
Tepat pukul sembilan belas lebih tiga puluh menit ponsel Divya berdering, padahal posisi Divya masih di lobi menunggu lift yang akan membawanya ke lantai atas. Divya segera mengirim pesan pada Fajrin agar menghubunginya setengah jam lagi, dan seperti biasa Fajrin hanya membalas dengan dua huruf ‘ o ’ dan ‘ k '. Pintu lift terbuka Divya segera masuk dan menekan tombol membuat yang lain dengan buru-buru masuk bersama Divya, sampai di lantai tempat unitnya berada Divya segera berlari masuk ke unitnya dan langsung menuju kamar mandi untuk segera membersihkan make up dan berwudhu.
Tepat setelah Divya selesai memakai mukena, Fajrin menghubunginya dan Divya melaksanakan sholat magrib dengan bimbingan Fajrin. Mendengar suara Fajrin cukup membuat Divya merasa tenang dan hilang sudah rasa mualnya. Selesai sholat Divya merebahkan tubuhnya yang terasa penat, Elena masuk ke dalam unit Divya dengan membawa makan malam meraka. Mereka bertujuh makan malam di unit Divya, seperti biasa wajah Divya kembali ceria dan mereka semua dapat memahami pasti Divya habis mendengarkan suara Fajrin.
Tanpa memberitahu Divya, Fajrin dan yang lain pergi ke New Delhi memenuhi undangan pimpinan Surendra India. Dan tadi saat Fajrin menghubungi Divya untuk mengingatkan waktu sholat, posisi Fajrin sudah sampai di daerah Bhilaspur Kalan distrik Haryana. Malam ini Fajrin dan tim jakarta akan bermalam di hotel Novotel New Delhi Aerocity, karena besok tepat pukul sepuluh waktu setempat akan ada acara di hotel tersebut. Kali ini Fajrin dan yang lain menginap di hotel dengan biaya sendiri, meskipun berat tapi mereka harus menghadiri undangan tersebut untuk menghormati pimpinan Surendra India.
Tepat pukul sepuluh malam Fajrin masuk ke kamar hotel yang dia sewa, seluruh badannya terasa lengket dan kotor. Fajrin meletakkan tas punggungnya di sebuah sofa dan melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri juga wudhu, selesai Sholat seperti biasa Fajrin akan berdzikir dan berdoa. Setelah urusan pribadinya selesai Fajrin mengambil ponselnya untuk menghubungi Divya karena Fajrin belum mengingatkan Divya untuk sholat Isya'.
Empat kali nada dering Divya belum mengangkat panggilan Fajrin, Fajrin merasa bersalah karena sudah tidak menepati salah satu isi kontrak. Karena tadi di perjalanan ponsel Fajrin hanya memiliki daya tidak lebih dari dua puluh persen dan saat ini posisi ponsel Fajrin sedang di charge. Fajri tetap berusaha menghubungi Divya dengan menakan tombol loudspeaker sambil Fajrin menyiapkan pakaian yang akan dia pakai besok. Selama kurang lebih empat kali Fajrin mencoba menghubungi Divya tapi tetap tidak mendapat jawaban.
“ apa dia sudah tidur? Atau masih ada jadwal pemotretan? Salahku juga... kenapa tadi siang lupa mengisi daya ponsel.” Gumam Fajrin sambil menekan lagi nomor Divya dan menekan tombol loudspeaker.
Setelah menunggu beberapa kali panggilan akhirnya pada panggilan ke delapan dan pada nada dering ke lima panggilan Fajrin di angkat.
“ Assalamu'allaikum, Divya “ salam Fajrin tapi tidak mendapat balasan dari Divya.
Fajrin menarik nafas panjang dan duduk di sofa.
“ Divya, Assalamu'allaikum “ salam Fajrin sekali lagi.
“ Wa'alaikumsalam kak.... “ balas Divya dengan suara yang terdengar sangat malas menurut Fajrin, padahal di ujung sambungan Divya sangat kegirangan mendapat telepon dari Fajrin.
“ kamu kenapa? Sakit? Atau sudah tidur? Maaf tadi ponsel kakak dayanya tinggal dua puluh persen.... tadi habis menelpon kamu untuk sholat Magrib langsung mati ponsel kakak..... ini juga masih kakak charge “ jelas Fajrin berusaha memberi pengertian Divya seperti saat dirinya berusaha memberi pengertian pada Nara.
“ Divya kira kakak sudah mulai bosan menghubungi Divya..... “ suara Divya terdengar jelas seperti sedang merajuk.
“ tidak.... kakak tidak akan bosan menelponmu “ ucapan Fajrin yang terdengar tenang seperti berusaha menenangkan Nara yang cemberut membuat Divya di ujung sambungan meloncat kegirangan.
Pada awalnya Divya merajuk karena Fajrin tidak menenuhi persyaratan kontrak yang dia ajukan sendiri, tapi saat mendengar nada deringnya berbunyi seketika hilang sudah merajuknya. Tapi Divya ingin tahu bagaimana usaha Fajrin untuk menenangkan dirinya, jadi Divya tetap berpura-pura merajuk.
“ benar..... kakak tidak akan bosan menelpon Divya? Kakak jangan bohong “ suara Divya masih terdengar merajuk bagi Fajrin tapi sebaliknya Divya semakin kegirangan karena berhasil membuat Fajrin merasa bersalah.
“ demi ALLAH kakak tidak akan bosan menghubungi kamu.... sudah puas?” ucap Fajrin yang mulai merasa kalau saat ini seperti sedang merayu Nara yang sedang merajuk padanya.
“ kalau begitu tunggu Divya wudhu dulu.... jangan dimatikan teleponnya.” Ucap Divya dengan girang.
“ iya.... sudah sana wudhu.... kakak tunggu “ ucap Fajrin santai tapi sudah cukup membuat Divya berjalan kegirangan masuk ke kamar mandi untuk wudhu.
“ apa anak bungsu sifatnya sama semua ya.... “ gumam Fajrin yang mulai mencari kesamaan antara Nara dan Divya.
“ kak..... Divya sudah siap “ suara Divya membuyarkan lamunan Fajrin.
Fajrin mulai membimbing bacaan sholat, Divya pelan-pelan sudah mulai hapal apa saja yang harus dia baca di setiap gerakan sholat. Selesai sholat sebelum melepas mukena.
“ kak..... jangan tutup dulu ponselnya “ pinta Divya membuat Fajrin tidak jadi mengucap salam.
“ ada apa? “ tanya Fajrin heran.
“ sebentar Divya lipat mukena dulu “ ucap Divya sambil melipat mukena dan meletakkan di pinggir ranjang.
Setelah selesai meletakkan mukena, Divya duduk di pinggir ranjang dan melepas earphone serta menekan tombol loudspeaker ponselnya.
“ kakak.... harus memberi Divya kompensasi sebagai ganti kakak terlambat menghubungi Divya “ pinta Divya dengan suara manja.
“ kamu mau kompensasi apa? “ tanya Fajrin yang sudah tidak bisa memikirkan apa kompensasi untuk Divya.
“ besok kakak harus kesini..... kita kencan “ permintaan Divya membuat Fajrin terkejut.
“ kencan? “ tanya Fajrin heran.
“ iya..... kakak tidak tahu apa itu kencan? “ tanya yang terdengar mulai merajuk.
“ kakak tahu.... kamu mau kemana? Kakak tidak tahu kota ini..... begini saja bagaimana kalau kakak sudah pulang ke Jakarta saja.... kakak akan temani kamu jalan-jalan? “ ucap Fajrin berusaha memberi pengertian Divya.
“ tidak mau.... nanti pasti kakak lupa sama kompensasi hari ini “ suara Divya mulai terdengar merajuk lagi.
Fajrin menarik nafas panjang mulai memikirkan apa kompensasi yang bisa dia berikan pada Divya, dia kehabisan ide berpikir keras apa yang kira-kira akan Dipta lakukan bila Divya merajuk seperti ini. Karena Divya tidak mendengar suara Fajrin, Divya mulai bingung kalau Fajrin mengabaikan sambungan telepon ini.
“ kak....... kak Fajrin..... kak Fajrin mengabaikan Divya ya.....” suara Divya membuat Fajrin tersadar dari lamunannya memikirkan apa yang bisa dia beri sebagai kompensasi keterlambatannya menghubungi Divya.
“ tidak.... kakak tidak mengabaikanmu.... begini saja beri kakak waktu sampai besok pagi, setelah sholat shubuh kakak akan putusan kompensasi dari kesalahan kakak hari ini..... bagaimana? “ ucapan Fajrin membuat Divya tersenyum lebar karena berhasil membuat Fajrin memikirkan kompensasi untuk dirinya.
“ baiklah.... Divya tunggu sampai besok pagi... Assalamu'allaikum “ salam Divya dan membuat Fajrin sedikit tersenyum karena Divya mulai bisa mengakhiri panggilan daan mengucap salam dulu.
“ Wa'alaikumsalam “ balas Fajrin dan memutus sambungan.