membantu Divya membawa semua koper miliknya, selama satu tahun kedepan Divya akan tinggal disebuah apartement yang sudah di sediakan oleh pihak management. Sebuah apartemen yang berada di daerah Kirti Nagar New Delhi, apartement dengan tiga kamar tidur yang mereka fungsikan sebagai kamar tidur Divya, ruang make up dan ruang pakaian.
Divya merebahkan tubuhnya yang terasa pegal setelah menempuh penerbangan selama lima belas jam lebih. Menarik nafas panjang berusaha membuang rasa kecewanya karena tidak bisa mendekati Fajrin selama satu tahun kedepan.
“Divya...... ini jadwal pengambilan gambarmu untuk satu minggu kedepan. Semua perlengkapan juga produk yang harus kamu pakai selama satu tahun kontrak sudah tersedia di kamar sebelah. Aku dan Joana tinggal di depan unit ini, patrick dan derek satu unit, kalau kamu mau keluar kemana-mana kamu harus memberitahu aku lebih dulu supaya aku bisa menyuruh Bibhu dan Liam mengawalmu" jelas Elena yang sudah meletakkan jadwal pemotretan Divya.
Entah Divya mendengar atau tidak, mengerti atau tidak bagi Elena yang penting Divya mau bekerja sama.
“selama satu tahun ini akau harus bisa memahami isi buku ini..... Fighting!!!!” gumam Divya menyemangati diri sendiri
JAKARTA
“kamu yakin ini desain kamu?” tanya Azkar yang mulai marah.
“iya bang...... ini desainku...... aku yakin ada seseorang yang mengambilnya..... tapi aku tidak berani menuduhnya karena aku tidak memiliki bukti otentik.” Jelas Fajrin sambil tertunduk.
“sialan..... siapa yang berani mengambil desainnya dan menjadi agen ganda?” ucap Afkar emosi.
“bang..... apa tidak sebaiknya mereka saja yang menangani project Jaipur ini..... dan saya akan mulai desain project Niseko.” Ucap Fajrin mencoba mencari jalan tengah dari permasalahan yang mereka hadapi.
“tidak bisa begitu..... Presdir Radha menunjukmu secara langsung...... siapa saja yang tahu disain kamu ini?” tanya Azkar dengan wajah serius.
Fajrin mulai menyebutkan beberapa nama yang mengetahui desain yang dia buat ini, hingga mulutnya seketika berhenti bahwa dia melupakan sesuatu.
“kenapa? Apa masih ada yang lain?” tanya Azkar heran.
“tidak mungkin..... tidak mungkin dia....” gumam Fajrin sambil menggelengkan kepalanya.
Azkar menyebutkan satu buah nama membuat Fajrin memandangnya dengan tatapan tidak percaya bahwa Azkar sepemikiran dengannya.
“Roby...” ucap Afkar sambil menekan sebuah tombol pada pesawat telepon.
Roby masuk ke dalam ruangan dengan rasa takut karena suara Azkar terdengar jelas menahan emosi.
Roby segera keluar ruangan tanpa mengatakan apa pun, Fajrin berdiri dari kursi dan mendekati sebuah miniatur world hotel dan resort yang akan dia bangun di Jaipur.
“bang..... beri aku waktu satu minggu untuk membuat desain baru yang berbeda dari yang sekarang..... tapi izinkan aku bekerja dengan tim Phu Quoc" ucap Fajrin sambil membuka kaca penutup maket.
“kamu yakin tiga orang tim kamu yang dulu bisa di percaya mengingat posisi mereka sekarang dimana?” tanya Azkar meyakinkan Fajrin.
“Insya ALLAH mereka loyal pada perusahaan.” Ucap Fajrin yang sudah membongkar maket menjadi tak berbentuk.
“baiklah.... mereka tanggung jawabmu.....kalau mereka membuat kesalahan sekali saja atau sekecil ujung kuku maka kamu yang harus menyelesaikan masalah itu dan aku tidak akan berdiri di sisimu" ucapan tegas Azkar membuat darah Fajrin mendidih serasa ingin meluapkan kemarahan kekecewaannya pada sebuah kertas.
“iya bang..... saya permisi dulu.... Assalamualaikum” salam Fajrin sambil membawa serpihan maketnya keluar dari ruangan Azkar.
Fajrin melangkah dengan gontai melewati meja kerja Roby menuju Lift, Fajrin bukannya kembali ke ruangan kerjanya tapi langsung menuju basement dan memacu motornya menyusuri jalanan ibu kota tanpa arah dan tujuan.
“aku harus segera menemukan ide yang lain yang lebih baik dari sekarang.......Bismillah pasti bisa" seru Fajrin dalam hati menyemangati diri sendiri.
Entah karena otak Fajrin yang kosong tidak dapat menemukan alasan-alasan kenapa desainnya di akui orang lain atau karena lelah, tiba-tiba sebuah suara keras membuatnya terkejut dan hampir membuatnya kehilangan keseimbangan mengendalikan motor tuanya. Fajrin menghentikan motornya tepat di samping sebuah penjual es cendol.
“Assalamualaikum.... pak, satu es cendol “ ucap Fajrin yang merasa bahwa tubuhnya butuh asupan gula karena terkejut dengan kejadian yang hampir saja membuatnya celaka.
“wa'alaikumsalam” jawab tukang cendol.
“ada apa itu? Kenapa rame sekali? Apa ada kecelakaan?” ucap Fajrin sambil mencoba mencari tahu dari kejauhan.
“sepertinya begitu.... ini es-nya" ucap tukang cendol.
Saat Fajrin duduk dan menikmati es cendolnya sambil mengamati kerumunan dari jauh, tiba-tiba melihat sebuah mobil yang sangat dia kenal dan hampir saja membuatnya tersedak cendol.
“sebentar pak”ucap Fajrin sambil meletakkan segelas es cendol serta selembar uang lima puluh ribu dan berlari cepat ke arah kerumunan.
“Astagfirullah...... Delilah" ucap Fajrin terkejut mendapati seorang wanita yang sangat dia kenal wajahnya berlumuran darah.
Fajrin segera meminta orang yang berkerumun membantunya membuka pintu mobil untuk mengeluarkan Delilah sebelum mobil itu terbakar karena sudah tercium bau asap. Dengan sigap Fajrin berusaha mengeluarkan Delilah dari dalam mobil dan dengan bantuan beberapa orang mengangkat tubuh Delilah ke tepi jalan. Seseorang menghentikan sebuah taxi untuk Fajrin dan membawa Delilah ke rumah sakit terdekat.
“terima kasih pak" ucap Fajrin berkali-kali pada orang-orang yang membantunya menolong Delilah.
Sampai di sebuah IGD rumah sakit, Fajrin segera meminta perawat untuk memindahkan Delilah dari taxi ke examination bed. Fajrin menunggu di ruang tunggu dengan pikiran campur aduk dan mencoba menghubungi salah satu keluarga Delilah yang dia kenal. Setelah menunggu kurang lebih tiga puluh menit seseorang masuk ke ruang tunggu dengan wajah pucat.