
“ ayang buka dulu ya... kita lihat siapa yang menganggu kita “ ucap Fajrin sambil mencium dahi Divya sekali lagi.
Fajrin membuka pintu kamar dan mendapati Davis juga Ditya berdiri di depan pintu kamar, terlihat jelas wajah Ditya sangat tidak tenang.
“ ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian“ ucap Ditya ragu.
“ maksud abang.... kami “ suara Divya membuat Fajrin sedikit bergeser ke kiri memberi Divya sela.
“ bukan.... tapi.... dia..... dan..... adiknya “ ucap Ditya terputus-putus dan ragu.
“ oooo..... ayo kita selesaikan masalah abang.... biar setelah ini tidak ada lagi yang mengganggu kami “ ucap Divya sambil meraih tas kecil miliknya di sebuah nakas.
Fajrin mengambil tas pinggang yang selalu dia bawa bila hendak melakukan perjalanan jauh.
Sepanjang mereka melangkah kembali menuju grand ballroom, hanya Fajrin dan Divya yang terlihat jelas sangat bahagia. Sesekali Fajrin mencium punggung tangan kanan Divya yang selalu Fajrin genggam, Davis menatap mereka dengan bahagia. Tapi tidak dengan Ditya yang otaknya penuh dengan pikiran kalimat apa yang bisa dia ucapkan di hadapan Fajrin dan Nara, karena Ditya sangat anti mengucap kata maaf dalam bahasa apa pun dan pantang mengakui semua perbuatannya yang menurut orang lain salah atau tidak benar.
Berdiri di depan pintu grand ballroom mencari keberadaan Nara membuat Fajrin dan Divya menjadi pusat perhatian.
“ wa.... pak Fajrin sudah bersiap untuk bulan madu “ ucap Muslim asal.
“ pak...... jangan lupa oleh-olehnya dua garis merah “ canda Gultom.
“ nanti malam belah durian nih.... “ canda Ryan.
Fajrin hanya menanggapi candaan itu semua dengan senyum tipis tapi Divya tersipu malu mendengar candaan mereka.
Barra dan Zarya juga anggota Shield yang lain keluar dari grand ballroom.
“ cari siapa? Nara? “ sapa Barra saat melihat Fajrin yang terlihat jelas sedang mencari-cari seseorang.
“ iya........ ada dimana sih dia..... “ ucap Fajrin yang masih belum menemukan Nara dan Afkar.
“ sebelah sana “ ucap Barra sambil menunjukkan keberadaan Nara.
“ selamat ya..... aku balik dulu..... hati-hati di jalan “ ucap Barra berpamitan sambil menjabat tangan Fajrin.
“ terima kasih..... kalian juga.... semoga kalian juara di setiap kompetisi “ ucap Fajrin sambil menepuk lengan kanan Barra.
Fajrin melangkah dengan menggenggam tangan kanan Divya mendekati Nara yang menempel manja pada Afkar.
“ dik.... “ panggil Fajrin tapi belum membuat Nara mencari keberadaan Fajrin.
Johan, Dipta dan Azkar yang melihat kehadiran Fajrin dengan Divya juga Ditya dan Davis, menatap Ditya dengan tatapan penuh tanya.
Dengan satu isyarat mata Azkar, Afkar melihat ke samping dan mendapati Fajrin yang sudah berdiri di belakang mereka.
“ sayang..... ada Fajrin “ bisik Afkar membuat Nara mencari keberadaan Farjin.
Di saat Nara sudah berdiri dengan bantuan Afkar, melihat sosok yang berdiri di samping belakang Divya membuat Nara tersenyum tipis.
Terlihat jelas sorot mata Nara yang berubah menjadi datar, membuat Fajrin gemas ingin sekali mencubit kedua pipi Nara.
Melihat Nara dengan perlahan menerima Tablet dari Afkar dan mengetik sesuatu membuat Fajrin bernafas lega, karena Nara tidak mempersulit Ditya. Tapi rasa lega Fajrin hanya sesaat karena Nara menyerahkan kembali tablet tersebut pada Afkar, dan saat Nara mengeluarkan sebuah kata yang singkat dan padat kepala Fajrin seketika menjadi pening.
Fajrin hanya bisa memijat dahinya pelan mendengar apa yang adiknya katakan, semua keluarga besar Divya menatap Ditya dengan penuh tanya.
“ how could the playboy say sorry (mana mungkin playboy itu mengatakan maaf) “
“ I know him...... even it is wrong..... he will never say sorry (aku sangat mengenal Ditya.... sesalah apa pun.... dia tidak akan mengucapkan kata maaf) “
Ucapan dan bisikkan beberapa saudara sepupu Divya.
Dipta yang sudah tidak sabar melihat Ditya yang hanya diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun, seketika bangkit dari kursi berjalan mendekati Ditya dan dengan cepat menarik kerah kemeja Ditya.
“ cepat katakan pengecut “ hardik Dipta dengan keras dengan tangan kiri menarik kerah kemeja Ditya dan tangan kanan mengepal keras tepat berada di depan wajah Ditya.
seketika Davis terkejut dan Ningsih berusaha menahan agar Dipta tidak bertindak lebih dari ini.
Semua orang terkejut dengan suara tinggi dan aksi Dipta, bahkan Azkar dan Fajrin yang merasa sudah mengenal dengan baik juga terkejut melihatnya.
Ditya terlihat jelas sangat ketakutan dengan apa yang Dipta lakukan saat ini padanya, karena Ditya pantang mengucap kata maaf pada orang dengan status sosial di bawahnya.
tiba-tiba Fajrin memecah keheningan suasana.
“ dik... tidak bisakah adik membuka akunnya tanpa dia mengucapkan kata maaf? “ suara pelan Fajrin membuat Nara kembali berdiri di samping Afkar.
Fajrin tersenyum melihat apa yang Nara lakukan tapi senyum itu hanya sesaat karena sekali lagi ucapan Nara membuat kepala Fajrin menjadi pening seketika.
pengawal Azkar mendekat.
“ tuan.... Sundth Air sudah mendapatkan izin terbang “ mendengar ucapan pengawal itu membuat Fajrin ingat akan hadiah Freya untuk Divya.
Ditya masih terdiam semakin membuat Dipta juga Davis geram dan tidak sabar, di saat semua kembali hening menunggu Ditya bersuara
“ Fajrin...... So...... rry “ suara Ditya terdengar pelan berat dan bergetar.
Untuk lima detik semua orang menunggu apa yang akan Afkar lakukan dan semua terdiam, sesaat kemudian Afkar memperlihatkan layar tablet pada Ditya. Dipta semakin geram.
“ apa kamu tidak dengar apa yang tadi Nara bilang..... suaramu harus keras tidak bergetar dan tidak ada kebohongan “ ucap Dipta dengan emosi yang ingin sekali dia keluarkan.
“ damn it (sialan) “ umpat Ditya dengan nada kasar.
Afkar tersenyum dengan mengangkat salah satu sudut bibirnya. Ucapan Afkar membuat saudara sepupu Divya yang sedikit berbisik-bisik seketika terdiam sesaat mencoba memahami ucapan Afkar.
Para saudara sepupu Divya kembali berbisik-bisik.
“ what has Ditya the playboy already done (apa yang sudah dilakukan Ditya si playboy itu)? “
“ interesting drama..... this is the first time I see Ditya not moving in front of women (tontonan yang menarik..... baru kali ini aku melihat Ditya tidak berkutik di hadapan wanita) “
“ all this time.... I've never heard sorry from that playboy's mouth (selama ini.... aku tidak pernah mendengar kata maaf dari mulut playboy itu) “
Beberapa ucapan para saudara sepupu laki-laki Divya.
“ GUN.....how lucky you have Neptunia..... (GUN..... beruntung sekali kau mendapatkan Neptunia......) “ gumam Evan yang sedari tadi hanya tertarik melihat Nara.
“ so handsome.... the colder he gets the more handsome..... I'm sure he's great in bed (tampan sekali.... semakin dia bersikap dingin semakin tampan..... aku yakin dia hebat di atas ranjang) “ gumam Celina dalam hati yang kedua matanya tidak berkedip menatap Afkar.
“ I need to be able to get close to him.... I will do anything to get him..... (aku harus bisa mendekati dia.... apa pun akan aku lakukan untuk mendapatkan dia..... ) “ gumam Trinity dalam hati dengan perasaan penuh ambisi.
“ I have to have it….if need it I will use my body's to have him (aku harus memilikinya.... kalau perlu akan aku gunakan kemolekan tubuhku untuk memilikinya) “ gumam Jessica yang sama ambisinya dengan Trinity.