
Bulan demi bulan mereka lalui hingga tak terasa pernikahan mereka mulai memasuki tahun ke tiga, ihktiar dunia akhirat tidak henti-hentinya mereka lakukan demi mendapatkan amanah keturunan. Bahkan Divya kembali melakukan konsultasi di sebuah rumah sakit di daerah Menteng Jakarta Pusat tanpa sepengetahuan Fajrin, Divya mencoba mencari tahu tentang prosedur bayi tabung. Prosedure proses bayi tabung yang panjang dan menurutnya cukup melelahkan membuat Divya memutuskan mmencoba melakukan terapi injeksi atau suntik hormon gonadotropin sebelum benar-benar melakukan program bayi tabung. Injeksi hormon gonadotropi adalah Preparat hormon yang digunakan untuk mengatasi infertilitas atau ketidaksuburan pada wanita. Obat ini hanya tersedia dalam bentuk injeksi dan Divya harus melakukan injeksi sendiri sesuai dengan apa yang dokter jelaskan. Fajrin tidak tahu hal ini karena setiap kali Divya hendak melakukan injeksi hormon gonadotropi, Divya melakukan saat Fajrin tidak berada di rumah kalau pun Fajrin sedang ada di rumah maka Divya akan melakukan di kamar mandi.
Divya tidak suka bahkan takut dengan jarum suntik tapi demi bisa hamil, Divya melawan rasa takut dan sakit itu. Satu kali Divya harus melakukan injeksi hormon gonadotropi di kamar mandi karena Fajrin ada di rumah, sekuat tenaga Divya menahan rasa sakit juga tangis. Divya tidak ingin suara teriakannya terdengar Fajrin, Divya mengeratkan kedua bibirnya menahan rasa sakit jarum suntik yang dia tancapkan di otot paha bagian bawah. Divya sudah melakukan terapi ini selama 4 bulan atau sudah 4 kali injeksi.
Tapi di bulan ke enam setelah melakukan injeksi entah kenapa Divya menjadi tidak bersemangat seperti biasanya, Divya merasa segala usahanya sia-sia. Di sela-sela aktivitasnya, Divya sering terlihat melamun membuat Elena juga Liam menjadi merasa tidak enak bila ingin mengatakan atau menanyakan sesuatu.
“ sudah dua obat yang aku coba tapi hasilnya sama saja.... kedua obat itu justru membuatku sering sakit kepala.... mual..... kembung..... kadang penglihatanku tiba-tiba buram...... kadang juga dadaku terasa nyeri..... sering berkeringat..... sehari saja bisa lebih dari tiga kali aku ganti pakaian.... berat badanku naik..... rambutku rontok.... “ gumam Divya sambil memainkan pena yang dia pegang.
Kedua mata Divya memang melihat sketsa desain pakaian yang dia buat tapi fokus otaknya tidak pada kertas itu, tangan kirinya hanya memainkan pena yang dia pegang. Sesekali Divya menarik nafas panjang seperti berusaha mengeluarkan beban di dalam dirinya. Ingin rasanya Divya mengatakan semua ini pada Fajrin, tapi Divya kuatir Fajrin akan memintanya berhenti melakukan injeksi hormon gonadotropi.
Divya tidak berani menceritakan itu semua pada Elena bahkan Fajrin, Divya menyimpan semua itu sendiri.
“ tidak ada yang tidak mungkin bagi ALLAH untuk menjadikan sesuatu.... bila ALLAH menghendaki maka tidak akan ada satu hal pun yang dapat menghalangi kehendakNYA..... “ gumam Divya dalam hati mengingat nasehat Fajrin.
Kalimat yang membuat Divya kadang merasa ragu bahwa usahanya belum maksimal karena setiap bulan dalam 2 atau 3 hari selalu di liputi perasaan tidak menentu, meskipun setiap bulan dari sejak remaja hingga bulan kemarin selalu mendapatkan periodenya.
“ aku kira hanya orang orang dengan periode tidak teratur yang akan sulit hamil..... ternyata meski pun periodeku teratur aku juga mengalami kesulitan itu..... “ gumam Divya sambil menarik nafas panjang.
Elena dan Liam menatap Divya dengan heran.
“ lately she's been so quiet lost in thought….. what makes him like that (akhir-akhir ini dia sering sekali diam melamun..... apa yang membuatnya seperti itu.... ) “ ucap Elena pelan.
Meski pun pelan tapi Liam dapat mendengarnya dengan jelas.
“ do you want me to ask the lady directly (apa kau ingin aku menanyakan langsung pada nona)? “ pertanyaan Liam membuat Elena membulatkan kedua matanya.
Liam seketika melangkah menjauh dari Elena dari pada mendapatkan marah atau membuat Elena cemberut.
Melihat Divya yang beberapa kali terlihat menarik nafas panjang seperti berusaha melepaskan sebuah beban berat tapi beban itu tidak mau lepas, membuat Elena merasa kasihan. Elena ingin sekali membantu meringankan apa yang menjadi beban pikiran Divya tapi Elena tidak tahu apa yang menjadi beban pikiran Divya.
“ Ya ALLAH.... apa Engkau tidak mendengar doaku setiap malam...... apa aku kurang bersyukur pada semua ini...... atau Engkau sedang menguji kesabaranku..... “ gumam Divya dalam hati mencoba mengoreksi apa yang kurang dalam dirinya selama ini.
“ Divya..... apa kau akan terus melamun disini.... sebentar lagi suamimu pulang..... “ tegur Elena pelan.
Tapi Divya tidak bergeming hanya menatap kosong kertas sketsa, Elena menarik nafas panjang mencoba sekali lagi menyadarkan Divya. Tapi usahanya sia-sia hingga sosok Fajrin sudah berdiri di ambang pintu yang lurus dengan meja tempat Divya berada. Fajrin menatap Divya penuh tanya.
“ kenapa sayang melakukan semua ini sendiri.... apa sayang sudah tidak percaya ayang lagi..... “ gumam Fajrin menatap sosok Divya.
Tatapan mata Fajrin penuh dengan seribu pertanyaan, dengan memasukkan kedua tangannya di saku celana Fajrin melangkah mendekati Divya. Tepat di depan meja Fajrin menghentikan langkahnya.
“ sayang kenapa masih disini “ suara Fajrin yang terdengar berat.
Membuat Elena terkejut dan hampir saja melempar kain yang berada di tangannya, Divya juga terkejut mendengar suara Fajrin tapi Divya menutupi rasa terkejutnya dengan berpura-pura meletakkan pena yang dia pegang dengan pelan-pelan.
Divya tersenyum melihat wajah Fajrin yang terlihat jelas menyimpan seribu pertanyaan.
“ ayang...... sudah pulang..... “ ucap Divya sambil berdiri dari kursi.
Divya melangkah mendekati Fajrin dan meraih serta mencium punggung tangan kanan Fajrin, Divya segera melingkarkan kedua tangannya di lengan kiri Fajrin dan mengajak Fajrin berjalan menuju kediaman mereka. Divya yang tidak berani bertanya kenapa raut wajah Fajrin seperti itu, Fajrin pun tidak kuasa untuk bertanya kenapa ada bekas spuit jarum suntik di tempat sampah kamar mandi mereka. Fajrin diam menatap Divya yang sibuk menyiapkan pakaian santai untuk dirinya dan Fajrin, Divya merasa sedikit kikuk karena Fajrin memperhatikan setiap gerakkannya.
Dengan sedikit ragu dan rasa kuatir Divya mulai memberanikan diri mengeluarkan suara.
“ ayang.... ayang kenapa menatap Divya seperi itu...... apa ada yang aneh? “ tanya Divya mencairkan suasana.
Fajrin masih menatap Divya dalam-dalam berharap Divya akan mengatakan sesuatu tentang spuit bekas di kamar mandi.
Fajrin menarik nafas panjang serasa tidak sanggup menahan bibirnya yang ingin bertanya sesuatu.
“ sayang..... kenapa ada spuit bekas di kamar mandi.... apa sayang sedang memakai sesuatu? “ pertanyaan Fajrin yang pada intinya membuat Divya menghentikan langkah kakinya
Divya menatap Fajrin dengan kedua mata yang berkaca-kaca, pertanyaan Fajrin membuat dadanya seketika terasa sesak dan sakit. Divya merasa bahwa Fajrin tidak mendukung, bahwa Fajrin sudah mulai lelah dengan semua terapi PCOS ini dan bahwa Fajrin sudah berhenti berharap. Memang dari luar Fajrin terlihat lebih santai seperti tidak terlalu memikirkan akan amanah seorang anak, tapi dalam setiap doanya selalu terselip akan doa untuk kebaikan dan kesehatan bagi Divya.