My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 157 TEGAS



Sejak ikut acara reuni sekolah Fajrin, Divya semakin merasa bahwa pilihannya tidak salah dan ini yang terbaik buat dirinya. Divya masih belum memutuskan akan mengambil kursus atau kuliah fashion design dimana, karena saat ini Divya ingin fokus pada hubungannya dengan Fajrin. Fajrin mulai sedikit tegas pada Divya seperti hari ini.


“ Assalamu'allaikum “ salam Divya sambil membuka pintu ruang kerja Fajrin.


“ Wa'alaikumsalam.... ayang sudah bilang jangan kesini...... kenapa masih ke kesini? “ ucap Fajrin sedikit kesal.


“ kangen “ ucap Divya dengan mengerucutkan kedua bibirnya.


“ setiap pulang kerja.... ayang selalu ke rumah Divya.... makan malam disana.... masih kurang? “ ucap Fajrin yang sudah menemani Divya duduk di sofa.


“ kurang..... “ ucap Divya merajuk.


Fajrin menarik nafas panjang mendengar ucapan Divya.


“ sekarang Divya mau apa kemari? “ tanya Fajrin sambil membuka permen coklat untuk Divya.


“ lihat ayang kerja “ ucap Divya sambil menggerak-gerakan kelopak matanya.


Setiap kali Divya melakukan itu membuat Fajrin gemas dan mengepalkan kedua tangannya karena Fajrin ingin sekali menangkup kedua pipi Divya, tapi Fajrin cukup sadar diri tidak boleh melakukan kontak kulit selama belum halal. Fajrin kembali menarik nafas panjang dan berdiri kembali ke meja kerjanya, kembali menyibukkan diri menyelesaikan pengecekan beberapa laporan perkembangan project yang sedang berjalan. Sesekali Fajrin terlihat sedang berbicara di ponsel dengan bahasa Tagalog, terdengar lucu di telinga Divya membuatnya tersenyum simpul setiap kali mendengar Fajrin berbicara bahasa Tagalog.


Menjelang pulang kerja, Fajrin mengajak Divya pulang tapi Fajrin yang mengemudikan mobil dan tentunya Fajrin harus merepotkan seorang petugas parkir untuk membawa motornya ke kediaman Davis. Hal yang Fajrin tidak sukai bila Divya datang ke kantor adalah saat pulang seperti ini, banyak pasang mata kaum adam yang masih memperhatikan penampilan Divya meskipun sudah berhijab tidak menampilkan lekuk tubuh tapi wajah Divya yang cantik masih menjadi pusat perhatian kaum adam di kantor. Membuat Fajrin sering kali harus menutupi wajah Divya dengan syal milik Nara yang memang sengaja dia siapkan di tas punggung sebagai antisipasi bila Divya datang ke kantor.


“ ayang kenapa di tutupi begini.... Divya tidak bisa melihat “ rengek Divya setiap kali Fajrin menutupi kepalanya dengan syal.


“ sudah jalan ikut ayang saja “ jawaban Fajrin selalu sama membuat Divya semakin sengaja menempelkan bagian atas tubuhnya di lengan Fajrin.


Sampai di mobil, Fajrin baru menurunkan syal dari kepala Divya dan mereka meluncur menuju kediaman Davis.


“ Divya..... ini terakhir kali Divya ke kantor..... jangan datang ke kantor lagi.... ayang akan ke rumah setiap pulang kerja “ ucap Fajrin dengan tegas sambil melajukan Bugatti Chiffon super sport 300+ milik Divya.


“ ayang takut kalau Divya melihat ayang ada affair dengan teman kerja ayang? “ tanya Divya pura-pura merajuk.


Fajrin gemas dengan pertanyaan Divya dan tersenyum simpul.


Membuat Fajrin sekali lagi merasakan benda kenyal milik Divya untuk sesaat, Fajrin memijat pelipisnya yang terasa sedikit pening. Sampai di kediaman Davis, motor Fajrin sudah terparkir rapi di dekat pos keamanan. Fajrin menghabiskan waktu di kediaman Davis dengan menjadi Imam sholat Magrib dan Insya' bagi Davis, Divya juga Nenek Ina dan beberapa pelayan yang berkeyakinan sama dengan Fajrin. Selepas Isya' Fajrin makan malam bersama Davis juga Nenek Ina suasana makan malam yang awalnya membuat Fajrin canggung karena baru di rumah ini Fajrin makan dengan suasana formal. Dulu sewaktu masih ada Nara suasana makan malam lebih santai karena mereka terkadang makan malam di meja makan terkadang di ruang tengah sambil melihat televisi. pelan-pelan Fajrin terbiasa dengan kebiasaan makan malam di kediaman Davis.


Selesai makan malam, Divya selalu mengajaknya duduk di taman belakang hingga waktunya Fajrin pulang. Tapi malam ini Davis meminta Fajrin masuk ke ruang kerjanya dan menyuruh Divya untuk tidak ikut campur urusan pria, tentu saja Divya cemberut dan menunggu di ruang tengah dengan posisi duduk tepat menghadap pintu ruang kerja Davis.


Davis menyodorkan selembar kertas pada Fajrin, Fajrin membacanya sesaat dan terulas senyum bahagia.


“ apa kamu setuju dengan rencana kami ini? Ya.... memang terkesan sedikit panjang tapi kamu tahu sendiri keluarga papi lebih banyak tinggal di Canada.... mereka tidak mau kalau hanya sekali datang kemari hanya untuk satu acara saja..... mereka ingin beberapa kali datang kemari.....belum lagi keluarga Selo yang di Jogja..... “ mendengar penjelasan Davis membuat Fajrin merasa terharu.


“ Fajrin.... ikut apa pun rencana dan keputusan papi dengan Om Selo juga tante Freya.... “ ucap Fajrin singkat.


“ baguslah kalau begitu.... aku akan minta Jason mengatur akomodasi keluarga Lohia selama di sini. “ ucap Davis sambil memanggil Jason dari telepon di atas meja kerjanya.


Saat Jason masuk, Divya berusaha mengintip kedalam ruangan Davis membuat Fajrin tersenyum gemas melihat apa yang Divya lakukan.


“ papi..... boleh tidak kalau untuk acara yang kedua dan ketiga.... Fajrin minta Divya merancang gaun yang Divya pakai.... mungkin ini bisa membuat Divya mulai belajar menggerakkan tangan kirinya. “ ucapan Fajrin membuat Davis terkejut.


“ dari mana kamu tahu kalau Divya bisa merancang gaun? “ tanya Davis heran.


Fajrin tersenyum mendengar pertanyaan Davis.


“ sewaktu Fajrin mengajak Divya datang ke reuni sekolah..... Fajrin perhatikan tunik.... hijab dan mungkin bawahan yang Divya kenakan tidak ada label brand tertentu.... Fajrin sudah cukup mengenal Divya.... “ penjelasan Fajrin cukup membuat Davis tersenyum senang karena Fajrin ternyata sangat perhatian.


Davis menarik nafas panjang.


“ Divya memang dulu suka sekali membuat coretan-coretan gambar pakaian wanita atau pun laki-laki.... tapi entah kenapa dia berhenti melakukan itu.... kalau kamu bisa membujuknya untuk merancang pakaian kalian..... papi akan senang sekali. setidak-tidaknya Divya pelan-pelan belajar menekuni kembali apa yang dulu sudah dia lakukan. “ ucap Davis sambil menepuk bahu kiri Fajrin.


Seketika Fajrin berpikir bagaimana merayu Divya agar Divya bersedia merancang sendiri pakaian yang akan dia kenakan saat acara mereka. Fajrin mengajak Divya duduk di taman belakang, Fajrin yang tidak pernah dan tidak bisa merayu seorang wanita kali ini harus mencoba merayu Divya untuk merancang gaun yang akan Divya pakai di acara istimewa mereka nanti. Divya yang masih belum percaya diri akan designnya berulang kali menolak permintaan Fajrin.


“ buat design pakaian syar'i untuk Nara saja.... kalau Divya masih tidak yakin.... terserah Divya modelnya seperti apa..... asalkan berwarna hitam atau hijau gelap. “ ucap Fajrin yang tegas dan terkesan menyerah dengan penolakan Divya yang tidak percaya diri akan designnya.