
Indera pengecap Fajrin menyusuri setiap kulit mulus Divya meninggalkan beberapa tanda, tangan kanannya yang sangat aktif membelai setiap inchi kulit Divya membuat pemilik kulit tak henti-hentinya memanggil Fajrin dengan sebutan ayang. Hingga tanpa Divya sadari kemeja yang dia kenakan sudah tergeletak di lantai dan indera pengecap Fajrin sudah berada di bagian bawah dari otot external oblique mendekati area genital. Fajrin tersenyum dan menahan nafas melihat apa yang sudah menjadi haknya, melihat wajah Divya yang sudah terbuai dan sepertinya tidak bisa lagi menahan sesuatu yang ingin dia keluarkan. Indera pengecap Fajrin kembali memanjakan area genital Divya, sesaat kemudian tubuh Divya bergetar membuat Fajrin semakin bersemangat memanjakan area genital dengan indera pengecapnya
“ ayaaaang..... “ teriakan tertahan Divya membuat Fajrin tersenyum tipis melihatnya.
Divya mengatur nafas peluh membasahi dahi juga lehernya, Fajrin melepas satu-satunya kain yang masih menutupi aset berharganya. Di saat Divya sudah menguasai nafasnya, sedikit memperhatikan aset berharga Fajrin yang akan menembus pertahanan terakhirnya membuat Divya sedikit merasa takut dengan ukuran yang di luar pemikiran.
“ ayaaang..... pelan-pelan “ rengek Divya membuat Fajrin tersenyum sambil memposisikan dirinya tepat berada di antara kedua kaki jenjang Divya.
Dengan perlahan Fajrin mencoba mengikis jarak dengan Divya, membuat Divya terasa tersengat sesuatu saat Fajrin menyentuh dan berusaha membuka miliknya. Dengan perlahan Fajrin menekan masuk dan sesekali tangan kirinya membelai otot rectus oblique Divya karena terlihat jelas sorot mata Divya yang seperti menahan suatu rasa. Dengan satu anggukan kepala dari Divya, Fajrin menekan lebih dalam hingga merasakan lapisan hymen.
“ aaaaaa...... sakit....“ teriakan tertahan Divya membuat Fajrin berhenti bergerak.
Membiarkan Divya terbiasa dengan kehadirannya dan dengan perlahan sedikit menarik diri melihat apa yang sudah dia lakukan. Fajrin tersenyum melihat suatu warna yang menempel pada dirinya dan kembali menekan lebih dalam membuat Divya kembali menahan teriakkannya, dengan perlahan Fajrin mulai bergerak membuat Divya kembali memanggil dirinya.
Tidak butuh waktu lama bagi Fajrin untuk membuat Divya mengeluarkan apa yang dia tahan dan setiap kali Divya mencapainya setiap kali itu pula Divya akan sedikit berteriak dan meremas lengan Fajrin.
Pergulatan pertama bagi mereka meski pun ini bukan pertama kalinya Fajrin melihat kulit polos wanita, karena kenakalan Roby kejahilan Syafril juga ilmu dari Azkar membuat Fajrin memahami setiap titik yang menjadi area sensitive Divya. Melihat dan merasakan sendiri beberapa kali Divya meremas otot-otot lengannya membuat Fajrin semakin merasa kecanduan untuk membuat Divya kembali meremas kedua lengannya.
Peluh membasahi kedua kulit mereka, dinginnya ruangan karena alat pendingin ruangan tidak mampu membendung keringat yang mereka keluarkan. Kulit wajah Divya yang beberapa kali memerah membuat Fajrin memahami keadaan Divya. Beberapa kali Fajrin membuat Divya mencapai puncak, sorot mata lelah Divya membuat Fajrin merasa kasihan dengan keadaan Divya yang sepertinya sudah mulai kehabisan tenaga. Farjin mempercepat pergerakannya untuk menuntaskan puncaknya.
“ Allahummaj'alnuthfatanaa dzurriyyatan thayyibah. (Ya Allah jadikanlah nutfah kami ini menjadi keturunan yang shaleh) “ gumam Fajrin pelan sambil menekan lebih dalam mengeluarkan bagian terkecil dari dirinya untuk melewati cervix dan dinding endometrium.
Membuat Divya kembali menahan teriakkannya karena merasakan bagian dari dirinya tertekan keras, untuk beberapa detik Divya merasa ada sesuatu yang memompa masuk pada dirinya. Menatap wajah Fajrin yang memerah mengeluarkan sesuatu.
“ ayang..... “ ucap Divya pelan.
“ semoga ALLAH memberikan kita keturunan yang sholeh “ bisik Fajrin sambil merebahkan tubuhnya diatas Divya.
“ I love you ayang..... “ bisik Divya membuat Fajrin menatap kedua mata dan mencium dahi Divya.
“ I love you more..... “ suara pelan Fajrin membuat Divya tersenyum bahagia.
Untuk beberapa detik mereka saling menatap satu sama lain sebelum Divya merasakan sesuatu yang bergerak perlahan keluar dari dalam dirinya.
“ Alhamdu lillaahi dzdzii khalaqa minal maa i basyaraa. (Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air mani ini menjadi manusia keturunan) “ bisik Fajrin sambil melepaskan diri.
Pergulatan yang menguras tenaga membuat mereka berdua semakin bahagia, setelah semua ujian dan cobaan datang silih berganti yang seakan-akan berusaha memisahkan mereka.
“ ayang..... ayang tahu dari mana area sensitive Divya? “ pertanyaan Divya membuat Fajrin sedikit melonggarkan pelukkannya.
Fajrin tersenyum mengingat semua apa yang Azkar juga apa yang pernah dia lihat dengan Roby dan Syafril.
“ kenapa? Suka tidak? “ tanya Fajrin balik dan sukses membuat Divya malu dan semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Fajrin.
Melihat Divya yang malu membuat Fajrin gemas dan mengeratkan kembali pelukkannya. Untuk beberapa detik mereka saling berpelukan dengan erat hanya suara detak jantung mereka berdua yang terdengar.
“ terima kasih sudah menjaga sesuatu yang paling berharga hanya untuk ayang..... “ bisik Fajrin.
“ Divya menjaga bukan untuk ayang.... tapi untuk suami Divya “ ucap Divya yang terdengar sedikit manja.
Sebelum mereka benar-benar tertidur, Fajrin tiba-tiba bangkit dari ranjang dan berjalan ke sisi ranjang Divya. Membuat Divya heran. Belum selesai keheranan Divya, Fajrin mengangkatnya membawa masuk ke dalam kamar mandi dan mendudukkannya di toilet duduk.
Divya masih menatap Fajrin dengan heran dan bertanya-tanya tapi karena Fajrin terlalu fokus membersihkan aset berharganya, membuat Divya hanya menatap Fajrin. Merasa selesai dengan aset berharganya Fajrin mendekati Divya sambil mengulurkan jet shower closet, Divya bingung dengan maksud Fajrin dan hanya menatapnya saja. Fajrin tersenyum melihat sorot mata Divya.
“ ini di bersihkan dulu..... baru kita bisa tidur “ ucap Fajrin yang sudah mengulurkan tangan kirinya di area sensitif Divya.
Membuat Divya kembali merasa tersengat karena belaian tangan Fajrin yang bercampur air dari jet shower closet membersihkan sisa-sisa pergulatan mereka. Kedua pipi Divya bersemu merah antara malu karena tidak paham maksud Fajrin dan merasa kembali tersengat. Sentuhan lembut Fajrin membuat kedua mata Divya berkabut kembali, bukan Fajrin tidak menyadari sorot mata Divya tapi tidak ingin membuat Divya lelah dan segera menyelesaikan apa yang harus dia selesaikan.
“ malam ini.... sekali saja..... sayang sudah terlihat sangat lelah..... tapi ayang tidak bisa menjamin besok-besok ayang hanya sekali meminta ini “ ucapan Fajrin membuat Divya sangat malu.
Selesai membersihkan haknya, saat Fajrin hendak kembali mengangkat Divya. Divya memberi isyarat tangan.
“ yakin bisa jalan sendiri “ Divya menganggukan kepala menjawab ucapan Fajrin.
Divya pelan-pelan bangkit dari toilet jongkok dan mencoba melangkah tapi belum satu langkah sempurna, kedua tangan Divya memegang hak Fajrin seperti menahan nyeri. Fajrin tersenyum dan dengan sigap mengangkat Divya.
“ kalau masih sakit bilang.... jangan malu-malu..... ayang sudah melihat semua..... mungkin juga sayang tidak pernah tahu kalau ada tahi lalat kecil di hak ayang “ ucapan Fajrin membuat Divya malu karena benar apa yang Fajrin katakan.
Meski pun Divya pernah menjadi model pakaian renang two piece dan harus melakukan waxing di area genital, tapi orang yang membantu Divya waxing tidak pernah mengatakan akan keberadaan tahi lalat kecil tersebut.
Merasa berhasil membuat Divya malu, Fajrin semakin gemas dan mencium dahi Divya.
“ kenapa malu...... semua ini sudah halal bagi ayang..... “ ucap Fajrin sambil meletakkan Divya di ranjang.