
Divya melihat Liam yang ternyata sudah berjalan beriringan dengan pengawal yang mengambil alih kopernya. Divya menarik nafas panjang mulai memahami kebingungannya kali ini.
“ So when dady arrived in Jakarta (jadi kapan papi sampai di Jakarta)? “ tanya Divya dengan nada sinis dan menghentikan langkahnya membuat para pengawal Davis seketika berhenti.
“ no one wants to say.... well I won't follow you either (tidak ada yang mau mengatakan.... baiklah aku juga tidak akan mengikuti kalian) “ ucap Divya dan bergerak ke samping kanan hendak melarikan diri dari pengawalan para pengawal Davis.
Belum juga dua langkah Divya melangkah, seorang pengawal mencekal tangan kiri Divya dan membuat Divya meringis karena merasakan sedikit sakit di lengannya. Liam tidak bisa berbuat banyak membantu Divya karena saat ini Liam di bawah pengawasan pimpinan pengawal tersebut.
Seorang pengawal masih menahan lengan kiri Divya hingga memaksakanya masuk ke sebuah mobil berjenis minibus VW Caravelle, sementara Liam masuk di mobil lainnya tepat di belakang VW Caravelle.
Sepanjang perjalanan dari bandara hingga ke tempat Davis tinggal di daerah Jakarta selatan, Divya memilih diam dan melipat kedua tangannya di dada. Bukan sambutan seperti ini yang Divya harapkan, bahkan Divya berharap tidak ada yang tahu dengan kepulangannya.
Divya semakin kesal dan semakin marah apa lagi saat ini mobil yang dia naiki sudah masuk ke area perumahan elite dan mobil mulai berjalan pelan, sebuah gerbang setinggi dua setengah meter terbuka membuat mulut Divya semakin tidak tahan untuk tidak marah.
Tepat di depan sebuah pintu rumah yang berukuran cukup besar, mobil berhenti dua pengawal meminta Divya untuk turun tapi Divya pura-pura tertidur dan tidak mau turun.
“ miss, we have arrived (nona, kita sudah sampai) “ suara Liam yang pelan membuat Divya dengan terpaksa membuka matanya.
Divya menatap Liam dengan tatapan sinis dan tidak suka, Divya masih berpikir kalau Liam tidak tahu akan hal ini. Dan Divya tidak menaruh curiga sedikit pun pada Liam. Divya turun dari mobil dengan wajah datar dan penuh amarah, Divya tahu ini rumah siapa justru karena Divya tahu ini rumah siapa makanya Divya sangat marah dan benci.
Divya melangkah dan masuk ke ruang tamu tanpa melihat kesekeliling ruangan dan memilih berdiri dengan melipat tangan di dada. Davis yang sedang santai di ruang tengah mendapat laporan bahwa Divya sudah berada di ruang tamu, dengan segera berdiri dan menghampiri Divya.
“ You must be tired, take a rest first (kamu pasti lelah, istirahatlah dulu) “ ucap Davis dengan lembut.
Sebenarnya Davis ingin sekali memeluk putri kecilnya yang dulu dia tinggalkan sebelum memilih tinggal di Montreal, tapi melihat sikap Divya yang acuh membuat Davis mengurungkan niatnya.
“ this is not my house, this is yours (ini bukan rumahku, ini rumah papi) “ ucap Divya dan memalingkan tubuhnya hendak melangkah keluar dari ruang tamu.
Belum sempat Divya melangkah dua orang pengawal menghalanginya, Divya memutar kembali tubuhnya dan menatap Davis dengan tatapan semakin membenci. Divya tidak peduli dengan sikapnya yang tidak sopan meski pun pria yang di depannya adalah pria yang membuatnya ada di dunia ini.
“ you still haven't changed, still the same. haugthy, arrogant, disrespectful, selfish..... what else?..... it turns out that what I saw from Liam's message is not true at all.... all fake (kamu masih tidak berubah, masih sama. Sombong, angkuh, tidak sopan, semau kamu sendiri..... apa lagi?..... ternyata apa yang papi lihat dari pesan Liam tidak ada benarnya sama sekali.... semuanya palsu). " Ucap Davis yang sudah berdiri di depan Divya dengan memasukkan kedua tangannya di saku celena.
Divya semakin marah dengan ucapan Davis, apa lagi saat menyebut bahwa Liam mengirim pesan pada Davis. Divya menatap Liam dengan tatapan benci seperti elang, Divya tersenyum getir.
“ what do yo thing (memurut kamu bagaimana)? “ pertanyaan Davis membuat Divya menatapnya dengan penuh amarah dan kebencian.
“ Liam..... did you also tell daddy about him (Liam..... apa kamu juga mengatakan pada papi tentang dia)? “ suara keras Divya penuh amarah membuat Liam tidak berani menjawab dan hanya tertunduk diam.
Sekali lagi Divya tersenyum getir dan kecewa ternyata pengawal yang selama ini dia percaya adalah salah satu orang dari pengawal Davis.
“ of course dady already knows all about Fajrin Muhammad Dhiya.... I can easily find out all the information about that poor man (tentu saja papi tahu semua tentang Fajrin muhammad Dhiya.... papi dapat dengan mudah mengetahui semua informasi tentang pria miskin itu) “ ucapan Davis membuat Divya semakin marah.
Divya tersenyum sinis menatap Davis.
“ even though he is a poor man but he still has a heart to respect Divya..... not like daddy who never thought Divya existed and even willing to give up her own child to a maid (biar pun miskin tapi dia masih punya hati menghargai Divya..... dari pada papi yang tidak pernah menganggap Divya ada bahkan rela menyerahkan anak sendiri pada seorang pembantu) “ ucap Divya dengan nada sinis.
Divya tidak peduli bila Davis akan marah atau pun memukulnya atau lebih parah mencoret nama Divya dari nama keluarga Lohia, menurut Divya itu lebih baik dari pada memiliki nama belakang Lohia tapi tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang papi.
Davis merasa tertusuk dengan ucapan berani putrinya, kedua matanya merah menatap mata Divya yang sudah penuh dengan amarah dan kebencian pada dirinya.
“ Austin “ seorang pengawal mendekati Davis.
“ take Divya into her room....if she against you.....drag her....don't let her step out from her room (bawa Divya masuk ke kamarnya.... kalau melawan..... seret dia.... jangan biarkan dia keluar selangkah pun dari kamarnya) “ ucapan tegas Davis membuat Divya semakin memberontak hingga menggigit lengan pengawal tersebut yang memegang lengan Divya
Liam tidak bisa berbuat banyak untuk Divya saat seorang pengawal tidak berhasil memaksa Divya beranjak dari ruang tamu, Austin menambah satu orang pengawal lagi untuk memaksa Divya masuk ke kamarnya. Dua pengawal tadi berhasil membawa masuk Divya ke kamarnya meskipun dengan paksaan yang mengakibatkan gigi dan tangan Divya berhasil mengigit lengan dan mencakar wajah seorang pengawal.
Kedua pengawal tersebut mendudukkan Divya di sebuah sofa di dalam kamarnya, Divya sangat marah semakin membenci Davis.
“ Miss, please calm down first.... I beg you, Miss, don't be like this (nona, tolong tenangkan diri anda dulu.... saya mohon, nona jangan seperti ini) “ ucap Jason yang sudah masuk ke kamar Divya tanpa mengetuk pintu atau mengucap salam.
Divya menatap Jason penuh kebencian, Jason menyerahkan tas selempang miliknya yang terjatuh di ruang tamu.
“ You have no right to tell me to calm down (kamu tidak berhak menyuruhkan tenang) “ suara keras Divya membuat Jason menggelengkan kepala dan keluar dari kamar Divya.
Jason tidak lupa mengunci kamar Divya dari luar dan meletakkan kunci kamar itu di sebuah meja kecil dekat kamar Davis yang tepat berada di depan kamar Divya.