
Freya menarik nafas panjang menatap Selo, mereka berdua saling memandang seperti mencoba mencari tahu apakah benar isi pesan itu yang di minta oleh keluarga Lohia.
“ kita bangunkan Azkar saja..... semua ini tidak ada di Jakarta.... mungkin mereka menginginkan ini karena Fajrin membawa kalung dari Nara untuk Divya “ ucap Selo membuat Freya mengambil kimono dan menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian tidur berbahan satin.
Freya melangkah ke pintu kamar Azkar, pada awalnya Freya ragu membangunkan Azkar tapi saat mendengar suara Azkar yang mencoba menidurkan bayi akhirnya Freya pelan-pelan membuka pintu kamar Azkar.
Terlihat jelas Azkar sedang berusaha menidurkan bayi 2 bulan yang dia gendong, Azkar melihat wajah Freya yang terlihat jelas sangat bingung. Azkar melangkah keluar kamar yang ternyata sudah ada Selo duduk di sebuah sofa ruang tengah.
“ belum tidur? “ tanya Freya.
“ sudah.... ya begini ini setiap jam 2 bangun minta gendong.... nanti jam 4 tidur lagi “ ucap Azkar sambil menimang bayinya.
“ Amma kira.... Amma mengganggumu..... bisa kita bicara sebentar di bawah? “ Azkar menganggukkan kepala dan mengikuti langkah kaki Freya.
Belum juga mereka duduk, Freya memperlihatkan isi pesan dari keluarga Lohia pada Azkar. Azkar membacanya seketika tersenyum tipis dan merasa bahwa keluarga Lohia ingin sedikit menguji seberapa besar kemampuan keuangan Fajrin.
“ semua benda ini hanya bisa kita dapatkan di Eropa..... sepertinya mereka ingin menguji Fajrin..... Amma bisa lanjutkan pesan ini ke Fajrin.... aku akan panggil 4 pengawal kakek “ ucap Azkar sambil meraih telepon intercom untuk memanggil 4 pengawal Erhan.
Tak butuh waktu lama, 4 pengawal Erhan sudah berdiri di hadapan Azkar.
“ skriv dette ned.....og få det innen måneden...eller minst to uker før bryllupsdatoen deres er alt dette i huset mitt (catat ini..... dan dapatkan dalam bulan ini.... atau setidak-tidaknya 2 minggu sebelum tanggal pernikahan mereka semua barang ini sudah ada di rumahku) “ suara tegas Azkar membuat 4 pengawal Erhan segera membaca dan mencatat apa saja yang ada di dalam pesan tersebut.
Salah seorang dari 4 pengawal tersebut memgirimkan pesan pada rekannya di Olso dan tidak butuh waktu lama mendapatkan balasan, pengawal tersebut memperlihatkan isi pesan balasan pada Azkar.
Azkar tersenyum tipis.
“ Amma..... kakek sudah menyerahkan masalah ini pada Afkar..... kontak mereka di Oslo mulai besok akan bergerak.....kita tunggu kabar dari Afkar saja.... Amma dan Abba bisa tenang.... pasti Afkar bisa mendapatkan ini semua “ ucap Azkar sambil memberi isyarat tangan pada 4 pengawal Erhan untuk keluar.
Meski pun ucapan Azkar bahwa masalah ini sudah Afkar ketahui tapi dalam pikiran Selo dan Freya belum tentu Afkar juga orang-orangnya bisa mendapatkannya. Azkar melihat kekuatiran itu di kedua mata kedua orang tuanya.
“ Amma...... Abba..... Azkar yakin...... orang-orang Afkar bisa mendapatkan itu semua..... Afkar yang sekarang bukan seperti Afkar yang dulu.... yang suka berdiam di depan komputer dan bermain game mengkotak-atik program.... sekarang relasi bisnis Afkar sudah mengalahkan relasi bisnis kakek..... selama Abba dan Amma disini..... Afkar sudah membersihkan Rosenkrantz dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab..... aset dan perusahan yang Rosenkrantz akuisi sudah banyak tidak hanya di Norwey tapi juga di luar Norwey...... Afkar juga sudah menggabungkan Shield di bawah managemen Rosenkrantz..... dan kakek sudah benar-benar mempercayakan Rosenkrantz pada Afkar..... Amma dan Abba harus yakin bahwa Afkar bisa mendapatkan itu semua untuk kakak iparnya. “ jelas Azkar yang diam-diam selalu mengikuti perkembangan bisnis Rosenkrantz sejak Afkar menduduki posisi CEO.
“ sekarang Amma dan Abba kembali istirahat saja...... besok kita tunggu kabar dari Afkar..... “ ucap Azkar sambil tangan kanannya menggandeng Freya dan mengajaknya naik ke lantai 2.
Freya dan Selo kembali masuk ke kamarnya, begitu juga Azkar dengan masih sambil menggendong bayi 2 bulan, Azkar mengirim pesan singkat pada Afkar juga Fajrin.
RUMAH FAJRIN
Fajrin yang masih terjaga karena harus menyelesaikan desain untuk resort Miyakojima, melirik ponselnya yang berkedip-kedip. Fajrin sedikit ragu siapa yang mengirim pesan di sepertiga malam begini. Karena dua kali ponselnya berkedip-kedip, akhirnya Fajrin meraih ponselnya dan melihat notifikasi apa yang dia terima.
Seketika kedua mata Fajrin membulat sempurna tidak percaya dengan apa yang dia baca. Belum selesai membaca isi pesan Azkar, satu notifikasi kembali Fajrin dapatkan.
“ apa....... semua akan di kirim Afkar...... aduh..... aku harus telpon Afkar..... “ gumam Fajrin sambil melihat dua dinding.
Dua jam dinding yang sengaja dia atur sesuai waktu Jakarta dan Oslo.
“ masih jam 8 lebih disana.... semoga tidak menganggu mereka “ gumam Fajrin dalam hati.
Menunggu 3 kali Nada dering membuat Fajrin berpikir bahwa Afkar masih sibuk dengan Nara, tapi saat hendak menekan tombol putus seketika terdengar suara Afkar.
“ ..... “ Fajrin sedikit lega mendengar suara Afkar.
“ Wa’alaikumsalam.... apa maksud pesanmu..... bagaimana kamu tahu semua ini..... apa jangan-jangan kami tahu dari kedua orang tuamu? Sudahlah sampai kapan pun aku tidak mampu mensejajarkan diri dengan mereka..... aku tahu diri siapa aku..... “ suara Fajrin membuat Afkar semakin merasa kesal.
“ ..... “ Fajrin semakin tidak enak karena Afkar memaksanya untuk menerima semuanya.
“ baiklah.... kamu yang urus masalah itu..... dan mengenai apa yang sudah kakek ceritakan padamu.... kamu harus mengurusnya.... aku tidak tahu bagaimana mengurus perusahaan “ ucapan jujur Fajrin membuatnya mendengar suara tawa ringan Afkar.
“ ...... “ Fajrin tertawa renyah mendengar ucapan Afkar yang lebih terkesan bercanda dari pada serius.
“ kalau aku memecatmu.... adik bisa mendiamkan aku seumur hidupnya.... diamnya dia lebih menakutkan dari pada sakit hati ” ucap Fajrin dan membuat Afkar tertawa ringan.
“ ...... “ ucapan Afkar membuat Fajrin mengucap aamiin dalam hati.
“ terima kasih adik ipar..... semoga ALLAH membalas semua ini dengan memberimu rezeki yang berlimpah.” doa Fajrin untuk Afkar dan Nara.
“ .... “ terdengar suara Afkar yang mencium kening Nara yang masih tertidur pulas.
“ aku tutup dulu ya.... Assalamu’alaikum adik ipar. “ salam Fajrin.
“ ....... “ salam balasan Afkar membuat Fajrin tersenyum lebar.
Fajrin melangkah mendekati sofa dan mulai meencatat nama-nama barang apa saja yang mereka minta termasuk 2 nama barang yang di minta oleh Ditya.
“ pasti kamu berharap kalau aku tidak bisa mendapatkan 2 barang ini..... memang aku tidak bisa mendapatkan 2 barang ini karena memang 2 barang ini tidak ada di Jakarta..... tapi adik iparku pasti bisa mendapatkan 2 barang ini “ gumam Fajrin dalam hati sambil mencatat apa saja nama barang yang keluarga Lohia inginkan.