
“ kamu semakin jauh meninggalkan dunia model dan papi sudah mendengar namamu sebagai seorang desainer muda pakaian muslim..... rekan bisnis papi sering bertanya apakah desainer ini putri papi “ ucap Davis sambil menangkup kedua pipi Divya yang tertutup hijab.
Senyum tipis terulas di bibir Divya.
“ ayang dan orang-orang di sekitar ayang membantu Divya sampai bisa seperti ini.... mereka bahkan membuka butik di Kualalumpur dan Penang hanya untuk pakaian yang Divya buat...... “ cerita Divya sambil mengajak Davis melangkah menuju ruang produksi.
Divya menceritakan kegiatan apa saja yang berada di worshop ini, terlihat jelas raut wajah Davis yang penuh rasa bahagia juga bangga. Bahkan Divya menceritakan bagaimana dan siapa yang sudah membuka dua butik yang khusus menjual pakaian hasil desainnya. Mendengar Divya menyebut dua nama putri pemilik PPB group membuat Davis tidak percaya bahwa semudah itu kedua putri pemilik PPB group percaya pada putrinya.
“ kamu serius...... kedua putri pemilik PPB group yang bekerjasama denganmu..... “ ucap Davis meyakinkan apa yang Divya ceritakan.
Divya menganggukan kepala, membuat Davis terduduk disebuah sofa yang berada tepat di dekat pintu keluar menuju rumah tinggal Divya dan Fajrin.
“ apa kelebihan menantuku itu hingga mereka memberi dukungan penuh pada Divya..... Martha dan aku pun sulit sekali meyakinkan para petinggi PPB group untuk kesepakatan kerjasama..... tapi ini dengan mudah mereka bekerjasama dengan Divya..... “ gumam Davis dalam hati yang masih sulit percaya dengan cerita Divya.
Divya bercerita panjang lebar apa yang sudah dia capai bersama Helga, dan Divya menceritakan kondisi Helsa juga keinginan Helsa bila sudah kembali ke Malaysia. Davis yang sudah mengenal sepak terjang tangan dingin putri kembar PPB group hanya bisa semakin sibuk dengan pemikirannya bagaimana membuat rencana cadangan bila Fajrin tidak berhasil menghubungkan dirinya dengan Rosenkrantz.
Kehangatan antara ayah dan anak membuat mereka lupa waktu, tak terasa sudah menjelang senja dan Fajrin yang terbiasa menemukan Divya di ruang tengah. Kali ini tidak menemukan sosok Divya membuat Fajrin mencarinya dengan sedikit tergesa-gesa melangkah lebar menuju workshop. Mendapati Divya sedang bercengkrama dengan Davis membuat raut wajah Fajrin terlihat lega.
“ Assalamu'allaikum..... sayang... kenapa belum kembali ke rumah..... ayang cari kemana-mana...... “ ucap Fajrin sambil melangkah mendekati mereka.
Fajrin mengulurkan tangan kanan menjabat dan mencium punggung tangan kanan Davis.
“ Wa'alaikumsalam “ balas Divya dan Davis hampir bersamaan.
“ baru pulang kerja..... “ pertanyaan Davis membuat Fajrin menganggukan kepala dan berganti melihat raut wajah bahagia Divya.
“ kenapa sayang tidak mengajak papi ke rumah..... malah duduk di sini... “ Divya meringis mendengar ucapan Fajrin.
“ lupa.... tadi Divya cerita banyak hal sampai lupa waktu “ ucap Divya dan memeluk lengan kiri Fajrin.
Melihat kebahagian dan kehangatan antara putrinya dan Fajrin membuat Davis yakin bahwa keluarga kecil putrinya tidak ada masalah, tapi Davis masih heran kenapa dia belum mendapatkan kabar tentang kehamilan Divya.
Divya meraih tangan kanan Davis dan mengajaknya melangkah menuju rumahnya, membiarkan Liam dan Elena menutup pintu butik juga workshop.
Selesai makan malam Davis mencoba mengutarakan maksud kedatangannya kali ini, hingga ucapan Davis yang menanyakan keberadaan cucu dari rahim Divya.
“ kalian sudah hampir satu tahun menikah..... apa masih belum ada tanda-tanda kehamilan? “ pertanyaan Davis dengan raut wajah penuh tanya membuat Divya tertunduk tidak bisa berkata-kata.
Fajrin tersenyum dan menggenggam erat tangan kanan Divya.
“ kami masih berusaha pi....... hamil atau belum itu semua tergantung dari yang memberi kami rezeki.... kalau ALLAH belum menghendaki kami untuk memiliki anak..... bukan berarti kami putus asa dan tidak berusaha....... kami tetap berusaha dan berdoa meminta yang terbaik bagi kami “ ucapan bijak Fajrin membuat Divya menatapnya dan tersenyum.
“ apa kalian sudah memeriksakan diri? “ pertanyaan Davis membuat Fajrin juga Divya saling memandang seperti sedang berbicara dengan kedua mata mereka.
“ papi ada seorang kenalan di Singapore.... sempatkan dua tiga hari dalam minggu ini pergi ke Singapore bersama papi..... papi tidak bisa tenang kalau belum mengetahui kesehatan kalian “ bujuk Davis membuat Fajrin menarik nafas panjang.
Karena belum mendapatkan tanggapan positif dari putri juga menantunya, kembali Davis berusaha meyakinkan Fajrin dan Divya untuk melakukan pemeriksaan.
“ ayang..... “ suara Divya terdengar mulai ragu dan ingin sekali mengikuti saran Davis.
Fajrin paham betul Divya sangat ingin hamil tapi di satu sisi Fajrin takut bila hasil pemeriksaan tidak sesuai seperti yang mereka harapkan dan membuat salah satu dari mereka kecewa.
“ papi terima kasih sudah sangat perhatian pada kami.... kami akan bicarakan terlebih dahulu “ ucap Fajrin sambil menepuk punggung tangan kanan Divya dengan tangan kanannya.
Davis menarik nafas panjang mendengar jawaban Fajrin.
“ ya.... kalian pertimbangan saja dulu.... baik tidaknya saran papi..... kalau pun kalian mau melakukan pemeriksaan itu.... papi akan menemani kalian sampai selesai “ ucap Davis dan beranjak pergi menuju kamar tamu yang berada tepat di bawah kamar Fajrin dan Divya.
Divya dan Fajrin yang masih duduk di ruang tengah hanya bisa memandang punggung Davis.
“ ayang..... kita coba lakukan saran papi ya.... “ ucap Divya sedikit merengek.
Karena dalam hati kecil Divya ada rasa kuatir juga takut bahwa dalam dirinya ada yang tidak beres. Fajrin menatap dalam-dalam kedua mata Divya seperti mencoba mencari tahu alasan dari kekuatiran yang terlihat jelas di kedua mata Divya.
“ kalau seandainya hasil pemeriksaan itu tidak sesuai dengan yang kita harapkan dan seandainya dalam diri ayang ada masalah.... apa yang akan sayang lakukan? “ pertanyaan Fajrin membuat Divya mengerutkan kulit di antara kedua alisnya.
“ maksud ayang apa? “ terlihat jelas sorot mata heran juga kuatir pada Divya.
Fajrin menarik nafas panjang.
“ seandainya hasil dari pemeriksaan itu ternyata ada masalah dalam diri ayang.... dan itu yang membuat sayang tidak bisa hamil hingga saat ini..... apa yang akan sayang lakukan? “ ucap Fajrin yang sudah menggenggam erat kedua tangan Divya.
“ ayang kenapa berpikir seperti itu..... kita belum juga melakukan pemeriksaan tapi ayang sudah bersikap pesimis....... apa pun yang terjadi pada ayang.... Divya akan selalu berada di sisi ayang.... “ ucap Divya berusaha meyakinkan Fajrin.
Tapi dalam hati Divya terbersit rasa kuatir bila yang terjadi sebaliknya, Divya takut bila Fajrin akan menduakannya agar bisa memiliki keturunan.
“ sayang.... sayang belum menjawab pertanyaan ayang.... apa sayang akan meminta talak pada ayang atau akan tetap menemani ayang sampai kematian memisahkan kita? “ pertanyaan Fajrin semakin membuat Divya heran kenapa Fajrin bisa berpikir demikian.
Menatap wajah suaminya yang menunggu jawaban membuat kedua mata Divya mulai berkaca-kaca, tiba-tiba Divya memeluk erat Fajrin seakan-akan tidak mau melepaskannya.
“ kita harus berjanji.... apa pun hasilnya nanti bila salah satu dari kita ada masalah.... kita tidak akan berpisah.... dan hanya kematian yang bisa memisahkan kita “ suara pelan Divya membuat hati kecil Fajrin sedikit takut.
Fajrin takut bila Divya hamil nanti, Divya akan mengalami hal yang sama seperti Nara. Fajrin tidak sanggup membayangkan berada di posisi Afkar saat ini.