
Penerbangan 15 jam, waktu yang cukup untuk mengistirahatkan kedua matanya yang terasa pedih karena lembur dan karena air mata. Tepat pukul 7 malam private jet Sundth air mendarat di bandara Gardermoen Oslo, Fajrin yang baru pertama kali menginjakkan kaki setelah belasan tahun meninggalkan Oslo seperti merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Saat kru Sundth air mengantarnya ke area imigrasi, Fajrin menyalakan ponselnya untuk menghubungi Barra.
Barra merasa kecewa dengan sikap Afkar pada Nara yang tidak terbuka dengan permasalahannya, memilih keluar dari ruang rawat inap Nara dan duduk di ruang tunggu. berkali-kali Barra menyisir kasar rambutnya, memikirkan berbagai kemungkinan kenapa Afkar tidak terbuka pada Nara. Saat otaknya sibuk dengan berbagai kemungkinan itu, tiba-tiba ponselnya berdering.
“ nomor siapa ini? “ ucap Barra sambil melihat layar ponselnya.
Barra sedikit ragu menerima panggilan telepon itu, Barra juga belum berpikir bahwa itu bisa jadi nomor ponsel Fajrin selama di Oslo. Belajar dari pengalaman sebelumnya saat berada di Bergen, sepulang dari Bergen Fajrin menambahkan layanan roaming international continental pada nomor ponselnya.
“ hallo “ ucap Barra ragu.
“ Assalamualaikum..... aku sudah di bandara Oslo.... bisakah kamu menjemputku sekarang “ ucapan Fajrin membuat Barra tidak percaya dan sekali lagi melihat nomor yang tertera di layar ponselnya.
“ ini nomor sini..... kapan dia beli nomor sini kalau dia baru sampai? “ gumam Barra dalam hati sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“ Barra..... bisa tidak kamu jemput aku “ suara keras Fajrin membuyarkan lamunannya.
“ iya bisa... sebentar “ ucap Barra dan memutus sambungan telepon.
Barra segera menunju ke bandara Gardermoen menjemput Fajrin, sampai di bandara Barra mencari sosok Fajrin di setiap orang yang berdiri menunggu orang yang menjemputnya.
“ mana dia.... apa dia ada disana...... bisa jadi “ gumam Barra sambil mengendari mobil dengan pelan dan menajamkan matanya.
Saat mobil sudah mendekati area VIP terlihat sosok Fajrin yang terlihat jelas sangat gelisah.
“ itu dia.... oooo dia naik Sundth air.... “ gumam Barra dan menghentikan mobil tak jauh dari Fajrin.
Fajrin yang terlihat jelas gelisah juga frustrasi, melihat Barra yang turun dari mobil segera saja Fajrin melangkah dengan lebar mendekati Barra.
Fajrin segera memeluk Barra.
“ jangan begini..... nanti kita di kira penyuka sesama jenis “ canda Barra mencoba membuat Fajrin sedikit tersenyum.
Fajrin segera melepas pelukkannya dan memukul lengan Barra.
“ bercanda..... jam berapa dari jakarta? “ tanya Barra sambil meraih koper Fajrin.
“ siang..... bagaimana adik? Kenapa tidak memberi kabar? Sekarang adik sama siapa? “ pertanyaan panjang Fajrin membuat Barra menggelengkan kepala dengan heran.
“ satu-satu pertanyaannya..... ayo masuk dulu.... aku antar kamu ke rumah sakit.... sudah makan malam belum? “ ucap Barra sambil mendorong pelan Fajrin untuk masuk ke mobil.
“ pertanyaanku belum kamu jawab..... “ ucap Fajrin yang sudah duduk di kursi samping kemudi.
Barra berjalan memutar dan duduk di kursi belakang kemudi. Fajrin yang terlihat semakin tidak tenang karena Barra belum menceritakan semua.
“ jangan melihatku seperti itu.... aku akan ceritakan semua tapi tidak disini.... kita cari makan malam dulu..... dari siang aku belum makan..... pasti yang lain juga belum makan malam. “ ucap Barra sambil menyetir mobil.
Karena Fajrin masih menatapnya tanpa berkedip, akhirnya Barra menceritakan keadaan Nara saat ini.
“ pasti ada sesuatu yang membuatnya lalai menjaga adik.... aku harus tahu dulu alasan itu sebelum aku memukulnya..... kalau alasan dia karena maksiat..... aku akan habisi dia.... adik akan aku bawa pulang saja.... tapi kalau bukan karena maksiat...... kenapa aku memukulnya “ ucap Fajrin membuat Barra menepuk bahu kiri Fajrin.
Setelah masuk kota Oslo, Barra mengarahkan mobilnya menuju sebuah restauran cepat saji.
“ kita makan sebentar di sini “ ucap Barra yang sudah keluar dari mobil.
Mau tak mau Fajrin mengikuti langkah Barra dan duduk di sebuah kursi. Barra memesan beberapa menu makanan dan beberapa menit kemudian kedua tangannya sudah membawa nampan penuh dengan dua burger ukuran sedang, 1 porsi besar kentang goreng dan 2 botol cola.
“ halal? “ pertanyaan Fajrin membuat Barra menunjukkan tulisan arab di sebuah papan menu.
Fajrin menganggukan kepala dan meraih 1 buah burger.
Selesai makan, Barra menceritakan semua mulai dari bagaimana dia kesulitan masuk ke rumah Afkar, bagaimana keadaan Nada saat pertama kali menemukan Nara, siapa yang mengarahkan dirinya membawa Nara ke rumah sakit, hingga Nara membutuhkan donor darah AB rhesus negatif. Fajrin mendengar cerita Barra tanpa menyela sedikit pun dan terlihat mengerutkan kulit di antara kedua alisnya. Barra juga menceritakan bagaimana keadaan Afkar saat sampai di rumah sakit, sekacau apa Afkar saat melihat keadaan Nara
“ jadi Afkar sendiri yang mendonorkan darahnya untuk adik? “ tanya Fajrin meyakinkan cerita Barra.
“ yang aku heran kenapa Afkar tidak terbuka pada Nara kalau di perusahaannya ada masalah “ ucap Barra sambil menghabiskan cola.
“ mungkin dia tidak mau menambah beban pikiran adik..... tapi yang pasti aku sudah tenang ternyata Afkar tidak melakukan hal-hal yang maksiat. “ ucap Fajrin yang mulai terlihat tenang.
Barra menganggukan kepala sependapat dengan Fajrin.
“ bisa jadi adik tidak menceritakan keadaan janinnya pada Afkar...... karena kemungkinanan adik tahu permasalah yang Afkar hadapi..... dan adik tidak mau menambah beban pikiran Afkar “ ucap Fajrin mencoba menganalisa dari sisi Nara.
“ bisa jadi..... “ jawab Barra singkat sambil menerima 2 kantung kertas besar pesanannya.
Fajrin menatap Barra heran.
“ buat para pengawal juga Nara sama Afkar.... mereka pasti juga belum makan malam “ ucap Barra sambil menyerahkan dua kantung kertas pada Fajrin.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Fajrin masih memikirkan beberapa kemungkinan kenapa Nara tidak memberi tahu tentang keadaan janinnya pada Afkar dan kenapa Afkar tidak berada di samping Nara saat Nara mengalami kontraksi.
Sampai di rumah sakit, Barra melihat seorang pengawal Nara dan menyerahkan satu kantung besar pada pengawal itu.
“ middagen din.....takk for at du tok vare på søsteren vår (makan malam kalian..... terima kasih sudah menjaga adik kami) “ ucap Barra membuat pengawal itu segera menerima kantung tersebut dan sedikit membungkukkan badan memberi hormat pada Fajrin juga Barra.
Di depan ruang rawat inap Nara, sekali lagi Fajrin melihat 4 orang pria dan 1 orang wanita berpakaian sama.
“ mereka pengawal Afkar? “ bisik Fajrin.
“ bukan.... lebih tepatnya pengawal Nara.... dan yang duduk ini dia Lief..... asistennya Afkar “ ucap Barra keras sambil menunjuk Lief yang masih memperhatikan Tabletnya.
Saat Barra dan Fajrin masuk ruang rawat inap mereka hanya melihat Afkar yang terlihat bingung bagaimana merekatkan pembalut nifas pada hipster Nara.
Sejujurnya Afkar sedikit terkejut melihat Fajrin berada di ruang rawat inap ini, tapi hanya sesaat saja karena setelah itu Afkar langsung paham siapa yang mendukung Fajrin bisa ke Oslo dengan cepat.