My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
EXTRA PART 3 MEET UNCLE



Sesuai janji Fajrin, hari ini mereka berbelanja pakaian hangat untuk keempat anak kembar mereka dan keperluan lainnya.


“ papi..... kalau papi kesepian.... papi tinggal bersama kami saja.... percayakan perusahaan pada bang Ditya..... Divya yakin bang Ditya sudah berubah.... “ ucap Divya mencoba meyakinkan Davis.


Sementara Fajrin dan Liam juga dua orang pengawal Davis menemani keempat balita kembar memilih beberapa pakaian hangat.


“ memang Ditya sudah tidak seperti dulu.... dia sudah berubah bahkan perubahannya sangat drastis.... dia sudah tidak mau menyentuh alkohol sama sekali.... bahkan penampilan tidak seperti dulu..... lebih tepatnya abang kamu sekarang seperti Fajrin saat pertama kali papi mengenalnya. “ ucapan Davis membuat Divya terkejut juga tidak percaya.


“ serius... bang Ditya berubah sedrastis itu.... “ tanya Divya yang masih tidak percaya.


“ dua hari lalu papi mengirim pesan padanya.... papi bilang kalau kalian akan kemari dan Ditya baru membalasnya tadi pagi..... kita akan bertemu Ditya disini..... “ ucap Davis sambil meminum teh hangat di meja.


Tanpa Fajrin dan Divya juga yang lainnya sadari, seorang pria berusia awal tiga puluhan memperhatikan keempat balita kembar yang terlihat sibuk juga bingung hendak memilih pakaian hangat. Pria tersebut mendekati Levi dan Eyza yang bingung memilih pakaian hangat.


“ Assalamu'allaikum “ salam Ditya yang sudah berjongkok tepat di belakang Levi.


“ Wa'alaikumsalam “ balas Levi dan Eyza bersamaan tapi dengan pengucapan salam yang belum sempurna.


“ kalian pasti anaknya Divya dan Fajrin..... “ Levi dan Eyza saling berpandangan untuk sesaat dan sesaat kemudian berlari mendekati Fajrin yang sedang menemani Flo memilih baju hangat berwarna kuning.


Ditya tersenyum melihat reaksi Levi dan Eyza, melihat Fajrin yang berjalan mendekati dirinya membuat Ditya mengulurkan tangan kanannya.


“ sayang.... kemari.... kenalkan ini uncle kalian.... kalian bisa memanggil uncel Ditya “ ucap Fajrin yang sudah berlutut menyamakan tingginya dengan tinggi keempat balita kembarnya.


Levi, Eyza dan Flo terlihat malu-malu bersalaman dengan Ditya tapi berbeda dengan Resta yang berani menjabat tangan Ditya dan mencium punggung tangan Ditya.


“ Assalamu'allaikum uncle Ditya.... “ salam Resta yang masih belum lengkap pengucapan salamnya dan sedikit kaku menyebut nama Ditya.


“ Wa'alaikumsalam ganteng..... nama kamu siapa “ balas Ditya sambil membelai rambut kecoklatan Resta.


“ namaku Resta.... ini Levi.... ini Eyza dan ini Flo..... ucap Resta yang masih cadel menyebut namanya dan nama saudara saudaranya.


Resta anak yang paling berani di antara mereka berempat. Ditya tersenyum dan melambaikan tangan pada ketiga balita yang masih sedikti takut mengenal orang asing.


“ ini Resta..... ini Levi.... ini Eyza dan ini Flo..... “ ucap Fajrin membetulkan pengucapan Resta.


“ wa..... Divya hanya kebagian warna rambut dan warna mata.... selebihnya wajahmu..... “ ucap Ditya sambil tersenyum.


“ ayo.... salam sama uncle Ditya.... “ pinta Fajrin sambil mengarahkan ketiga balitanya untuk berjabat tangan dengan Ditya.


Ditya mencoba untuk dekat dengan keempat balita ini, beberapa kali terlihat Ditya mulai bisa menyentuh pipi atau pun rambut mereka tapi tidak dengan Flo. Flo tetap berdiri di belakang punggung Fajrin, Flo sesekali mengintip Ditya.


Entah mereka sadar atau tidak saat ini Davis dan Divya sedang memperhatikan interaksi antara Ditya dan Fajrin juga dengan keempat balita kembarnya.


“ papi..... itu bang Ditya? “ tanya Divya heran.


“ iya..... itu abang kamu..... “ jawab Davis singkat.


Divya melangkah mendekati kedua pria dewasa itu.


“ Masya ALLAH...... bang Ditya sudah berubah...... bang Ditya sudah tidak seperti dulu..... bang Ditya dulu tidak terlalu peduli dengan anak kecil tapi sekarang....... bahkan penampilan abang jauh berbeda dengan yang dulu “ ucap Divya yang masih tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.


“ Assalamu'allaikum..... adik cantik “ salam Ditya sambil merentangkan kedua tangannya agar Divya memeluknya.


“ Wa'alaikumsalam..... abang.... “ balas Divya dan memberikan Ditya sebuah pelukkan hangat.


Keempat balita melihat Divya dan Ditya dengan heran.


“ papa..... mama peluk orang lain “ ucap Flo dengan kedua mata seperti mau menangis.


Fajrin tersenyum melihat aura kecemburuan Flo juga ketiga saudaranya.


“ sayang..... uncle Ditya ini.... kakak mama.... sama seperti Resta dengan Flo atau..... Levi dengan Flo.... “ ucap Fajrin berusaha menjelaskan apa hubungan Ditya dengan Divya.


“ seperti Eyza sama Flo..... “ ucap Ezya dengan cadel.


Fajrin tersenyum karena Eyza sudah mengerti.


“ sayang.... sama mama dulu ya..... papa bayar ini dulu...... “ ucap Fajrin sambil mengarahkan keempat balita kembar untuk mendekati Divya.


Divya menggandeng Flo dan Levi sedangkan Resta dan Eyza memegang bagian bawah pakaian Divya. Ditya tersenyum geli melihat Divya yang sedikit kesulitan berjalan karena dua anak kembarmya berpegangan erat di pakaiannya.


Mereka duduk di sebuah restauran yang tidak jauh dari tempat Fajrin membelikan pakaian hangat anak-anak kembar mereka. Mereka berbincang-bincang banyak hal, mulai dari bagaimana Divya dan Fajrin memutuskan melakukan program bayi tabung hingga bagaimana mereka berdua mengasuk kembar tanpa bantuan pengasuh bayi. Fajrin dan Divya menceritakan semua itu bergantian, membuat Ditya juga Davis terkadang terlihat tersenyum juga heran membayangkan Divya juga Fajrin yang setiap hari akan terlihat sangat lelah.


“ jadi ASI kamu..... kamu campur dengan susu formula..... memang bisa? “ tanya Ditya heran juga tidak paham.


“ bisa bang...... waktu keluar dari rumah sakit.... ASI Divya belum banyak yang keluar.... paling banyak 5 milimeter itu sudah kanan kiri.... mana cukup buat mereka berempat...... dan itu atas saran dokter juga.... makanya mereka tidak pernah Divya susui secara langsung.... kalau secara langsung.... bisa habis ASIku hanya untuk Eyza sama Levi..... “ ucap Divya sambil membersihkan sisa makan di sekitar bibir Flo.


Ditya dan Davis tertawa mendengar cerita Divya.


“ anak cantik..... uncle boleh pegang tangan cantik tidak? “ ucap Ditya yang lebih gemas melihat Flo.


Karena Flo mengenakan hijab seperti Divya.


Flo menatap Fajrin dan Divya bergantian, sepeti meminta izin kepada mereka.


“ boleh..... uncle Ditya sama seperti uncle Dipta..... “ ucap Fajrin mencoba menjelaskan posisi Ditya bagi Flo.


Flo dengan malu-malu mengulurkan tangan kanannya pada Ditya.


Ditya tersenyum dan membelai punggung tangan Flo.


“ bang..... abang gantikan posisi papi..... biar papi tinggal bersama kami di Jakarta..... biar papi tidak kesepian disini..... “ ucapan Divya membuat Ditya menghentikan belaian tangannya.


Ditya menarik nafas panjang dan menegakkan punggungnya.


“ buat apa aku menggantikan posisi papi..... kalau papi mau tinggal bersama kalian.... silahkan saja. “ ucap Ditya dengan santai seperti tidak ada beban.


“ lantas perusahaan Prakash Lohia siapa yang akan memimpin.... tante Martha? Bisa-bisa perusahaan itu habis tak tersisa..... kasihan para pekerja Prakash Lohia.... mereka ada keluarga yang harus mereka nafkahi..... “ ucap Divya memohon.


Ditya menatap Divya, seperti tidak percaya dengan ucapan Divya yang melihat masalah perusahan dari sisi para pekerja bukan dari sisi pemilik perusahaan. Meski pun Ditya terlihat jelas tidak suka atau lebih tepatnya membenci perusahan keluarganya tapi melihat Davis yang terlihat lelah, membuat Ditya merasa kasihan.