
Divya menarik nafas panjang menguatkan hatinya mendengar ucapan Azkar yang membuatnya merasa ada sesuatu yang menusuk dadanya.
“ aku mencintai kak Fajrin “ ucap Divya pelan membuat Helen memandang suaminya dengan heran.
“ apa yang tadi kamu bilang...... kami tidak bisa mendengarnya dengan jelas “ suara tegas Azkar kembali membuat Divya merinding.
Divya kembali menarik nafas panjang dan menatap Helen juga Azkar dengan menahan emosi.
“ aku.... Divya Prakhas Lohia sangat mencintai Kak Fajrin “ ucap Divya dengan suara lantang dan tegas.
“ hahahahahaha.... aku tanya serius kenapa kamu mengatakannya seperti sebuah ikrar? “ Divya lemas mendengar respon Azkar yang menurutnya terkesan seperti sedang menjahili dirinya.
“ kalau misalkan Fajrin memintamu untuk memilih antara ķarir dan..... “ ucapan Helen terhenti karena Azkar memberi isyarat tangan agar Helen jangan melanjutkan ucapannya.
“ karir dan apa? “ tanya Divya heran.
Azkar dan Helen saling melihat seperti berbicara dengan mata mereka.
“ pilihan antara karir dan keluarga “ ucapan Azkar seketika membuat Divya lemas.
Divya tahu arti keluarga yang saat ini dia miliki dan Divya paham betul bahwa ambisi dari karirnya adalah menjadi salah satu model Victoria’s Secret.
“ kamu pasti sudah tahu bagaimana keseharian Fajrin selama di India..... saya melihat kalau kalian pernah menghabiskan waktu dengan rekan-rekan Fajrin.... dan saya yakin saat Fajrin berkunjung di apartemen kamu dia tidak mau hanya berdua denganmu pasti ada rekan kamu yang lain “ ucapan yakin Helen membuat Divya kembali mengingat kebersamaannya dengan Fajrin yang tak pernah bisa hanya berdua saja kecuali saat Divya menimpanya.
“ hal penting yang harus kamu pahami dari Fajrin.... keluarga adalah segala-galanya bagi dia.... dia akan melakukan apa saja demi membahagiakan keluarganya meski pun menjadikan kaki sebagai kepala dan kepala sebagai kaki “ jelas Azkar semakin membuat Divya tertegun.
“ sekali lagi saya tanya.... apa kamu yakin bahwa rasa yang kamu miliki saat ini adalah rasa cinta atau hanya rasa kagum pada sosoknya yang menawan? “ pertanyaan tegas Helen membuat Divya merasa bimbang.
Divya takut bila keputusannya salah dan semakin membuatnya terpuruk dengan masa lalu.
Divya menganggukan kepala dan mengatakan.
“ I love him so much.... please help me to make him see me as a woman not as a little sister (aku sangat mencintainya..... tolong bantu aku membuatnya melihatku sebagai wanita bukan sebagai adik) “ pinta Divya dengan mata berkaca-kaca.
Helen menjadi tidak tega melihat Divya, Azkar menyandarkan punggungnya di sandaran sofa menatap Divya tidak percaya karena Azkar melihat ada rasa putus asa, kecewa, juga sedih di mata Divya.
“ baiklah saya akan mencoba membantumu tapi apa yang saya katakan nanti...... semua kembali kepadamu apa kamu melakukannya demi Fajrin atau demi dirimu sendiri “ ucapan Helen sekali lagi membuat Divya bingung.
“ apa yang harus Divya lakukan? “ Divya penasaran dengan ucapan Helen.
“ kami sudah paham bagaimana hubunganmu dengan om Davis kamu..... aku sudah menceritakan semua pada Fajrin juga istriku? Fajrin mencari tahu itu beberapa waktu lalu dan jujur dia sempat terkejut tapi dia memiliki berbagai pemikiran kenapa papi kamu melakukan hal itu.... aku sendiri tidak tahu kenapa om Davis berbuat seperti itu. Aku hanya menceritakan apa yang aku tahu saja.... selebihnya terserah Fajrin bagaimana melihat dari sisi kamu mau pun dari sisi papi kamu. “ penjelasan Azkar membuat Divya mengingat ucapan Fajrin bahwa Divya harus memperbaiki hubungannya dengan Davis.
Divya terdiam memikirkan apa saja yang sudah Davis lakukan padanya, tapi tak satu pun hal terlintas di benaknya apa saja yang sudah Davis lakukan untuk dirinya.
“ papi tidak pernah ada di saat Divya membutuhkan papi “ ucap Divya sedih.
“ apa kamu sudah menanyakan alasan kenapa papi kamu tidak pernah ada di sisimu? “ pertanyaan Helen membuat Divya melihat kedua mata Helen dalam-dalam.
“ ingat apa yang tadi sudah aku katakan..... bagi Fajrin.... keluarga adalah segala-galanya “ ucap Azkar sambil mengeluarkan ponselnya untuk mengetik sesuatu.
Divya terdiam dan merebahkan tubuhnya di sofa.
“ jangan tidur disini.... tidur di kamar tamu sana.... nanti Afkar datang melihat kamu tidur disini bisa di siram air dingin sama dia “ ucapan tegas Azkar membuat Divya melangkah masuk ke kamar tamu dengan lemas.
Divya menatap langit-langit kamar tamu memikirkan bagaimana dia memperbaiki hubungan dengan Davis, karena lelah memikiran itu akhirnya Divya tertidur.
Siang hari Divya terbangun dan segera keluar kamar mendapati Azkar sedang berbicara serius dengan Afkar. Dua pria yang dia kenal sangat dingin cuek dan sombong, Afkar bahkan sama sekali tidak melihat atau merasa terganggu dnegan kehadiran Divya.
“ bang.... Divya pulang dulu “ ucqp Divya buru-buru mencari helen.
“ Ust..... Ustadzah.... “ teriak Divya mencari Helen.
“jangan teriak-teriak.... istriku ada di taman belakang “ ucap Azkar tegas.
“ dasar anak manja “ gumam Afkar membuat Azkar tersenyum.
“ jangan begitu.... nanti kamu punya istri yang lebih manja dari dia..... tahu rasa kamu. “ Afkar tersenyum sinis menanggapi ucapan Azkar.
Divya menatap pintu gerbang kediaman papinya dengan perasaan campur aduk, antar gengsi takut sedih benci juga menolak keberadaan Davis.
“ Divya buang jauh-jauh rasa benci ini supaya bisa mendapatkan hati kak Fajrin “ gumam Divya dalam hati menyemangati diri sendiri.
Divya menekan bel pintu, beberapa detik kemudian keluar seorang pengawal melihatnya dengan heran. Tanpa memperdulikan tatapan mata pengawal itu, Divya melangkah melewatinya. Pengawal itu masih tidak percaya dengan yang dia lihat hingga beberapa detik kemudian sadar dan segera menghubungi pengawal yang lain untuk memberi tahu keberadaan Divya.
Divya berdiri di depan pintu rumah dan menatapnya dalam mencoba menguatkan diri. Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba Jason sudah membukanya.
“ selamat datang nona “ salam Jason membuat Divya tidak suka.
“ mana papi? “ tanya Divya dengan suara tegas meski pun kedua tangan dan kakinya terasa dingin.
“ silahkan “ ucap Jason dan menunjukan keberadaan Davis.
Saat Jason hendak mengetuk pintu, Divya memberi isyarat tangan agar Jason menjauh. Divya membuka pelan pintu ruang kerja Davis, melihat Davis yang sedang membaca beberapa berkas.
“ Assalamu'allaikum “ salam Divya membuat Davis terkejut dan melepas kaca mata baca yang dia kenakan.
Berusaha tersenyum melihat respon Davis.
“ pi.... salam Divya kenapa tidak di balas? Papi lupa cara menjawab salam? “ tanya Divya sambil mendekati Davis yang masih tertegun melihat sosok Divya saat ini.
Hanya sebuah meja yang saat ini menjadi jarak antara ayah dan anak, Davis berdiri dari kursi melangkah mendekati Divya dan menatapnya dalam-dalam. Tanpa Divya duga, seketika Davis berlutut di hadapannya.