
Saat Fajrin sibuk dengan pemikiran berbagai kemungkinan siapa wanita yang saat ini terbaring lemas di dalam kamarnya, terlihat dari jauh dua wanita dan dua pria berpakaian pesta sedang mengetuk-ngetuk pintu kamar. hingga kedua wanita dan kedua pria itu mengetuk pintu kamar tepat di depan Fajrin berdiri.
“Are you sure Divya was brought by two big men? Why don't you beat up those two guys and snatch Divya?....now we don't know where Divya is.... (kamu yakin tadi Divya di bawa dua orang pria berbadan besar? Kenapa kamu tidak menghajar dua pria itu dan merebut Divya?.... sekarang kita tidak tahu dimana Divya....) ” ucap Elena dengan wajah penuh kekuatiran juga kesal pada kedua pengawal Divya.
Fajrin mendengar ucapan Elena dan melangkah mendekati Elena.
“excuse me..... are you looking for a friend (permisi..... apa kalian sedang mencari seorang teman kalian)?” suara Fajrin membuat Elena melihatnya dan seketika membulatkan kedua matanya terkejut menatap sosok yang dia kenal.
“oh my god.....aren't you (ya Tuhan..... bukankah anda)" Elena terkesima melihat Fajrin di saat yang tidak tepat.
“yes....we are looking for a friend...she is wearing a gold Saree.....we have looked for her here and there but can't find her.... have you seen our friend (iya.... kami mencari seorang teman...dia memakai Saree berwarna emas..... kami sudah mencarinya kesana kemari tapi tidak menemukannya..... apa anda melihat teman kami)” ucap Elena yang kembali terdengar sangat kuatir dan mulai takut bila terjadi apa-apa pada Divya.
“wait..... your friend is wearing a gold Saree? (tunggu..... teman kalian memakai kain Saree berwarna emas?)” pertanyaan Fajrin mendapat anggukan kepala dari Elena dan Joana bersamaan.
“come here....follow me (kemari.... ikut aku)" ucap Fajrin sambil melangkah ke pintu kamarnya dan membuka pintu kamarnya.
“is she your friend (apa dia teman kalian)?” ucap Fajrin sambil menunjuk arah ranjang.
Fajrin melangkah menuju arah ranjang diikuti Elena dan joana sementara kedua pengawal Divya berjaga-jaga di depan pintu.
“Astagfirullah” ucap Fajrin terkejut dan segera memalingkan wajahnya menatap dinding.
Selimut yang tadi Fajrin pakai untuk menutupi tubuh Divya sudah berserakkan di atas ranjang dengan tubuh Divya yang hanya tertutup Bra dan hipster, sementara kain Saree yang dia kenakan sudah tergeletak di lantai. Elena terkejut melihat penampilan Divya yang hampir tanpa kain untuk menutupi dadanya karena saat Elena menghampirinya, Divya berusaha melepas Bra. seketika Fajrin bergeser ke pintu dimana para pengawal Divya menunggu di luar.
“hi.... are you guys from Jakarta (hai.... apa kalian dari Jakarta)?” tanya Fajrin sedikit kikuk.
Kedua pengawal Divya hanya melihatnya dengan heran.
“he’s from Penang and I’m from Singapore (dia dari Penang dan saya dari Singapore)" jawab Liam yang sudah mulai tidak tegang seperti saat mencari-cari Divya.
“oooo.....” Fajrin bergeser ke dinding dan menyandarkan punggungnya.
Beberapa saat kemudian Gultom dan Ryan datang dengan Krishna juga Jatinra, mereka dengan tergesa-gesa mendekati Fajrin.
“they are already two female colleagues who take care of it.... Ryan.... tonight I'm sleeping in your room (sudah ada dua rekan wanita yang mengurusnya.... Ryan.... malam ini aku tidur di kamar kamu)" ucap Fajrin yang sudah melangkah kedepan pintu kamar Ryan.
Krishna mengikuti Fajrin dengan heran.
“Mr. Fajrin will let that woman in your room? Aren't you afraid if something happens to that woman that will harm you ? (pak Fajrin akan membiarkan wanita itu di dalam kamar bapak? Apa bapak tidak takut bila terjadi sesuatu dengan wanita itu yang akan merugikan bapak?)”yang Krishna heran.
“The woman's body was limp and felt warm, when I wanted to leave the room I already covered her with a blanket in the hope that the woman's body would sweat and her fever would go down. But when I invited her friend to come in and see that woman, it turned out that she’s almost taking off all the clothes she was wearing. (badan wanita itu tadi lemas dan terasa hangat, saat saya mau keluar kamar saya sudah menutupinya memakai selimut dengan harapan tubuh wanita itu akan berkeringat dan demamnya turun. Tapi waktu saya mengajak temannya untuk masuk dan melihat wanita itu, ternyata dia sudah hampir melepas semua kain yang dia pakai)" ucap Fajrin sambil melangkah ke westafel untuk mencuci muka.
“wait.... you said that woman almost took off all the clothes... is it possible that she had already drunk addyi (tunggu.... anda bilang kalau wanita itu hampir melepas semua kain.... apa mungkin wanita itu habis meminum addyi)?” ucap Krishna sedikit ragu.
“Addyi?” tanya Fajrin dan Ryan hampir bersamaan.
“it’s a kind of a drunk for..... (semacam obat untuk.....)” ucap Krishna sambil memberi isyarat tangan pada Fajrin dan Ryan juga Gultom.
“ooooo" ucap Ryan dan Gultom
“maybe..... I saw a man forcing her to drink something but she managed to spit it out on that man's head.... Maybe she swallowed a little ( bisa jadi..... tadi saya melihat seorang pria menyuruhnya meminum sesuatu tapi dia berhasil menyemburkan ke kepala pria itu.... bisa jadi dia sempat menelannyaa sedikit).” ucap Fajrin sambil mengingat kejadian tadi.
“According to Mr. Fajrin.... now what can I do for you (menurut pak Fajrin.... sekarang apa yang bisa saya bantu untuk bapak)?” tanya Krishna serius.
“please make sure you copy the CCTV footage in the park and surrounding the park, until enter the elevator as well as the CCTV in the elevator..... and the CCTV along this hallway.... can you do that (tolong pastikan anda menyalin rekaman CCTV di taman dan sekitarnya hingga masuk lift juga CCTV yang berada di lift..... dan CCTV di sepanjang lorong ini.... apa anda bisa melakukannya)?” tanya Fajrin ragu.
“I do my best (saya usahakan)” ucap Krishna sedikit ragu karena dia tidak mengenal managemen hotel ini.
Fajrin mengeluarkan ponselnya mengetik sesuatu dan memasukkan kembali ponselnya.
“alright..... now we meet the higher up of Rosewood and Keemaya they must be looking for us (baiklah..... sekarang kita temui para petinggi Rosewood dan Keemaya pasti mereka mencari kita)" ucap Fajrin yang sudah rapi kembali.
Mereka keluar dari kamar Ryan dan menuju Lift, masih terlihat jelas kedua pengawal Divya berdiri di depan pintu kamar Fajrin.
Mereka masuk kembali ke dalam Ballroom seperti tidak terjadi apa-apa, Fajrin duduk kembali di kursinya dan berbincang-bincang dengan para petinggi Rosewood juga Keemaya. Para petinggi Keemaya sudah tidak memandang sebelah mata pada Fajrin juga pada Surendra Corp, mereka berbincang-bincang hingga acara jamuan makan malam selesai. Fajrin mengantar para petinggi Rosewood hingga ke mobil mereka dan kembali melangkah menuju Lift yang sudah ada Ryan dan Gultom menunggunya.