
JAKARTA
Helen yang sejak lepas shubuh sudah sibuk dengan kedua anaknya yang masih balita, tiba-tiba di kejutkan oleh suara tawa Azkar hingga membuat bayi di dalam pelukan Helen menangis kencang karena terkejut.
“ yang.... ada apa? pagi-pagi sudah tertawa keras “ gerutu Helen sambil menenangkan bayi mereka.
Azkar memperlihatkan sebuah berita utama di sebuah media elektronik yang menampilkan sosok Fajrin juga Divya yang berada di sebuah acara. Helen melihat berita itu dan tersenyum senang karena pada akhirnya Fajrin mau membuka diri lagi meskipun dengan sedikit paksaan.
“ aku tidak sabar mendengar langsung dari mulutnya “ ucap Azkar sambil menunjukan sebuah tulisan dan membuat Helen membulatkan kedua matanya.
“ tidak mungkin dia berani berbuat lebih jauh “ ucap Helen.
“ nanti siang kita coba hubungi dia.... bagaimana klarifikasinya “ ucap Azkar sambil tersenyum memikirkan sebuah ide untuk berbuat jahil pada Fajrin.
Satu jam selepas Dhuhur waktu Jakarta, Azkar segera menghubungi Fajrin dengan Helen duduk di sebelah kanannya sambil menyusui Azkar junior dua.
“ ..... “ Azkar berusaha menahan tawanya mendengar suara Fajrin.
“ Wa'alaikumsalam, posisi kamu dimana? “ tanya Azkar dengan nada suara pura-pura serius.
“ ..... “ Azkar dan Helen membulatkan kedua matanya tidak percaya dengan ucapan Fajrin.
“ Fajrin apa kamu menginap di apartemen Divya? “ tanya Helen yang terdengar panik.
“ ....... “ Helen bernafas lega mendengar jawaban Fajrin tapi Azkar semakin menahan tawanya.
“ aku kira kamu menginap di tempat Divya “ ucap Helen lega.
“ ...... “ Helen tersenyum malu mengingat tingkah Azkar yang ternyata di luar penilaian Helen.
Sementara Azkar membulatkan kedua matanya tidak percaya bahwa Helen menceritakan peristiwa memalukan itu pada Fajrin.
“ Fajrin.... “ teriak Azkar membuat Fajrin mengulas senyum tipis membayangkan wajah merah Azkar.
“ ...... ” Azkar masih geram mengingat Fajrin mengungkit peristiwa malam sebelum Helen halal baginya.
“apa kamu sudah membaca berita pagi ini? “ tanya Azkar dengan serius.
“ sayang.... pasti dia belum membaca berita apa pun.... dari pagi pasti di otaknya penuh dengan Divya “ ucapan Helen membuat Azkar mencium pipi gembul Helen.
“ .... “ Azkar menepuk dahinya heran dengan Fajrin yang bersikap tidak peduli terhadap berita apa pun selain tentang desain gedung.
“ aku email berita kalian, kamu baca sendiri. Assalamu'allaikum “ ucap Azkar sambil menahan lengan Helen saat hendak berdiri.
“ ..... “ Azkar memutus sambungan dan menggelengkan kepalanya dengan heran.
“ sahabat kamu yang satu ini sungguh sulit di percaya, bisa-bisanya dia tidak melihat berita gaduh di dunia maya yang dia buat sendiri “ ucap Azkar sambil mengirim sebuah email.
“ jadi menurut sayang..... sahabatku orang yang aneh? Begitu.... “ ucap Helen cemberut.
Azkar mengejar Helen merayunya agar tidak merajuk.
NEW DELHI
Fajrin masih memperhatikan Divya yang menghabiskan sup buatannya sambil berbicara dengan Elena. tiba-tiba ponselnya berdering, Afkar segera mengeluarkan ponselnya dan jari jemarinya mulai bergerak menggeser-geser tampilan layar ponsel mencari email dari Azkar, setelah menemukan email yang dia cari segera Fajrin menekan alamat berita yang Azkar maksud. Seketika kedua kelopak mata dan mulut Fajrin membuka lebar tidak percaya membaca berita tersebut, ibu jari tangan kanannya masih menekan dan bergerak mencari berita terkait dari berita yang Azkar kirim. Fajrin memijat tengkuknya yang tidak terasa penat dan menarik nafas panjang.
“ berita dengan spekulasi yang menyeramkan, ini sudah menjadi salah satu bentuk fitnah “ gumam Fajrin yang tanpa sadar Divya sudah berdiri di samping kirinya.
“ berita apa kak? “ suara Divya membuat Fajrin terkejut dan hampir saja mendorong Divya dengan lengan kirinya yang hampir saja menyentuh aset Divya.
“ sejak kakak serius dengan ponsel “ jawab Divya asal dan berusaha melihat layar ponsel Fajrin yang sudah Fajrin tutup sedikit dengan tangan.
“ tidak ada apa-apa hanya masalah pekerjaan saja “ ucap Fajrin menyembunyikan apa yang sudah dia baca.
Divya membuka makanan yang Patrick bawa dan meletakkan di depan Fajrin.
“ kakak habiskan makanan ini ya..... sebagai ganti sup yang sudah kakak buat “ ucap Divya dengan suara yang terdengar sedikit manja.
Membuat Elena juga Patrick sedikit jengah mendengar suara Divya yang manja. Saat Fajrin menikmati makan siang buatan Patrick yang sebenarnya untuk Divya, ponsel Elena berdering. Elena segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana dan melihatnya sebentar lalu berjalan menjauhi Divya juga Fajrin.
“ hello, what's up calling me (halo, ada apa menelponku)? “ tanya Elena sedikit jengkel pada Arbab yang beberapa hari mengabaikan panggilannya.
“ ..... "
“ hahahahaha..... who wrote that? Don't tell me that cheap news was written by the same journalist who spread the news that Divya had slept with a new model (hahahahaha..... siapa yang menulis itu? Jangan bilang kalau berita murahan itu di tulis oleh wartawan yang sama yang sudah menyebarkan berita bahwa Divya sudah tidur dengan model baru) “ ucap Elena dengan santai.
“ ..... "
“ keep my word.... Mr. Fajrin is not that kind of person... he will never dare to touch Divya even if Divya wants it (pegang kalimatku.... pak Fajrin bukan orang seperti itu... sampai kapan pun dia tidak akan berani menyentuh Divya meski pun Divya menginginkannya). “ ucapan tegas Elena membuat Arbab tersenyum senang.
“ ....."
“ he just came this morning, they continued their date yesterday (dia baru datang pagi ini, mereka melanjutkan kencan mereka yang kemarin) “ ucap Elena santai.
“...."
“ well I'll try them to do a little clarification (baiklah aku usaha mereka mau melakukan sedikit klarifikasi) “ ucap Elena yang masih melihat Divya tersenyum bahagia.
“..... "
Elena sesekali melihat Divya yang menuangkan air mineral ke dalam gelas air minum Fajrin dengan senyum bahagia. Elena menarik nafas panjang melihat senyum bahagia Divya.
“ I'll try (aku usahakan) “ ucap Elena dan memutus panggilan Arbab.
KUALALUMPUR
Arbab yang dari pagi sudah geram dengan berita yang Ben katakan, membuatnya tidak sabar untuk menghubungi Elena.
"....."
" someone wrote news that Fajrin spent the night in the same apartment as Divya (ada yang menulis berita bahwa Fajrin bermalam di apartemen yang sama dengan Divya) “ ucap Arbab sambil memijat tengkuknya yang penat.
"....."
“ right the same journalist (benar wartawan yang sama) “ ucap Arbab yang mulai santai mendengar respon Elena yang biasa saja.
"....."
“ I keep your words.... but I seem to hear Mr. Fajrin's voice (aku pegang ucapanmu.... tapi aku seperti mendengar suara pak Fajrin)? “ tanya Arbab yang mulai curiga kembali.
"....."
“ but they still have to hold a press conference regarding this news....in office more and more reporters are looking for the truth about this news (tapi mereka tetap harus melakukan konferensi press terkait berita ini.... di kantor semakin banyak wartawan yang mencari tahu kebenaran berita ini). “ ucap Arbab sedikit memaksa.
"....."
“ if Mr. Fajrin doesn't want to.... try Divya to do the press conference by herself (kalau Pak Fajrin tidak mau.... usahakan Divya mau melakukan konferensi press sendiri). “ ucap Arbab memaksa Elena dan membuata Elena malas.