
pagi-pagi Divya dan Elena meluncur ke Jaipur dengan di temani oleh dua pengawal mereka Bibhu dan Liam. Sampai di depan pintu unit apartemen yang Fajrin tempati, Divya sudah tidak sabar ingin segera masuk tapi berkali-kali Elena menekan pintu bel apartemen tak satu pun ada yang membuka pintu itu.
“ kemana mereka? Apa mereka sudah pindah apartemen? ” ucap Elena bingung.
“ tidak mungkin.... kata bang Dipta project yang kak Fajrin kerjakan butuh waktu lima belas bulan.... ” ucap Divya yang mulai panik takut bila Fajrin tidak memenuhi janjinya.
“ apa kamu bisa menghubunginya? ” tanya Elena membuat Divya segera mengeluarkan ponsel dari dalam sling bag-nya.
Divya menekan nomor Fajrin, untuk beberapa menit tidak ada jawaban dari Fajrin membuat Divya semakin kesal dan cemberut merasa di permainkan oleh Fajrin.
“ tidak di angkat " ucap Divya cemberut.
“ kirim pesan saja siapa tahu dia lagi sibuk " ucapan Elena membuat Divya segera mengirim pesan pada Fajrin.
Belum selesai Divya mengetik pesan, seorang pria yang menempati unit tepat di depan unit Fajrin melihatnya dengan heran.
“ apa kalian kemari ingin menemui pak Fajrin? ” tanya cahyo dengan heran.
Seketika Divya dan Elena menatapnya dengan heran.
“ apa anda salah satu orang yang kemarin berada di dalam sini " tanya Elena sambil menunjuk pintu unit Fajrin.
“ aku antar kalian menemui beliau ” ucap Cahyo sambil mengunci pintu unitnya.
Cahyo sengaja kembali ke apartment karena ada sedikit masalah dengan gambar yang dia bawa, Divya dan Elena mengikuti langkah kaki Cahyo masuk ke dalam lift.
“ kalian bawa mobil? ” tanya Cahyo ingin tahu.
“ iya kami bawa mobil, ada di depan lobi. ” Ucap Elena santai.
“ kalian ikuti mobil kami " ucap Cahyo yang sudah melangkah menuju mobil project yang akan membawanya kembali ke lokasi project.
Kedua mobil itu beriringan menunju lokasi project yang membuat Divya terkejut dan tidak percaya karena lokasi project yang Fajrin kerjakan ternyata berada di luar kota Jaipur dan lebih terkesan seperti jauh dari keramaian kota. Sampai di lokasi project, cahyo segera berjalan cepat mencari keberadaan Fajrin. Sementara Divya mau pun Elena melihat sekeliling project dengan tatapan tidak percaya bahwa Fajrin bertanggung jawab atas project seluas ini.
Cahyo berjalan mendekati Divya dan Elena, mengajaknya berjalan menuju ke sebuah bangunan semi permanen yang tak jauh dari tempat mereka memarkir mobil project. Divya duduk di sebuah kursi kayu menatap sebuah bangunan yang masih dalam proses pengerjaan, seketika kedua mata Divya berbinar-binar melihat sosok Fajrin yang berjalan dengan gagah mengenakan celana jeans sepatu boots jaket keselamatan juga helm keselamatan kerja.
Sungguh hal baru bagi Divya maupun Elena, selama ini Divya mau pun Elena melihat sosok Fajrin yang terlihat bersih dan rapi tapi tidak kali ini sepatu boots celana juga jaket yang dia pakai penuh dengan debu menambah kesan tampan dan gagah di mata Divya.
“ sudah lama menunggu? ” tanya Fajrin sedikit basa basi dan menarik sebuah kursi kayu tepat duduk di depan Elena.
“ pak, apa perlu saya siapkan sekadar minuman atau makanan kecil? ” tanya Cahyo dengan sedikit menggoda Fajrin.
“ kalian mau minuman apa? Kami hanya punya air mineral " ucap Fajrin sambil melepas helm dan jaket keselamatan kerja yang dia pakai.
“ aku ingin minum kak Fajrin " ucap Divya tanpa sadar karena terpesona melihat sosok Fajrin yang menurutnya sangat tampan.
Seketika Elena mencubit lengan Divya untuk menyandarkan Divya dari ucapannya, sementara Fajrin mulai merasa pening mendengar ucapan Divya tapi tidak bagi Cahyo. Cahyo terlihat jelas sangat berusaha keras menahan tawanya, Fajrin melihat itu dan memandang Cahyo dengan tatapan dingin.
Elena menyerahkan berkas kontrak pada Fajrin, Fajrin membacanya dengan teliti karena tidak ingin sampai ada kata-kata atau kalimat yang di luar dari kesepakatan yang telah dia sebutkan kemarin.
“ Divya..... lain kali di jaga itu mulut.... jangan mengucapkan kalimat yang tidak sopan “ ucap Fajrin yang masih membaca isi kontrak tersebut.
Suara barito Fajrin membuat Divya senyum-senyum malu-malu seperti kucing, Fajrin mengeluarkan pena dari saku kecil di samping lengan kirinya dan menanda tangani kontrak tersebut. Divya melihat tangan Fajrin dengan jelas karena berarti setelah ini Divya bisa mengirim pesan sesuka dia dan kapan saja dia ingin. Fajrin menyerahkan berkas kontrak tersebut pada Elena.
“ ini satu berkas untuk anda pegang " ucap Elena sambil menyerahkan satu berkas pada Fajrin.
Fajrin menerima dan melihatnya sesaat sedetik kemudian menyodorkan berkas tersebut dengan tangan pada Divya tanpa melihat Divya, Divya menatapnya heran.
“ kamu bawa saja..... di apartemen sudah terlalu banyak kertas " ucap Fajrin sambil membersihkan sedikit debu di celana jeans yang dia pakai dengan tangan kirinya.
“ a..... iya... Divya bawa " ucap Divya gugup sambil menerima berkas dari Fajrin.
“ ada lagi yang ingin kalian bicarakan? ” tanya Fajrin sambil mengalihkan pandangannya pada gedung yang dia buat.
“ kak Fajrin.... bisakah kita bertukar nomor ponsel? “ tanya Divya malu-malu.
“ bukankah kamu sudah memiliki nomor ponselku? ” tanya Fajrin dan menatap Divya yang terduduk malu.
Saat Divya dengan cepat menengadahkan wajahnya seketika itu juga Fajrin mengalihkan pandangannya.
“ kak Fajrin sudah punya nomor ponsel Divya? “ tanya Divya sambil menatap rahang kanan Fajrin.
“ bukankah kamu yang mengirim pesan ini berkali-kali? ” tanya Fajrin sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan memperlihatkan pesan yang Divya kirim.
Divya meringis mendengar ucapan Fajrin dan membuat Elena menepuk dahinya heran melihat tingkah Divya yang dapat dengan mudah Fajrin atasi. Divya melihat semua pesan yang dia kirim di ponsel Fajrin dan Fajrin sudah menamai kontak itu dengan tulisan ‘adik Dipta'
“ ada lagi yang ingin kalian bicarakan? ” tanya Fajrin sekali lagi sambil berdiri dari kursi dan hendak memakai helm juga jaket keselamatan kerja.
“ tidak ada " ucap Elena
“ kak, bisakah mulai hari ini kak Fajrin membalas pesan Divya? ” ucap Divya sambil berdiri.
“ aku akan membalas pesan kalau kamu selalu menuliskan salam disetiap awal pesan yang kamu kirim ” ucap Fajrin sambil mengeluarkan handy talkie dari saku celana bagian belakang.
“ maaf... tapi kak Fajrin janji ya.... mulai hari ini akan selalu balas pesan Divya.... Divya janji akan belajar menyelipkan salam saat mengirim pesan " ucap Divya membuat Elena menggelengkan kepala melihat tingkah Divya.
“ hmmmm... Assalamu'allaikum ” salam Fajrin dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Belum sepuluh langkah Fajrin meninggalkan mereka berdua, Divya berteriak kegirangan membuat Elena menutup kedua telinganya sedangkan Fajrin melangkah dengan menggelengkan kepalanya heran melihat tingkah Divya yang ternyata hampir sama seperti Nara.
“ ini lebih berat dari adik " gumam Fajrin yang sudah masuk ke area project.