
Fajrin sudah berdiri selama 10 menit di depan pintu pagar kediaman Davis, Fajrin memikirkan cara bagaimana menjelaskan pada Divya bahwa dirinya akan melakukan perjalanan bisnis untuk beberapa hari ke Jepang. Saat Fajrin sibuk memikirkan kata-kata yang tepat seorang pengawal melihatnya dan segera membuka pintu pagar rumah kediaman Davis.
“ please come in sir..... sorry we didn't hear you coming (silahkan masuk tuan..... maaf kami tidak mendengar kedatang anda) “ ucap pengawal itu sambil membuka pintu pagar kediaman Davis.
Fajrin tersenyum tipis melihat seorang pengawal Davis membukakan pagar untuk dirinya. Fajrin segera masuk dan seperti biasa motor dia parkir di samping pos keamanan kediaman Davis.
Divya yang ternyata sudah menunggu Fajrin segera melangkah dengan cepat saat melihat Fajrin sudah berdiri di depan pintu.
“ kenapa lama? “ tanya Divya sambil mencari tahu kenapa Fajrin terlambat.
“ kita sholat dulu ya.... nanti ayang ceritakan “ ucap Fajrin sambil melepas sepatu dan kaos kakinya.
Selepas sholat dan makan malam, Fajrin mengajak Divya duduk di sebuah kursi yang berada di taman belakang. Fajrin sedikit ragu untuk mengatakan bahwa dalam beberapa hari kedepan akan melakukan perjalanan bisnis ke Jepang selama kurang lebih 2 minggu.
“ ayang.... ada apa? “ tanya Divya mulai kuatir dan mulai berpikir yang tidak-tidak.
“ 3 hari lagi.... ayang harus ke Hongkong dan ke Jepang.... ada hal yang harus ayang selesai sebelum project Hokkaido dimulai “ Divya terkejut juga tidak percaya.
“ project?..... Hokkaido?...... jadi maksud ayang 3 hari lagi ayang akan Jepang mengerjakan project dan akan tinggal di Hokkaido selama berbulan-bulan disana...... begitu? “ ucap Divya dengan mata berkaca-kaca.
Fajrin menarik nafas panjang memijat pelipisnya.
“ bukan begitu.... hanya beberapa hari saja ayang pergi ke Jepang..... tidak berbulan-bulan.... “ ucap Fajrin berusaha menghentikan air mata Divya yang mulai memenuhi kedua matanya.
Fajrin pelan-pelan menjelaskan perjalanan bisnis seperti apa yang akan dia lakukan, akan bertemu dengan siapa saja, akan berangkat dari Jakarta dengan siapa juga berapa lama perjalanan bisnis yang akan dia lakukan.
“ ikut..... “ satu kata meluncur dari mulut Divya membuat kepala Fajrin pening.
“ sudah ayang duga.... pasti Divya mau ikut. Dan ayang tidak mungkin membawa Divya ikut di perjalanan bisnis ini. “ ucap Fajrin sambil tersenyum tipis.
Divya merajuk mendengar ucapan Fajrin.
“ kenapa? “ ucap Divya tertunduk.
“ Divya..... perjalanan bisnis ini lebih dari satu hari bahkan lebih dari 3 hari..... tidak mungkin ayang bawa Divya..... itu tidak boleh..... kita belum halal.... “ ucap Fajrin mencoba membuat Divya mengerti keadaan mereka.
Divya melipat kedua tangannya di dada merajuk karena Fajrin tidak mau mengajaknya.
“ kalau begitu.....Divya bilang bang Azkar saja..... biar ayang mau mengajak Divya “ ucap Divya sambil mengeluarkan ponsel menekan nomor Azkar.
Fajrin tersenyum gemas melihat tingkah Divya yang semakin hari semakin menggemaskan.
Divya berjalan sedikit menjauh dari tempat mereka duduk, terlihat Divya yang sibuk berusaha meyakinkan Azkar agar dirinya bisa ikut di perjalanan bisnis Fajrin. Tapi setelah beberapa menit Divya menghubungi Azkar, Divya terlihat semakin jengkel.
“ ayang janji.... akan menyelesaikan dengan cepat.... “ Fajrin sudah kehabisan kata-kata menjelaskan perjalanan bisnis yang akan dia lakukan.
Tapi pada akhirnya Divya mengizinkan juga meski pun Fajrin harus menerima persyaratan dari Divya.
“ iya.... Divya pakai saja.... tapi ingat jangan menginap sediri di rumah ayang.... malam hari sangat sepi di rumah ayang “ ucap Fajrin sambil menggandeng tangan Divya.
Seperti biasa Fajrin pulang dari rumah Divya pukul 10 malam, sampai di rumah Fajrin mempersiapkan apa saja yang akan dia bawa unutk perjalanan bisnis ini. Karena masih banyak yang belum dia ketahui tentang kondisi lokasi project di Jepang.
Selama 2 hari sambil menunggu jadwal keberangkatan dari Roby, setiap siang Divya selalu menemui Fajrin. Melihat kesibukan Fajrin yang semakin hari semakin sibuk, tapi Divya tidak mempermasalahkan kesibukan Fajrin selama Fajrin tidak sibuk dengan wanita lain.
Hingga hari yang membuat Divya mulai sedih karena mulai sore ini Divya hanya bisa mendengar suara Fajrin hingga beberapa hari ke depan.
“ ayang.... janji ya.... setiap pagi dan malam telepon Divya “ ucap Divya dengan mata berkaca-kaca.
“ iya..... ayang janji..... Divya pulang ya.... ayang mau masuk.... rekan-rekan ayang sudah menunggu disana “ ucap Fajrin sambil membelai kepala Divya dengan tangan kanan yang sudah tertutup sarung tangan.
Divya melihat ketiga rekan Fajrin yang terlihat sedang menjaga barang-barang bawaan mereka.
“ peluk “ suara manja Divya membuat Fajrin terlihat jelas sangat gugup dan kikuk.
Fajrin menarik nafas panjang.
“ sebentar saja “ suara manja Divya membuat Fajrin semakin gugup.
Akhirnya Fajrin meraih bahu Divya dan memeluknya untuk beberapa detik, Divya melingkarkan kedua lengannya dengan erat di tubuh Fajrin. Dan Fajrin memberanikan diri untuk mencium kepala Divya, pelukkan mereka terlepas saat seorang kru pesawat Sundth Air mendekati mereka.
“ tuan.... 45 menit jadwal kita berangkat “ ucapan Kru Sundth Air membuat Fajrin melepas pelukkannya.
“ ayang pergi dulu.... Assalamualaikum “ salam Fajrin sambil membelai kepala Divya.
Divya melihat kepergian Fajrin dengan mata berkaca-kaca.
“ wa'alaikumsalam..... disana jangan lihat wanita lain “ suara keras Divya membuat Fajrin tersenyum tipis.
“ mana sempat lihat wanita lain.... pekerjaan banyak juga “ gumam Fajrin dalam hati.
Fajrin dan 3 rekannya sudah duduk manis di dalam private jet Sundth Air, pesawat inilah yang akan mengantar Fajrin selama perjalanan bisnis ini. Dan tujuan pertama Fajrin adalah Hongkong, karena CEO dan presiden direktur Rosewood ingin Fajrin menjelaskan semua detail desainnya untuk project di Hokkaido juga untuk membahas konsep project di pulau Miyakojima. Perjalanan kali ini tidak bisa membuat mereka santai karena mereka harus sekali lagi menyiapkan kalimat untuk meyakinkan Sonia mau pun Radha terkait konsep resort di pulau Miyakojima.
“ kalau Bu Sonia dan Tuan Radha setuju menggunakan konsep ini.... sepulang dari perjalanan ini kamu bisa langsung melanjutkan apa yang sudah kita buat..... tapi kalau tidak..... aku akan coba ajukan 3 pilihan konsep ini.... memang akan semakin banyak apa yang kita rubah tapi mereka client kita.... “ penjelasan Fajrin membuat Irvan menganggukan kepala setuju dengan keputusan Fajrin.
Penerbangan selama 4 Jam terasa sebentar karena Fajrin dan 3 rekannya masih membahas apa saja yang akan mereka sampaikan pada para petinggi Rosewood. Dan tugas Muslim kali ini adalah menjadi penerjemah bahasa Jepang saat mereka bertemu dengan tim jepang nanti, karena Muslim satu-satunya di tim Fajrin yang mendapatkan ijazah double degree dari Universitas Tokyo dan pernah tinggal di Tokyo selama 2 tahun terakhir sebelum lulus. Inilah yang menjadi alasan Fajrin membawa Muslim meski pun Muslim bukan seorang arsitek.