My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 70 KEJUTAN



Seperti biasa Fajrin menghubungi Divya untuk membangunkannya sholat shubuh dan sesuai janji Fajrin tadi malam, Fajrin memutuskan akan mengajak Divya menghadiri undangan pimpinan Surendra India. Meskipun pada awalnya Fajrin ragu mengingat pasti banyak tamu undangan dari kalangan ekonomi kelas atas yang menghadiri acara tersebut.


Selesai membimbing Divya sholat shubuh, Fajrin memutuskan sambungan telepon karena seseorang mengetuk pintu kamarnya. Fajrin melihatnya sesaat dari lubang kecil di pintu dan membukanya ternyata salah seorang staff Surendra India membawakannya sebuah jas.


“ Sorry to interrupt, here is something from Mr. Krishna for you to weae at the event (maaf mengganggu, ini ada sesuatu dari pak Krishna untuk bapak pakai di acara nanti) “ ucap staff tersebut dan menyerahkan apa yang dia bawa.


“ thanks (terima kasih) “ ucap Fajrin dan orang tersebut pergi menjauh dari kamar Fajrin.


Seketika Fajrin mempunyai ide dan segera mengirim sebuah pesan pada Divya.


Divya yang sedang bersantai menikmati pemandangan langit pagi kota New Delhi tiba-tiba di kejutkan oleh suara pesan masuk dari Fajrin, segera saja Divya berlari ke kamar dan membaca pesan dari Fajrin.


“ aaaaaaa....... kak Fajrin akan kesini “ teriak Divya terkejut kegirangan saat membaca pesan Fajrin.


Tapi Divya belum membaca keseluruhan isi pesan Fajrin, sesaat kemudian Divya tersadar dari kegirangannya dan membaca lagi isi pesan dari Fajrin.


“ o my God..... nanti jam sembilan kak Fajrin akan menjemput Divya? “ gumam Divya mulai bingung mencerna isi pesan dari Fajrin.


“ wait..... Jaipur.... New Delhi butuh waktu empat jam lebih untuk kesini.... kalau jam sembilan kak Fajrin menjemput Divya..... berarti tadi Shubuh kak Fajrin sudah ada di New Delhi...... aaaaa “ teriak Divya dengan terkejut tidak percaya dan tidak mampu memikirkan keberadaan Fajrin saat ini.


Otak Divya tak mampu memikirkan keberadaan Fajrin saat ini membuatnya mengabaikan itu dan mulai panik memilah pakaian apa yang harus di pakai karena isi pesan Fajrin menyebutnya akan mengajak ke acara formal rekan kantornya.


Divya segera berlari keluar unitnya dan mengetuk pintu unit Elena juga Liam bergantian, saat Elena dan Liam keluar dengan muka bantal bukannya membuat Divya tertawa tapi semakin membuat Divya panik.


“ you’ve to help me..... at nine o'clock he will pick me up (kalian harus membantuku..... jam sembilan kak Fajrin akan menjemputku) “ ucap Divya sambil menarik tangan kiri Elena juga tangan kanan Liam.


Elena juga Liam masih bingung dengan ucapan Divya karena sepengetahuan mereka berdua posisi Fajrin saat ini pasti masih di Jaipur. Divya menarik mereka berdua masuk ke unitnya dan menunjukkan pesan Fajrin, seketika Elena melihat Liam begitu juga dengan Liam melihat Elena dengan tatapan bingung.


“ you guys don't be quiet..... this is truely his message..... help me choose clothes to go with him (kalian jangan diam saja..... ini benar pesan dari kakak Fajrin..... bantu aku memilih pakaian untuk pergi dengan kak Fajrin) “ ucap Divya mulai terdengar panik.


“ are you sure this message is really from him (kamu yakin ini Fajrin yang mengirim pesan)? “ tanya Elena meyakinkan Divya.


“ sure..... this is his mesage (iya... ini pesan dari kak Fajrin) “ ucap Divya yang mulai mengeluarkan satu persatu gaunnya dan memperlihatkan pada Elena juga Liam.


Elena menggelengkan kepala dan Liam menggaruk kepalanya meskipun tidak gatal karena baru kali ini melihat Divya panik karena akan bertemu dengan seorang pria yang menurut Liam jauh dari kriteria yang di harapkan Davis papi Divya.


“ how about this (kalau ini bagaimana)? “ tanya Divya sambil menempelkan sebuah gaun berwarna tosca dengan potongan leher rendah dan backless.


“ Liam, don't you dare to go stay here (Liam, jangan pergi kamu tunggu disini) “ teriak Divya saat melihat Liam hendak melangkah keluar dari unit Divya.


“ all my gown is like this..... do you have any of gown that I can wear (semua gaun yang aku miliki seperti ini.... apa kamu ada gaun yang bisa aku pakai) “ suara Divya semakin panik.


“ can you be calm down dan hold your self (bisakah kamu diam sebentar dan kuasai dirimu) “ ucapan Elena membuat Divya terdiam


Untuk beberapa menit kedepan Divya diam dan terduduk di sofa memandang wajah Elena yang mulai serius memikirkan sesuatu, beberapa detik kemudian dengan isyarat tangan Elena memanggil Liam untuk mendekat.


“ you go take the gown, I’ll send you the address (kamu pergi ambil gaun, nanti alamatnya aku kirim) “ ucap Elena yang sudah keluar dari unit Divya.


Beberapa menit kemudian Elena kembali masuk ke unit Divya sambil berbicara dengan seseorang di ponselnya.


“ aku sudah mendapatkan gaun untukmu.... dan hari ini aku ingin seharian bersantai, aku tidak mau menjadi lalat di sekitar kalian berdua... kamu ajak saja Liam “ ucap Elena sambil melangkah ke dapur untuk mengambil segelas air.


Setelah menunggu kurang lebih selama satu jam akhirnya Liam datang dengan membawa sebuah gaun pesta berwarna peach yang terdiri dari sebuah rok panjang hingga menutup kaki dan sebuah blus dengan potongan leher scoop.


“ kamu pakai ini untuk kencan pertama kalian.... dan bawa Liam untuk jaga-jaga kalau orang-orang Rohit ingin mencelakaimu lagi “ bisik Elena sambil menyerahkan gaun pesta dari tangan Liam.


Divya mulai sibuk mempersiapkan diri menunggu kedatangan Fajrin, Joana membantunya memakai make up dan menata rambut Divya. Tepat pukul sembilan seseorang menekan bel unit Divya.


“ do I look pretty? Are you sure that this gown is worthy? Are you sure that he will like my looks (apa aku sudah cantik? Kamu yakin ini masih terlintas pantas aku pakai? Kamu yakin kak Fajrin akan menyukai penampilan?) “ berbagai pertanyaan yang Divya ucapkan membuat Elena hanya bisa menganggukan kepala dan menunjukan kedua ibu jarinya.


Liam membuka pintu untuk Fajrin dan mempersilahkan masuk.


“ is Divya ready (apa Divya sudah siap)? “ tanya Fajrin pada Liam yang kembali berjaga di ruang tengah


“ Miss Divya will be out soon (sebentar lagi nona Divya keluar) “ jawab Liam singkat.


Setelah menunggu kurang lebih lima menit Divya keluar dari ruang make up, Fajrin yang menunggu dengan duduk di sofa menyadari kehadiran Divya segera berdiri dan melihat Divya dari bawah hingga wajah tidak lebih dari tiga detik


“ do you have any of gloves for Divya to wear (apa kalian tidak mempunyai sarung tangan untuk Divya pakai)? “ pertanyaan Farjin membuat Elena juga Joana saling melihat satu sama lain.


“ wait a minute, looks like Derek kept some gloves (tunggu sebentar, sepertinya Derek menyimpan beberapa sarung tangan) “ ucap Joana dan segera keluar dari unit Divya.